Ilustrasi IHSG (Photo: ANTARA)
USAI berhasil membukukan gerak naik konsisten sepanjang sesi perdagangan pekan lalu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia tentu rentan untuk mengalami koreksi pada sesi perdagangan pekan Ini. Namun sejumlah faktor internal domestik maupun international terlihat masih cukup bersahabat.
Pantauan menunjukkan IHSG yang berhasil membukukan gerak positif yang konsisten dan signifikan dalam 12 hari sesi perdagangan terakhir. IHSG bahkan tercatat telah melonjak 7,8% dalam periode tersebut dan hanya mengalami dua kali koreksi minor. Menutup sesi pekan lalu, Jumat 5 Juli 2024, IHSG berhasil menginjak posisi 7.253,37 setelah menguat moderat 0,45%.
Gerak naik moderat tersebut sangat mungkin mencerminkan investor yang mencoba mengantisipasi optimisme di Wall Street. Situasi ini secara teknikal tentu saja rentan untuk memantik potensi koreksi di sesi perdagangan sepanjang pekan ini. Namun sejumlah sentimen yang tersedia hingga kini terlihat masih belum terlalu mengkhawatirkan.
Oleh karenanya investor diperkirakan masih terjebak dalam keraguan untuk mengambil posisi terlebih di awal sesi perdagangan hari ini, Senin 8 Juli 2024. Sentimen positif masih mengandalkan rilis data nfp (non-farm payroll) pada Jumat malam waktu Indonesia Barat lalu, di mana perekonomian AS berhasil menambahkan tenaga kerja sebesar 206.000.
Meski rilis data tersebut diimbangi oleh angka pengangguran yang naik tipis menjadi 4,1%, investor di bursa Wall Street berkukuh menyambut optimis. Sikap optimis investor terlihat dari seragamnya kenaikan Indeks Wall Street dalam menutup sesi perdagangan pekan lalu.
Pelaku pasar berkeyakinan, rilis data tersebut akan mengukuhkan langkah The Fed, Bank Sentral AS, untuk menunda terlebih dulu penurunan suku bunga yang kini berada di kisaran 5,5%.
Laporan menunjukkan, Indeks S&P 500 yang melonjak 0,54% yang sekaligus mencetak rekor tertingginya sepanjang sejarah di 5.567,19. Gerak naik signifikan juga ditorehkan Indeks Nasdaq yang melompat 0,9% untuk terhenti di 18.352,76. Sementara indeks DJIA menguat moderat 0,17% di 39.375,87.
Sementara pantauan terkini dari Bursa Saham utama Asia pagi ini menunjukkan gerak Indeks yang cenderung melemah terbatas, dengan Indeks Nikkei (Jepang) menurun 0,11% di 40.867, Indeks ASX 200 (Australia) merosot 0,44% di 7.788, serta Indeks KOSPI (Korea Selatan) yang melemah tipis 0,03% di 2.861,4.
Dampak dari optimisme di bursa Wall Street akhir pekan lalu terlihat masih menjadi andalan pelaku pasar di Asia. Dan tentu akan menjadi bekal berharga bagi investor di Jakarta dalam membuka sesi perdagangan pagi ini. IHSG diperkirakan mencoba untuk melanjutkan gerak naik, namun pola teknikal yang ada memperlihatkan kecenderungan untuk bergerak di rentang terbatas. Tinjauan teknikal juga memperlihatkan IHSG bahkan masih membuka ruang untuk terkoreksi namun dalam rentang terbatas.
Untuk lebih jelasnya, chart berikut memperlihatkan pola teknikal IHSG yang terjebak untuk bergerak dalam rentang moderat:
Indikator MACD terlihat masih menunjukkan peluang besar IHSG untuk melanjutkan gerak naik. Namun indikator average true range (tidak terlihat pada chart) dengan jelas memperlihatkan kecenderungan untuk bergerak di rentang yang kian terbatas. Serangkaian pola teknikal Ini, akhirnya menghantarkan pada kesimpulan babes pelaku pasar yang mulai kelelahan untuk terus melonjakkan IHSG.
Namun untuk melanjutkan gerak balik koreksi, investor masih belum menemukan pijakan sentimen yang memadai. Maka bila pun terjadi gerak turun diyakini sekedar konsekuensi teknikal yang terbatas.
Pola gerak teknikal yang sedikit berbeda terlihat pada nilai tukar Rupiah, yang kini bertengger di kisaran Rp.16.274 per Dolar AS. Chart berikut menunjukkan pola teknikal Rupiah yang masih prospektif:
Absennya sentimen penting, baik domestik maupun international, pada sesi perdagangan awal pekan Ini, nampaknya akan menghasilkan kecenderungan gerak positif terbatas Rupiah dan IHSG. Perhatian investor di Bursa Saham Indonesia, barangkali akan teralihkan sentimen minor dari hasil Sidang praperadilan Pegi Setiawan, di mana sebelumnya pihak Istana mendapat sorotan akibat menolak permohonan grasi sejumlah terpidana dalam kasus terkait.
Dicurigai Ada Peran Mossad di Balik Pengalihan Tahanan Yaqut
Senin, 23 Maret 2026 | 01:38
Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius
Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08
SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?
Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43
Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?
Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59
TNI Tegas dalam Kasus Andrie Yunus, Beda dengan Polri
Sabtu, 21 Maret 2026 | 05:03
Polisi Diminta Profesional Tangani Kasus VCS Bupati Lima Puluh Kota
Jumat, 20 Maret 2026 | 00:50
Nasib Hendrik, SPPG Ditutup, 150 Karyawan Diberhentikan
Jumat, 27 Maret 2026 | 06:07
PBB Harus Bertindak Usai TNI Gugur dalam Serangan Israel
Senin, 30 Maret 2026 | 16:08
Apel Perdana Pasca Lebaran, Sekjen DPD Minta Kinerja Pegawai Dipercepat
Senin, 30 Maret 2026 | 16:06
Prajurit TNI Gugur di Lebanon, DPR: Ini Menyakitkan
Senin, 30 Maret 2026 | 16:04
Penerbangan Langsung Tiongkok-Korut Kembali Dibuka Setelah Vakum Enam Tahun
Senin, 30 Maret 2026 | 16:04
Cak Imin Kritik Cara Pandang Aparat dalam Kasus Amsal Sitepu
Senin, 30 Maret 2026 | 16:01
Pemprov DKI Segera Susun Aturan Turunan PP Tunas
Senin, 30 Maret 2026 | 15:53
Lebaran Selesai, Kemenkop Gaspol Operasionalisasi Kopdes Merah Putih
Senin, 30 Maret 2026 | 15:45
Komisi II Kulik Proker hingga Renstra KPU-Bawaslu-DKPP
Senin, 30 Maret 2026 | 15:40
Target Pengesahan RUU Hukum Acara Perdata Masih Abu-Abu
Senin, 30 Maret 2026 | 15:31
Wamenhaj RI Bahas Antisipasi Biaya dan Logistik Haji 2026 dengan Arab Saudi
Senin, 30 Maret 2026 | 15:29
Selengkapnya