Berita

Ilustrasi/Net

Politik

Data Warga di KBB Dicatut Oknum Calon Perseorangan

MINGGU, 07 JULI 2024 | 06:24 WIB | LAPORAN: AGUS DWI

Masyarakat Kabupaten Bandung Barat (KBB) tengah resah. Penyebabnya, ada upaya pencatutan data pribadi untuk kepentingan pencalonan perseorangan agar bisa maju pada pemilihan kepala daerah (Pilkada) 2024.

Pencatutan data pribadi yang dilakukan oknum anggota legislatif untuk ikut berkontestasi tersebut terungkap saat proses verifikasi faktual syarat dukungan pencalonan kepala daerah jalur perseorangan.

Pada saat proses verifikasi, didapati banyak KTP warga yang dicatut tanpa persetujuan. Sehingga warga merasa dirugikan oknum tersebut.


Warga Kampung Situ Saer RT 03 RW 01, Desa Kertamulya, Kecamatan Padalarang, Tri Retno Handayani (46), sangat kecewa sekaligus kaget. Pasalnya, KTP miliknya tidak dapat digunakan untuk mendaftar sebagai Petugas Pemutakhiran Data Pemilih (Pantarlih).

"Enggak tahu dicatut karena awalnya saya hendak mendaftar jadi Pantarlih. Kan dicek terkait keterlibatan di partai politik (Parpol). Di situ data saya aman. Tapi nama saya muncul di daftar pendukung calon perseorangan," beber Retno saat dikonfirmasi RMOLJabar, Sabtu (5/7).

Usai menemukan keanehan tersebut, Retno menuturkan, dirinya langsung datang ke Komisi Pemilihan Umum (KPU) KBB untuk menuntut data pribadinya dicabut dari daftar pendukung bakal calon bupati perseorangan.

"Karena enggak merasa mendukung oknum tersebut, saya ke KPU untuk mengadu terkait data pribadi. Saya merasa tidak mendukung, kok nama saya ada. Ke KPU saya mengadu agar nama saya dihapus dari daftar itu," tuturnya.

Diakui Retno, dirinya sangat menyesalkan aksi pelanggaran data pribadi yang dilakukan oknum tidak bertanggung jawab karena merugikan dirinya.

"Calon yang diusung saja enggak kenal. Saya tahunya pas cek NIK ada di daftar pendukung. Itu yang jadi kesal,” ungkapnya.

Selain Retno, warga Kampung Cidadap RT 02 RW 12 Desa Padalarang, Kecamatan Padalarang, Mahlusi Lismayanti (32) mengaku mengalami hal yang sama. Dirinya merasa kesal lantaran data pribadi termasuk NIK-nya diklaim sepihak masuk dalam daftar pendukung calon bupati jalur perseorangan.

"Nah, ketahuannya itu ketika saudara saya yang di Panwas nanyain tentang keterlibatan dukungan. Di situ saya kaget kok ada nama saya di daftar pendukung calon," terang Lusi.

Disebutkan Lusi, nama yang tercatut bukan hanya dirinya, tapi ada 3 nama anggota keluarganya juga yang diklaim sebagai pendukung untuk persyaratan calon bupati independen.

"Yang saya tahu ada tiga keluarga saya yang dicatut data pribadinya. Padahal kita aja enggak kenal sama calon terkait," tegasnya.

Warga lainnya asal Kampung Purabaya RT 01 RW 03, Desa Jayamekar, Kecamatan Padalarang, Riska Nur Astuti (29) yang berprofesi sebagai seorang guru honorer membeberkan, namanya masuk dalam daftar pendukung sebagai syarat bakal calon bupati independen untuk maju di Pilkada 2024. Padahal dirinya tidak tahu apa-apa dan tidak pernah bertemu dengan oknum tersebut.

"Jelas saya kaget kok tiba-tiba aja dicatut nama saya. Tidak pernah ada yang datang ke sini atau calon terkait datang ke sini pun tidak ada," imbuhnya.

Selama ini, dia memaparkan, dirinya tidak pernah terlibat dalam politik praktis selain hanya sebagai seorang guru honorer.

"Sehari-hari saya mengajar di MI sebagai guru honorer. Jadi jangankan menyertakan dukungan, ikut-ikutan politik saja tidak pernah. Jelas kesal identitas saya dicuri dan dimanfaatkan untuk kepentingan politik. Inginnya dihapus," pintanya.

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harta Zita Anjani PAN Melonjak Seribu Persen dalam Dua Tahun

Selasa, 16 Juni 2026 | 17:30

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

Ganti Rugi Lahan Belum Tuntas, Warga Medan Polisikan Developer

Minggu, 07 Juni 2026 | 01:40

UPDATE

Dialog BEM di Makassar: Gerakan Mahasiswa Harus Independen dan Berbasis Data

Rabu, 17 Juni 2026 | 20:17

DPR Apresiasi Perbaikan Haji di Era Prabowo, Antrean Jemaah Turun Jadi 26 Tahun

Rabu, 17 Juni 2026 | 20:14

KPK Soroti Nama Besar yang Muncul dalam Persidangan Kasus Bea Cukai

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:59

Polri Serius Garap Universitas Kepolisian yang Bisa Diakses Masyarakat Umum

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:42

Tiyo Ardianto dan Tradisi Panjang Anak Rakyat dalam Sejarah Pergerakan Indonesia

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:33

RUU Perkoperasian Buka Jalan Koperasi Jadi Soko Guru Perekonomian

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:25

Masyarakat Kemuning Ngadu ke BAM DPR soal Klaim Kawasan Hutan

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:21

FPHI Ultimatum OJK, Minta Kejelasan Laporan Keuangan Danantara

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:10

KPK Tagih Perbaikan Sistem MBG di Era Kepala BGN Baru

Rabu, 17 Juni 2026 | 18:56

Kinerja Bertumbuh, Pelindo Setor Rp7,81 Triliun kepada Negara

Rabu, 17 Juni 2026 | 18:50

Selengkapnya