Berita

Ilustrasi/RMOLJatim

Politik

Miris, Remaja Berprestasi di Blitar Terancam Gagal Kuliah Karena UKT

KAMIS, 27 JUNI 2024 | 11:52 WIB | LAPORAN: ACHMAD RIZAL

Meski sudah dinyatakan lolos, remaja asal Kota Blitar, RM, terancam gagal masuk perguruan tinggi negeri di Malang. Pasalnya harus membayar biaya Uang Kuliah Tunggal (UKT) sebesar Rp4.750.000 per semester.

UKT sebesar itu dinilai memberatkan bagi MW, ibu RM yang bekerja dengan penghasilan Rp2,5 juta per bulan.

"Biaya ini besar sekali. Saya tidak yakin anak saya bisa kuliah di sana," ungkap MW, seperti dikutip dari Kantor Berita RMOLJatim, Kamis (27/6).


MW berharap pihak kampus dapat menurunkan biaya UKT, sehingga anaknya tetap bisa melanjutkan pendidikan tinggi.

Menurut MW, RM temasuk siswa berprestasi di Kota Blitar. Selama sekolah hingga lulus, nilai-nilai rapornya bagus. Pernah juara lomba pidato Bahasa Inggris dan menjadi duta baca. Sekarang RM membantu mengajar di sekolah anak-anak jalanan di kotanya.

"Saya berharap anak saya bisa kuliah, ada keringanan dari kampus, seperti kakaknya yang sudah kuliah di kampus negeri lainnya di Malang," harap MW yang hanya diberi batas waktu tiga hari, tepatnya 30 Juni, untuk menyelesaikan biaya UKT.

MW mengatakan, kakak RM sebelumnya juga kuliah di perguruan tinggi negeri di Malang, tapi beda kampus. Bedanya, biaya UKT kakak RM lebih terjangkau, yakni Rp1 juta per semester.

Sebab tu MW berharap ada keringanan dari kampus. Tapi jika biaya UKT tetap tinggi, RM terpaksa harus menutup impiannya untuk kuliah.

"Ya kalau biaya UKT mahal, bagaimana lagi, kami tidak mampu," imbuh MW.

Terpisah, pegiat pendidikan di Kota Blitar, Juni Levesque, menyesalkan biaya UKT yang tinggi. Menurutnya, hal itu tidak mencerminkan sisi keadilan.

"Jika besaran UKT Rp4.750.000, ibu RM harus menyisihkan Rp800 ribu per bulan. Padahal dia single parent dan harus menghidupi dua anak. Sementara penghasilan per bulan hanya Rp2,5 juta, belum termasuk kontrak rumah sebulan Rp750 ribu, BPJS, listrik, PDAM, paket data internet, dan makan sehari-hari," katanya.

Belum lagi ibunda RM harus menyisihkan uang UKT untuk anak pertamanya yang juga kuliah di Malang, sebesar Rp200 ribu per bulan. }Intinya, biaya UKT ini sangat memberatkan orang-orang berpenghasilan rendah," kata Juni.

"Ibu ini ingin anaknya kuliah, meski tidak gratis. Dia bersedia membayar, tapi mengaku berat jika terlalu mahal," jelas pendiri sekolah anak jalanan Gang Cutin di Kota Blitar itu.

Juni pun mempertanyakan rumusan perhitungan penentuan biaya UKT yang mahal. Padahal sebelumnya, pihak kampus telah mendata mereka.

"Dari situ seharusnya mereka (kampus) tahu kalau hidupnya pas-pasan. Ini bertolak belakang dengan nasib anak lain yang kedua orangtuanya bekerja sebagai ASN, tetapi biaya UKT di kampus negeri cuma dibebani Rp3 juta. Coba, bagaimana rumusannya. Yang satu anak orang berpenghasilan rendah, satunya anak ASN. Di mana keadilannya?" kritik Juni.

Dia mengaku iba dengan nasib RM jika sampai tidak meneruskan pendidikan ke jenjang tinggi hanya karena tidak mampu membayar biaya UKT.

"Padahal tujuan pendidikan untuk memperbaiki taraf hidup seseorang menuju lebih baik. Yang terjadi kebalikannya. Mereka tidak bisa menempuh pendidikan gara-gara UKT mahal. Saya yakin kasus ini bukan satu-satunya. Saya yakin ini juga dialami banyak anak yang ingin kuliah di kampus negeri," paparnya.

Juni berharap kasus ini menjadi perhatian pemerintah, baik pusat maupun daerah. "Semoga jadi perhatian Pemkot Blitar. Ibu RM selama ini tidak pernah menerima bantuan sosial apapun, termasuk BLT, karena dianggap bukan keluarga tidak mampu," pungkasnya.

Populer

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Menteri Warisan Jokowi akan Bersih dari Kabinet Prabowo pada 2027

Jumat, 30 Oktober 2026 | 23:29

Pencopotan Agus Suparmanto dan Taj Yasin Bukan Keinginan Ketum PPP

Kamis, 29 Oktober 2026 | 11:16

Rencana Insentif MBG Rp1 Triliun Tuai Kritik dari DPR

Kamis, 29 Oktober 2026 | 15:47

Silfester Matutina Diduga Masuk List Saksi Sidang Ijazah Jokowi

Minggu, 25 Oktober 2026 | 04:00

UPDATE

Perempuan Tani HKTI Terapkan Teknologi IoT, Pangkas Penggunaan Pupuk hingga 50 Persen

Minggu, 01 November 2026 | 12:32

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

PTKIN Siapkan Langkah agar Inovasi Mahasiswa Tak Berhenti di Ajang Lomba

Minggu, 01 November 2026 | 11:56

Kloter Pertama Haji 2027 Terbang 11 April, Ini Jadwal Lengkapnya

Minggu, 01 November 2026 | 11:50

Imigrasi Sudah Cegah Ahmad Dedi ke Luar Negeri Atas Permintaan KPK

Minggu, 01 November 2026 | 11:36

Puluhan Orang Diamankan Polisi saat Gerebek Kampung Bahari

Minggu, 01 November 2026 | 11:30

Maroko Sambut Keputusan PBB Akhiri Misi MINURSO di Sahara Barat

Minggu, 01 November 2026 | 11:17

Citra Polri Bisa Rusak Akibat Dua Kejadian Ini

Minggu, 01 November 2026 | 11:05

Ombudsman Ingatkan Polri Jaga Etika dan Hormati HAM saat Penggeledahan

Minggu, 01 November 2026 | 10:48

PPK Ajak Masyarakat Berperan bersama Presiden Prabowo Wujudkan Kedaulatan

Minggu, 01 November 2026 | 10:42

Selengkapnya