Berita

Direktur Asosiasi Ekonomi dan Politik Indonesia (AEPI), Salamuddin Daeng/Istimewa

Publika

Disinformasi Pajak 23 Persen GDP?

KAMIS, 13 JUNI 2024 | 00:24 WIB | OLEH: SALAMUDDIN DAENG

SEBAGAIMANA dilansir media, Menteri Keuangan Sri Mulyani menyatakan keberatan susun Roadmap Rasio Pajak 23 persen seperti target Prabowo (DetikFinance, Rabu, 12 Juni 2024). Mengapa keberatan menyusun Roadmap?

Namanya juga Roadmap. Menurut definisi, Roadmap adalah peta jalan, rencana atau strategi yang dimaksudkan untuk mencapai tujuan tertentu. Roadmap akan melewati tahapan yang panjang untuk menjadi regulasi sehingga legally binding.

Dalam pernyataannya Sri Mulyani langsung menyebut kata rasio pajak. Padahal mungkin maksudnya, Roadmap yang diminta adalah rasio perpajakan dalam arti luas. Bukan hanya pajak dalam arti sempit seperti PPN, PPH, cukai, dll.


Tapi rasio penerimaaan negara secara keseluruhan terhadap GDP yang di dalamnya terdapat penerimaan bagi hasil sumber daya alam minyak, gas, batubara, timah, nikel, emas, perak, tembaga, dll. Serta bagi hasil perkebunan seperti sawit, karet, dan hasil hutan lainnya.

Bukan hanya itu, Roadmap juga bisa berisikan pendapatan negara dari hasil penyitaan uang hasil korupsi, penggelapan pajak, kekayaan hasil kejahatan keuangan yang disembunyikan di dalam dan di luar negeri. Termasuk pencucian uang di kementerian keuangan sendiri.

Semuanya mestinya dibuat Roadmap-nya, pemetaannya, peta jalannya, sehingga masalah keuangan negara di masa mendatang ada titik terang dan harapan.

Kalau Sri Mulyani mengatakan bahwa Prabowo ingin menaikkan rasio pajak hingga 23 persen GDP, maka itu memberi kesan bahwa Prabowo ingin memajaki rakyat, memajaki warung makan, restoran, usaha-usaha produktif masyarakat, belanja sehari emak-emak. Tentu masyarakat akan menolak rencana atau usaha semacam itu.

Namun kalau Sri Mulyani mengatakan bahwa Roadmap penerimaan perpajakan 23 persen GDP, maka itu memang menelanjangi prestasi Kementerian Keuangan sendiri yang gagal dalam membenahi rasio penerimaan negara terhadap GDP yang terus merosot dari tahun ke tahun.

Pertanyaan utama dalam tata kelola keuangan Pemerintah adalah mengapa aktivitas ekonomi yang membesar yang membawa Indonesia sebagai 20 negara dengan GDP terbesar di dunia, namun penerimaan negaranya merosot?

Mari kita lihat datanya. Pada 1981 tax revenue Indonesia terhadap GDP mencapai 21,9 persen. Bayangkan kalau terjadi sekarang. Tetapi pada 2021 tax revenue hanya tersisa 9,1 persen. Sekarang dan dulu rezim APBN-nya berbeda.

Bayangkan kalau angka tahun 1981 itu tax revenue 21 persen GDP terjadi sekarang dengan GDP indonesia 1,32 triliun dollar atau 21.120 triliun rupiah, maka penerimaan perpajakan negara 21 persen GDP mencapai 4.435 triliun rupiah. Ini luar biasa, tidak perlu utang, makan gratis seluruh rakyat Indonesia tiap hari juga bisa.

Mari kita luruskan ya, bahwa penerimaan negara (government revenue) terhadap GDP memang harus meningkat, walaupun tidak perlu meningkatkan pajak yang kecil-kecil. Mari fokuskan pada penerimaan negara dari sumber daya alam, minyak, gas, batubara, nikel, timah, sawit, sumber mineral lainnya, komoditas perkebunan, dll.

Kita Indonesia adalah negara eksportir komoditas terbesar di dunia. Kementerian Keuangan dapat mencapai government revenue 23 persen GDP di luar penerimaan utang luar negeri (PLN). Ingat Indonesia akan segera menjadi negara maju.

Penulis adalah Direktur Asosiasi Ekonomi dan Politik Indonesia (AEPI)

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

UPDATE

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

Insentif SPPG Dipangkas, Wamenkeu Senang MBG Terus Lakukan Reformasi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:15

Putra Pandeglang jadi Kapolri, Sejarah Baru bagi Banten!

Jumat, 02 Oktober 2026 | 00:43

Dana Kopdes Rp37 Triliun Sudah di Himbara, Tapi Masih Dikunci Kemenkeu

Jumat, 02 Oktober 2026 | 00:20

Bupati Gowa Tidak Ditahan Usai Diperiksa sebagai Tersangka, Ini Sebabnya

Kamis, 01 Oktober 2026 | 23:18

Muhadjir Effendy Menyesal Tak Bisa Maksimal Dongkrak Kesejahteraan Guru

Kamis, 01 Oktober 2026 | 22:33

Kasus Alpriado Osmond Diputus PN Tangerang, Hak Asuh Anak Dimenangkan Ibu

Kamis, 01 Oktober 2026 | 22:06

Saatnya Mahasiswa Kritisi Sistem Dominasi "Fraksi" di Parlemen

Kamis, 01 Oktober 2026 | 21:42

Pertamina Patra Niaga Salurkan LPG 3 Kg ke 958 Kopdes Merah Putih

Kamis, 01 Oktober 2026 | 21:31

Asesmen jadi Fondasi Pembinaan Warga Binaan Lapas Cianjur

Kamis, 01 Oktober 2026 | 21:03

Selengkapnya