Berita

Devid Saputra/Net

Publika

Sejauh Mana Kita Melangkah? Evaluasi Diplomasi Indonesia di Laut China Selatan

OLEH: DEVID SAPUTRA*
RABU, 29 MEI 2024 | 18:26 WIB

LAUT China Selatan selalu menjadi medan tarik menarik kepentingan berbagai negara. Bukan hanya soal garis batas dan klaim historis, tetapi juga soal masa depan keamanan regional, kesejahteraan masyarakat pesisir, dan stabilitas ekonomi yang menjadi taruhannya.

Dalam konteks ini, Indonesia memiliki peran yang sangat penting. Namun, sejauh mana kita sebenarnya telah melangkah dalam diplomasi di Laut China Selatan?

Indonesia, dengan posisi geografisnya yang strategis meskipun tak bersinggungan langsung dengan wilayah konflik, memiliki kepentingan besar di kawasan ini. Tidak dapat disangkal, peran Indonesia dalam ASEAN dan forum-forum internasional seperti PBB merupakan kunci utama untuk menciptakan dialog dan kompromi di antara negara-negara yang bersengketa.


Tapi, memurnikan diplomasi tidaklah cukup. Kita harus menerjang lebih dalam dan melihat bagaimana langkah kita dalam membawa ketenangan di tengah gelombang besar Laut China Selatan.

Salah satu wajah dari diplomasi Indonesia adalah kemampuannya sebagai mediator. Pengalaman kita menunjukkan bahwa mendamaikan dan memfasilitasi dialog adalah kekuatan yang harus terus diasah.

Stabilitas di kawasan ini bukan hanya soal menghentikan konflik, tetapi juga memastikan bahwa setiap negara, termasuk Indonesia, mendapat porsi keadilan dalam mengelola kekayaan laut.

Investasi dalam infrastruktur maritim serta pengembangan blue economy adalah langkah strategis yang bisa menjadi angin segar untuk masyarakat pesisir dan meningkatkan daya tawar kita di mata dunia. Namun, adakah kita sudah maksimal?

Identifikasi masalah dan tawarkan solusi komprehensif ini adalah prinsip yang perlu dijalani. Investasi dalam pembangunan infrastruktur maritim, misalnya, bukan sekadar proyek-proyek fisik yang monumental.

Di baliknya ada cerita panjang tentang dukungan kepada nelayan lokal, perbaikan taraf hidup mereka, serta pemberdayaan generasi muda melalui pendidikan maritim dan pelatihan pertahanan.

Apa yang membangkitkan rasa keadilan jika nelayan kita, yang sejak dahulu kala menggantungkan hidupnya pada laut, mendapatkan perhatian dan kesempatan untuk hidup lebih sejahtera?

Namun, diplomasi tidak hanya bergerak di level pemerintahan. Keterlibatan masyarakat sangat vital, yang sering luput dari pandangan. Mengintegrasikan kesadaran masyarakat akan pentingnya perbatasan laut dan kedaulatan adalah langkah kecil namun berdampak besar dalam memperkuat diplomasi kita.

Selanjutnya, terdapat strategi besar dalam mempromosikan posisi dan pandangan Indonesia di ruang-ruang internasional. Tak bisa dipungkiri, jangkar solidaritas ASEAN adalah kunci untuk menggerakkan perubahan yang lebih luas.

Dengan memperkuat aliansi strategis dan mengirimkan sinyal yang jelas di forum-forum global, kita dapat menggalang dukungan internasional yang lebih solid.

Tetapi, ini hanya sepotong dari puzzle besar yang harus kita rakit.

Sumber daya manusia merupakan elemen penting lainnya. Pengembangan sumber daya manusia dan pelatihan di bidang maritim dan pertahanan harus berada di puncak agenda kita. Bagaimana kita bisa melindungi sebuah wilayah jika kita sendiri tidak siap dan kurang berkapasitas?

Momentum pelatihan bukanlah perkara hitung-menghitungkan angka, ini soal investasi jangka panjang dalam pertahanan dan keamanan laut kita.

Diplomasinya sendiri harus bersifat holistik. Kita tidak bisa mengandalkan satu aspek saja, harus ada integrasi yang mendalam antara pendekatan diplomatik, ekonomi, politik, dan sumber daya manusia.

Konsolidasi antar instansi pemerintah dan partai politik sangat penting untuk mendukung setiap langkah yang diambil.

Kita harus bergerak sebagai satu bangsa, satu visi, dan satu misi?"demi menjaga kedaulatan dan menjamin masa depan yang sejahtera.

Sejauh mana kita melangkah? Pertanyaan ini bukan hanya soal perjalanan diplomatik, tapi juga refleksi dari upaya kita sebagai bangsa.

Menjaga Laut China Selatan bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tapi juga tanggung jawab setiap individu yang hidup di dalamnya.

Mari kita terus berjalan, saling bergandengan tangan, dan memastikan setiap langkah kita membawa Indonesia menuju keadilan, kesejahteraan, dan perdamaian yang hakiki.

*Penulis adalah Dosen UIN Raden Intan Lampung

Populer

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

DPRD DKI Bakal Panggil Dishub Buntut Tarif Valet Tembus Rp250 Ribu

Minggu, 27 September 2026 | 14:20

KPK NU Demo di Gedung Merah Putih KPK, Desak Penangkapan Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:23

UPDATE

Wall Street Hijau Usai Data Tenaga Kerja Redupkan Sinyal Kenaikan Bunga The Fed

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 08:21

Biaya Perawatan Naik 106 Persen, Deteksi Dini Penting untuk Tekan Risiko

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 08:05

Harga Solar Naik Tinggi, G7 Lepas 100 Juta Barel Cadangan

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 07:51

Bank Syariah Jumbo Bakal Bertambah, OJK Pasang Target Lima Pemain

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 07:21

Bursa Eropa Bangkit, DAX Naik 1,17 Persen

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 07:06

Digitalisasi Parkir On Street Efektif Cegah Pungli

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 06:53

Suyudi-Wahyu Memimpin Polri: Tujuh Agenda Besar, Saatnya Pembuktian

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 06:22

Awas, Aktivitas Merapi Melonjak

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 06:04

Pengamen Dilarang Aktivitas di Mikrotrans dan Halte Transjakarta

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 05:53

Ahli Hukum Diusir MK, Apakah Gibran Sudah Bisa Didiskualifikasi?

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 05:34

Selengkapnya