Berita

Ilustrasi/Net

Publika

Duet Muhidin-Hasnuryadi di Pilkada Kalsel, untuk Rakyat atau Oligarki?

Oleh: Abdullah Uwais Alatas*
MINGGU, 12 MEI 2024 | 20:39 WIB

PILKADA Kalimantan Selatan ditengarai memunculkan duet pengusaha kaya raya asal tanah Banua sendiri, yakni H Muhidin, pengusaha yang saat ini menjabat wakil gubernur, dan memastikan maju sebagai calon gubernur.

Muhidin dikabarkan bakal didampingi bakal calon wakil gubernur, H Hasnuryadi Sulaiman, anggota DPR RI yang juga pengusaha Hasnur Group, sekaligus pemilik klub sepakbola Barito Putra.

Perspektif hadirnya duet digdaya itu kian viral dan jadi pembicaraan publik, setelah muncul foto keduanya mengapit sosok Haji Isam, crazy rich nasional dari Batulicin, yang dikenal sosok paling berpengaruh di tanah Banua.


Pertanyaan warga Banua di berbagai media sosial, apakah duet digdaya Muhidin-Hasnuryadi (MuHas) itu mewakili kepentingan dunia pertambangan semata, yang terbukti tidak berdampak pada kesejahteraan warga Banua, ataukah masih ada harapan bahwa duet itu benar-benar akan mengabdikan dirinya dengan membawa keadilan, kesejahteraan masyarakat, dan perlindungan atas kekayaan dan lingkungan hidup tanah Banua?

Bersatunya duet digdaya itu diakui menimbulkan kekhawatiran tersendiri, khususnya dari kalangan kritis.

Salah satu kekhawatiran mereka, posisi pengusaha akan makin kuat berhadapan dengan warga yang mengalami ketidakadilan atas nama investasi tambang. Seringkali tanah milik warga dengan mudah diambil alih, tanpa diindahkan hak-hak pemiliknya. Bukan itu saja, bahkan beberapa kali terjadi konflik tambang berakhir tragis, hingga membawa korban tewas dari warga yang mempertahankan tanahnya.

Pada 2021 lalu, seorang advokat bernama Jurkani, terbunuh saat mendampingi konflik tambang ilegal. Jurkani dikenal sebagai pejuang dan pembela keadilan yang amat vokal membantu pihak-pihak yang dirugikan dalam persoalan hak atas tanah mereka.

Di situlah letak kerawanan konflik tanah yang berkaitan dengan investasi tambang atau pun lahan sawit di Kalimantan Selatan.

Bukankah kekayaan alam di Kalimantan Selatan wajib dilindungi untuk membawa manfaat bersama, bukan malah menjadi sumber konflik, bahkan berujung pada pembunuhan?

Kasus terbunuhnya Jurkani bukanlah yang pertama. Sebelumnya ada seorang guru dikabarkan dibacok hingga tewas, karena persoalan jalan tambang batubara. Ada juga seorang wartawan akhirnya tewas di penjara, karena menulis perebutan lahan sawit.

Belum lama ini, sekitar April 2023, juga terjadi pembunuhan terhadap Sabriansyah (63). Mayatnya ditemukan di Desa Mangkauk, Kecamatan Pengaron, Kabupaten Banjar. Pembunuhan berawal dari sengketa lahan dan pemblokiran jalan hauling.

Semua kejadian tragis itu memang tidak berkaitan langsung dengan Pilgub, dan tidak ada hubungan langsung dengan orang per orang di dalamnya.
 
Satu hal yang patut dicatat, bahwa munculnya kekhawatiran itu wajib menjadi perhatian dan komitmen dari Haji Muhidin dan Haji Hasnuryadi, jika ditakdirkan memimpin Kalimantan Selatan. Karena tegaknya keadilan jadi kunci utama keberhasilan pemerintahan.

Saya melihat ada dua hal yang bisa menjadi rujukan untuk menilai sosok Haji Muhidin dan Haji Hasnuryadi itu.

Pertama, keduanya merupakan putra Banua, usaha besar mereka tidak memiliki rekam jejak negatif di masyarakat, seperti terlibat konflik atau perbuatan tidak adil terhadap warga. Dari sisi itu, tidak ada yang perlu dikhawatirkan atas rekam jejak mereka sebagai pengusaha.

Kedua, keduanya merupakan pengusaha besar dan sukses, mengawali karir dari bawah. Artinya, keduanya bukan pengusaha kaya raya karena terjun atau aktivitasnya sebagai pejabat pemerintahan atau pejabat publik.

Dengan demikian, jika ditakdirkan memimpin, keduanya bisa diandalkan tidak saja untuk tidak bergeming dengan perilaku koruptif, tetapi juga memberi optimisme bagi terwujudnya good government di Kalimantan Selatan.

Dua realitas yang menjadi catatan atas reputasi baik dari Haji Muhidin dan Haji Hasnuryadi diatas, menurut saya merupakan bagian kekuatan utamanya.

Bahkan, bukan tidak mungkin niat tulus memimpin Kalimantan Selatan itu bagian dari komitmen menjaga reputasinya sebagai sosok yang tidak saja sukses sebagai pengusaha, tetapi sekaligus pemimpin politik yang berhasil membangun kemajuan, keadilan dan kesejahteraan bagi warga Banua.

Itulah harapan kami. Semoga saja.

*Pemerhati politik.

Populer

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

Bos Rokok PT Gading Gadjah Mada Dipanggil KPK

Senin, 27 April 2026 | 14:16

Usai Dilantik, Jumhur Tegaskan Status Hukum Bersih dari Vonis 10 Bulan

Senin, 27 April 2026 | 21:08

KPK Dalami Peran Haji Her dan Suryo di Skandal Cukai Rokok

Jumat, 01 Mei 2026 | 20:51

Sikap Adem Ayem Seskab Teddy Mencurigakan

Selasa, 05 Mei 2026 | 02:06

UPDATE

OJK Catat Penyaluran Kredit Tembus Rp 8.659 Triliun, Sektor UMKM Mulai Tunjukkan Perbaikan

Rabu, 06 Mei 2026 | 08:14

Trump Mendadak Hentikan Operasi Project Freedom di Selat Hormuz

Rabu, 06 Mei 2026 | 07:52

Harga Emas Rebound Saat Pasar Pantau Geopolitik dan Data Tenaga Kerja

Rabu, 06 Mei 2026 | 07:23

Sektor Teknologi Eropa Bangkit dari Keterpurukan, STOXX 600 Menghijau

Rabu, 06 Mei 2026 | 07:05

Kemenag Fasilitasi Kepindahan Santri Ponpes Ndolo Kusumo

Rabu, 06 Mei 2026 | 06:45

Dana Wakaf Baitul Asyi untuk Jemaah Haji Aceh Diusulkan Naik

Rabu, 06 Mei 2026 | 06:32

Rudy Mas’ud di Ujung Tanduk

Rabu, 06 Mei 2026 | 06:09

Rakyat Antipati dengan PSI

Rabu, 06 Mei 2026 | 05:38

10 Orang Jadi Korban Penyiraman Air Keras Kurir Ekspedisi

Rabu, 06 Mei 2026 | 05:19

Kapal Supertanker Iran Masuk RI Bukan Dagang Biasa

Rabu, 06 Mei 2026 | 05:08

Selengkapnya