Berita

Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono di Modeling Budidaya Nila Salin di Karawang, Jawa Barat, Kamis (25/4)/Ist

Bisnis

Budidaya Nila Salin di Karawang Hasilkan Omzet Puluhan Miliar

JUMAT, 26 APRIL 2024 | 05:11 WIB | LAPORAN: ADITYO NUGROHO

Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono meninjau Modeling Budidaya Nila Salin di Karawang, Jawa Barat untuk memastikan tambak yang berbasis kawasan tersebut siap dioperasikan secara penuh tahun ini.

“Tadi saya sudah meninjau dan melihat langsung satu per satu blok petakan tambak. Alhamdulillah sudah berproduksi dengan baik. Insya Allah sudah siap peresmian. Sekarang sudah selesai semua kurang lebih 80 hektare petakan tambak budi daya ikan nila salin sudah beroperasi semuanya,” ungkap Menteri Trenggono dalam lawatannya ke Modeling Budi Daya Nila Salin Karawang, Kamis (25/4).

Dia berharap pembangunan Modeling Budidaya Nila Salin ini dapat meningkatkan efektivitas dan efisiensi dari sisi ekonomi.


“Tilapia Indonesia diharapkan nantinya bisa bersaing di pasar global dan menjadi champion. Produksi ikan nila salin dari Modeling Budi Daya Nila Salin di Karawang ini siap dalam bentuk fillet dengan ukuran dikemas 700 gram ke atas. Fillet asal Indonesia sangat diminati oleh Amerika Serikat sebesar 80 persen, sisanya ke Erora dan Jepang,” terang Trenggono.

Hal senada juga disampaikan oleh Direktur Jenderal Perikanan Budi Daya, Tb Haeru Rahayu, KKP sudah selesai membangun modeling atau proyek percontohan budidaya ikan nila salin seluas kurang lebih 80 hektare. Diproyeksikan akan menghasilkan kurang lebih 87,7 ton per hektar per siklus. Lama pemeliharaan kurang lebih 7-8 bulan.

Dirjen Tebe menjelaskan, KKP bekerja sama dengan berbagai pihak dalam menghadirkan perangkat teknologi untuk mendukung operasional modeling budidaya nila salin di Karawang. Teknologi IoT, yang merupakan karya anak negeri. Di antaranya startup e-Fishery dalam pengadaan alat e-feeder, dan startup Agree Telkom pada pengadaan IoT Water Quality Smart Sensor.

Perangkat e-feeder digunakan untuk memudahkan dalam pemberian pakan karena dapat beroperasi secara otomatis. Sementara IoT Water Quality Smart Sensor untuk monitoring kualitas air setiap harinya melalui smartphone.

Tebe menerangkan, keberadaan e-feeder sangat efektif untuk mendukung kegiatan budidaya ikan intensif. Jumlah dan frekuensi pemberian pakan dapat diatur sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan populasi ikan yang ada dalam petakan tambak.

"Pembangunan modeling ini memang mensinergikan semua kekuatan, semua lini dari berbagai stakeholder terkait. KKP terus mendorong kepada semua stakeholder dan akademisi untuk terus memberikan dukungan dalam pengembangan budidaya ikan nila salin," jelas Tebe.

Benih-benih nila salin yang digunakan juga berkualitas tinggi dan telah diberi vaksin, sehingga tidak rentan terserang penyakit. Salah satunya jenis Nila Sakti hasil produksi Balai Besar Perikanan Budidaya Air Tawar (BBPBAT) Sukabumi.

“Pada kolam Blok A dan Blok B terdapat 58 petak kolam insya Allah siap untuk dipanen. Sementara blok C dan D terdapat sebanyak 92 petak kolam telah ditebar benih ikan nila salin dengan perlakuan yang sama dengan diberikan vaksin" terangnya.

“Pembangunan modeling ikan nila salin berbasis kawasan ini nantinya bisa menjadi menjadi contoh bagi pelaku usaha budidaya ikan nila salin dan mengundang investor dalam pengembangan budidaya ikan nila salin. Modelnya tidak menimbulkan persoalan bagi lingkungan karena pembangunannya kami tata dengan baik seperti bagaimana intake dan outletnya, tandonnya dan sistem pengairannya,” bebernya  

“Selain itu yang paling penting, kami tidak membuang langsung air buangan ke laut, melainkan ada proses purifikasi terlebih dulu, dan pohon mangrove terus dijaga kelestariannya dan dikembangkan luasannya,” tambah dia.

Peningkatan produksi ikan nila juga bagian dari upaya menangkap peluang pasar perikanan di kancah global. Tilapia dari Indonesia selama ini mendapat respon positif lantaran rasa dan kualitas dagingnya dibanding ikan sejenis dari negara lain. Kondisi tersebut membuktikan prospek budidaya ikan nila salin sangat bagus.

“Selanjutnya apabila berhasil, KKP akan mencoba menerapkan modeling ikan nila salin berbasis kawasan ini untuk menggantikan tambak-tambak idle di kawasan Pantai Utara Jawa (Pantura),”harap Tebe.

Sementara itu, Kepala Balai Layanan Usaha Produksi Perikanan Budidaya (BLUPPB) Karawang M. Tahang menjelaskan, modeling ikan nila salin berbasis kawasan diharapkan bisa meningkatkan produktivitas budidaya sebesar 87,7 ton per hektare per siklus. Jumlah tersebut jauh lebih tinggi dari tambak nila salin tradisional yang hanya sekitar 0,6 ton per hektare per tahun.

Lebih lanjut Tahang menjelaskan, biaya investasi pembangunan fasilitas sarana prasarana modeling nila salin berbasis kawasan mencapai Rp76 miliar. Produktivitas modeling diharapkan bisa mencapai sekitar 7.020 ton per siklus atau senilai Rp210,6 miliar dengan asumsi harga jual ikan nila salin Rp30 ribu per kg. Dari asumsi hitungan ekonomi dengan harga pokok produksi Rp24.500 per kg, modeling akan menghasilkan keuntungan sekitar Rp38,6 miliar.

Terkait benih ikan nila salin yang ditebar di modeling Karawang, Dian Hardiantho selaku Koordinator Budidaya Ikan Tilapia di BBPBAT Sukabumi menjelaskan benih ikan nila salin yang digunakan adalah benih ikan nila sakti. Jenis ikan nila ini telah resmi dirilis berdasarkan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 182 Tahun 2023.

Keunggulan ikan nila sakti antara lain tumbuh cepat dan tahan terhadap bakteri Streptococcus agalactiae dan Aeromonas hydrophila.

“Dengan tingkat ketahanan penyakit yang relatif tinggi, maka ikan nila sakti mampu bertahan terhadap perubahan lingkungan. Selain itu juga dengan tingkat ketahanan penyakit yang relatif tinggi akan menurunkan penggunaan obat yang berdampak negatif pada lingkungan,” jelas Dian.

Populer

10.060 Jemaah Umrah Telah Kembali ke Tanah Air

Kamis, 05 Maret 2026 | 09:09

Rumah Bersejarah di Menteng Berubah Wujud

Sabtu, 07 Maret 2026 | 22:49

Pengacara Terkenal yang Menyita Perhatian Publik

Minggu, 08 Maret 2026 | 11:44

Harga Tiket Pesawat Kembali Tidak Masuk Akal

Selasa, 03 Maret 2026 | 03:51

KPK Dikabarkan Gelar OTT di Cilacap Jawa Tengah

Jumat, 13 Maret 2026 | 14:54

Siapa Berbohong, Fadia Arafiq atau Ahmad Luthfi?

Sabtu, 07 Maret 2026 | 06:42

Bangsa Tak Akan Maju Tanpa Makzulkan Gibran dan Adili Jokowi

Senin, 09 Maret 2026 | 00:13

UPDATE

Prabowo Desak Bos Batu Bara dan Sawit Dahulukan Pasar Domestik

Sabtu, 14 Maret 2026 | 00:10

Polisi Harus Ungkap Pelaku Serangan Brutal terhadap Aktivis KontraS

Sabtu, 14 Maret 2026 | 00:10

Aparat Diminta Gercep Usut Penyiraman Air Keras terhadap Pembela HAM

Jumat, 13 Maret 2026 | 23:55

Prabowo Ingatkan Pejabat: Open House Lebaran Jangan Terlalu Mewah

Jumat, 13 Maret 2026 | 23:55

Bahlil Tepis Isu Batu Bara PLTU Menipis, Stok Rata-rata Masih 14 Hari

Jumat, 13 Maret 2026 | 23:38

Purbaya Lapor Prabowo Banyak Ekonom Aneh yang Sebut RI Resesi

Jumat, 13 Maret 2026 | 23:32

Kekerasan Terhadap Pembela HAM Ancaman Nyata bagi Demokrasi

Jumat, 13 Maret 2026 | 23:12

Setengah Penduduk RI Diperkirakan Mudik Lebaran 2026

Jumat, 13 Maret 2026 | 23:07

Mentan: Cadangan Beras Hampir Lima Juta Ton, Cukup Hingga Akhir Tahun

Jumat, 13 Maret 2026 | 22:48

Komisi III DPR Minta Dalang Penyerangan Air Keras Aktivis KontraS Dibongkar

Jumat, 13 Maret 2026 | 22:32

Selengkapnya