Berita

Warga memegang lilin saat menghadiri acara jaga malam dan doa di Kigali, Rwanda/Net

Global

Rwanda Gelar Seminggu Berkabung, Peringati 30 Tahun Peristiwa Genosida

MINGGU, 07 APRIL 2024 | 15:24 WIB | LAPORAN: HANI FATUNNISA

Hari Minggu (7/4) menandai dimulainya masa berkabung nasional Rwanda selama sepekan ke depan untuk memperingati 30 tahun genosida yang dilakukan oleh kelompok bersenjata Hutu.

Presiden Rwanda, Paul Kagame memimpin peringatan genosida dengan meletakkan karangan bunga di kuburan massal di ibu kota, Kigali.

Dia berdiri didampingi oleh para pemimpin Afrika Selatan dan Ethiopia serta mantan Presiden Amerika Serikat, Bill Clinton.


Sesuai tradisi, Presiden Kagame akan menyalakan api peringatan pada Minggu malam (7/4) di Kigali Genocide Memorial, tempat lebih dari 250.000 korban diyakini dimakamkan.

Ia juga diperkirakan akan menyampaikan pidato pada hari berikutnya.

Mengutip laporan Al-Jazeera, selama Minggu Berkabung, musik dilarang diperdengarkan di tempat umum maupun radio.

Sementara acara olahraga dan film dilarang ditayangkan di TV kecuali terkait dengan apa yang disebut “Kwibuka (Peringatan) 30”.

PBB dan Uni Afrika juga akan mengadakan upacara peringatan.

Pembunuhan besar-besaran, yang dimulai pada tanggal 7 April 1994, berlangsung 100 hari sebelum milisi pemberontak Front Patriotik Rwanda (RPF) merebut Kigali pada bulan Juli tahun itu, dan menyebabkan sekitar 800.000 orang tewas, sebagian besar adalah orang Tutsi dan juga orang Hutu moderat.

Pembunuhan Presiden Hutu Juvenal Habyarimana pada malam tanggal 6 April, ketika pesawatnya ditembak jatuh di atas Kigali, memicu amukan orang-orang Hutu bersenjata dan milisi “Interahamwe”.

Korban mereka ditembak, dipukuli, atau dibacok hingga tewas dalam pembunuhan yang dipicu oleh propaganda kejam anti-Tutsi yang disiarkan di TV dan radio.

Menurut angka PBB, setidaknya 250.000 perempuan diperkosa dalam peristiwa tersebut.

Rwanda kini berada di bawah pemerintahan Kagame, yang memimpin RPF, namun bekas kekerasan masih tetap ada, meninggalkan jejak kehancuran di seluruh wilayah Great Lakes di Afrika.

Kegagalan komunitas internasional untuk melakukan intervensi telah menjadi penyebab rasa malu yang berkepanjangan, dimana Presiden Prancis Emmanuel Macron diperkirakan berpidato hari ini untuk menyesali ketidakmampuan Paris, sekutu Barat dan Uni Afrika menghentikan pembantaian tersebut.

Menurut Rwanda, ratusan tersangka genosida masih buron, termasuk di negara tetangga seperti Republik Demokratik Kongo dan Uganda

Hanya 28 dari mereka yang telah diekstradisi ke Rwanda dari seluruh dunia.

Prancis, salah satu tujuan utama tersangka genosida Rwanda telah mengadili dan menghukum enam orang atas keterlibatan mereka dalam pembunuhan tersebut.

Pada tahun 2002, Rwanda mendirikan pengadilan komunitas di mana para korban mendengar pengakuan dari orang-orang yang menganiaya mereka, meskipun pengawas hak asasi manusia mengatakan bahwa sistem tersebut juga mengakibatkan hilangnya keadilan.

Saat ini, KTP Rwanda tidak menyebutkan apakah seseorang itu Hutu atau Tutsi.

Menjelang peringatan 30 tahun tersebut, ada seruan baru dari pengawas hak asasi manusia agar tersangka genosida yang tersisa harus dimintai pertanggungjawaban.

Populer

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

UPDATE

KPK Setengah Hati Panggil Nusron Wahid

Kamis, 22 Oktober 2026 | 02:16

Optimisme dan Tantangan Golkar di Era Bahlil Lahadalia

Kamis, 22 Oktober 2026 | 02:08

Dibuka Program Madrasah Layak Belajar 2026 untuk 700 Madrasah

Kamis, 22 Oktober 2026 | 01:38

Prabowo dan DPR Harus Dengarkan Desakan Gibran Mundur dari Wapres

Kamis, 22 Oktober 2026 | 01:23

Bantu Kuliner Indonesia Mendunia, Pemerintah Diminta Tiru Thailand

Kamis, 22 Oktober 2026 | 01:01

Lumat Arema, Persija Puncaki Klasemen

Kamis, 22 Oktober 2026 | 00:39

PDIP: Usulan Luhut Cederai Rasa Keadilan Masyarakat

Kamis, 22 Oktober 2026 | 00:19

Infrastruktur Perikanan KNMP di Papua Tengah Diharapkan Dorong Ekonomi Nelayan

Kamis, 22 Oktober 2026 | 00:01

Usulan Luhut soal Ubah Definisi Korupsi Membahayakan

Rabu, 21 Oktober 2026 | 23:35

Polisi Bunuh Polisi Melonjak Dua Kali Lipat pada 2026

Rabu, 21 Oktober 2026 | 23:15

Selengkapnya