Berita

Bandara Internasiona Pokhara di Katmandhu, Nepal.

Dunia

Nepal Terjerat Utang China dalam Proyek Bandara Pokhara

RABU, 27 MARET 2024 | 05:37 WIB | LAPORAN: JONRIS PURBA

Pemerintah Nepal tengah mendekati China untuk mengubah utang negara itu dalam pembangunan Bandara Internasional Pokhara menjadi hibah. Perdana Menteri Nepal Pushpa Kamal Dahal mengakui bahwa bandara tersebut gagal menghasilkan pendapatan, membuat Nepal tidak dapat memenuhi komitmen pembayaran, dan akibatnya lagi utang pada China bertambah dan menumpuk.

Pengakuan Perdana Menteri Puspha Kamal Dahal disampaikan baru-baru ini menjawab pertanyaan anggota parlemen dari kubu oposisi Chanda Chaudhary.  

“Untuk mengoperasikan penerbangan dari dan ke Bandara Internasional Pokhara, telah dibentuk panitia untuk mempelajari kerjasama pemerintah-swasta. Berdasarkan laporan yang disiapkan panitia, persiapan yang diperlukan akan dilakukan untuk pengoperasian bandara. Pinjaman diperoleh untuk pembangunan Bandara Internasional Pokhara,” ujarnya seperti dikutip dari Big News Network.


“Pembicaraan diplomatik sedang dilakukan untuk mengubahnya menjadi hibah. Koordinasi yang diperlukan akan dilakukan untuk semua pengelolaan keuangan yang diperlukan," sambung PM Dahal.

Bandara Internasional Pokhara, yang dibuka pada 1 Januari 2023, belum pernah menerima penerbangan internasional kecuali penerbangan carteran China. Itu pun jarang terjadi.

Pada tanggal 21 Maret 2016, Nepal dan Chinamencapai perjanjian pinjaman yang menetapkan jumlah total pinjaman sebesar 1,37 miliar yuan China, dimana 355,9 juta yuan China merupakan pinjaman tanpa bunga. Otoritas Penerbangan Sipil Nepal (CAAN), badan pengatur penerbangan negara Himalaya, bertanggung jawab untuk membayar jumlah pinjaman pada tahun 2036.

Tahun lalu, usai kunjungan ke Beijing PM Nepal Dahal mengumumkan bahwa penerbangan China akan datang ke Pokhara untuk membantu menutupi kerugian tersebut.

Beberapa hari sebelum peresmian bandara tersebut tahun lalu, Duta Besar China untuk Nepal mengklaim dalam tweet bahwa bandara tersebut adalah bagian dari Belt dan Road Initiative (BRI) yang ditolak oleh Pemerintah Nepal.

Namun segera setelah serah terima tersebut, bandara Pokhara menjadi contoh bahaya yang timbul akibat importasi model pembangunan infrastruktur dari China. Model ini memberikan keuntungan kepada perusahaan-perusahaan China dan merugikan negara peminjam.

China CAMC Engineering, divisi konstruksi konglomerat China Sinomach, memainkan peran penting dalam proyek bandara Pokhara. Bandara ini mengimpor bahan bangunan dan mesin dari Tiongkok, dan bandara itu sendiri penuh dengan teknologi keamanan dan industri buatan China. Terlepas dari klaim China mengenai kualitas proyek tersebut, penyelidikan yang dilakukan oleh The New York Times mengungkapkan narasi yang meresahkan.

Banyaknya individu yang terlibat dalam proyek tersebut dan pemeriksaan menyeluruh terhadap ribuan dokumen menunjukkan bahwa China CAMC Engineering secara konsisten mendiktekan persyaratan untuk memaksimalkan keuntungan dan melindungi kepentingannya. Pada saat yang sama, mereka secara sistematis menghilangkan pengawasan Nepal.

Sebagai konsekuensinya, Nepal mendapati dirinya terjerat dalam utang yang besar kepada para kreditor China tanpa adanya arus penumpang yang diharapkan dapat membayar kembali pinjaman tersebut.

Populer

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

Satlap Tri Cakti Diduga Hadang Polisi di Belitung, IPW Desak Ada Tindak lanjut

Senin, 17 Agustus 2026 | 14:30

KPK OTT Rektor Unsoed Prof Akhmad Sodiq

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:01

Profil Akhmad Sodiq, Rektor Unsoed yang Terjaring OTT KPK

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 09:02

TNI Kuasai Wilayah OPM di Intan Jaya dan Sita Sejumlah Senjata

Minggu, 16 Agustus 2026 | 01:24

Belasan Teman Jokowi Bagusnya Batal Jadi Saksi Sidang soal Ijazah

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 03:14

Praperadilan Dokter Tifa Ditolak, Ini Pertimbangan Hakim

Jumat, 21 Agustus 2026 | 10:25

UPDATE

TNI Siap Turunkan Penerjun Khusus Padamkan Api Karhutla

Senin, 24 Agustus 2026 | 17:50

KDKMP Upaya Merebut Kedaulatan Rakyat Atas Pasar

Senin, 24 Agustus 2026 | 17:34

Pemerintah Kembali Kirim Bantuan ke NTT dan Kalimantan, dari Logistik hingga 500 Mesin Pompa Air

Senin, 24 Agustus 2026 | 17:30

Sri Purwanti Bangun Bisnis Kuliner Halal Citarasa Nusantara di Taiwan

Senin, 24 Agustus 2026 | 17:26

Rupiah Melemah, Sanksi Baru AS ke Iran jadi Biang Kerok

Senin, 24 Agustus 2026 | 17:13

Prabowo Dorong Uji Coba Ubi Bombing untuk Atasi Karhutla

Senin, 24 Agustus 2026 | 16:43

El Nino Sangat Kuat, Jangan Bakar Lahan untuk Land Clearing

Senin, 24 Agustus 2026 | 16:42

Rumor 62,2 Persen Saham BYAN Warning bagi Pasar Modal

Senin, 24 Agustus 2026 | 16:40

Pencemaran Berulang, DPR Desak Sumber Limbah Pencemar Kali Bekasi Diusut

Senin, 24 Agustus 2026 | 16:40

Bioskop Jaksinema Hadir di Pasar Rumput, Tiket Cuma Rp15 Ribu

Senin, 24 Agustus 2026 | 16:28

Selengkapnya