Berita

Ilustrasi/Net

Nusantara

Pelarangan Truk AMDK di Hari-hari Besar Keagamaan Matikan Ekonomi Keluarga Para Sopir

SELASA, 19 MARET 2024 | 12:25 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Pembatasan operasional angkutan barang di libur besar keagamaan, seperti Lebaran 2024 ini, menimbulkan keresahan di antara para sopir.

Dengan tidak diizinkan beroperasi selama beberapa hari menjelang dan setelah hari H, para sopir ini terpaksa menganggur dan jelas hal itu berdampak pada perekonomiannya.

Salah satu seorang sopir tetap di sebuah perusahaan Air Minum Dalam Kemasan (AMDK), Budianto, mengatakan pelarangan terhadap truk-truk AMDK saat momen liburan hari-hari besar keagamaan terlebih lebaran, akan sangat berdampak pada penghasilannya.
 

 
Ia menjelaskan bahwa sopir tetap biasanya pembayarannya adalah sistem borongan.

"Misalnya, kalau kita membawa barang menuju ke Jogja itu dikasih uangnya borongan sekian,” urainya dalam sebuah wawancara baru-baru ini yang dikutip Selasa (19/3).
 
Jadi, menurutnya, jika ada larangan selama beberapa hari, itu berarti sopir akan kehilangan penghasilan.

“Padahal, keluarga kami kan harus diberi makan setiap harinya, nggak bisa libur makannya,” keluhnya.

Penghasilan dari pekerjaannya sebagai sopir ini merupakan satu-satunya untuk menafkahi keluarga. Ia bercerita bahwa isterinya hanya seorang ibu rumah tangga dan anaknya sebentar lagi akan lulus SMA dan perlu melanjutkan kuliah.

Budianto berharap agar pemerintah tidak melarang truk-truk AMDK untuk beroperasi kapanpun itu, terutama karena AMDK itu sudah menjadi kebutuhan pokok bagi masyarakat. Jika pembatasan angkutan barang diberlakukan, maka akan terjadi kelangkaan pasokan.

“Kalau menurut saya nggak usah dilarang. Setiap hari di jalan itu, sopir kan tahu jam-jam macet, bagaimana mengantisipasinya itu kita tahu karena sudah tahu kondisi jalannya. Apalagi di Jawa, sudah banyak dibangun tol yang mengurangi kemacetan. Kita juga bisa dibantu dengan google untuk mengetahui di mana yang nggak macet,” paparnya.  
 
Pemerintah resmi menerbitkan Surat Keputusan Bersama (SKB) tentang Pengaturan Lalu Lintas Jalan serta Penyeberangan Selama Masa Arus Mudik dan Arus Balik Angkutan Lebaran Tahun 2024/1445 H, yang akan  berlaku mulai Jumat, 5 April 2024 pukul 09.00 waktu setempat sampai dengan Selasa, 16 April 2024 pukul 08.00 waktu setempat.

Bukan hanya Budianto. Ade Kurniawan, seorang sopir tembak (pengganti sopir tetap) di salah satu pabrik AMDK,  juga mengeluhkan pembatasan tersebut. Dalam wawancara yang sama, ia mengatakan kebijakan pelarangan terhadap angkutan AMDK saat momen hari-hari besar keagamaan, apalagi Lebaran, berdampak penuh pada perekonomian keluarga.

“Kalau dilarang beroperasi begitu, bagaimana dengan keluarga saya. Apalagi pekerjaan sebagai sopir tembak itu merupakan mata pencaharian saya satu-satunya untuk memberi makan keluarga, dan istri saya juga hanya sebagai ibu rumah tangga,” ujar pria yang memiliki anak balita ini.
 
Momen Lebaran akan menyedihkan jika ia tidak bisa membeli kebutuhan keluarga karena adanya pelarangan ini,

“Kalau dilarang-larang seperti ini, Lebaran nggak bisa beli baju baru anak dong, sama kue buat lebaran nggak bisa beli nanti,” tukasnya.

Ia berharap, Pemerintah tidak melarang truk-truk AMDK ini untuk beroperasi. "Apalagi AMDK itu kan  sudah semacam sembako juga. Sangat dibutuhkan. Jadi, saat Lebaran kalau bisa ya tetap beroperasi,” ujarnya berharap.
 
Ia mengaku pekerjaan sebagai sopir tembak ini sangat membantu ekonomi keluarganya. Setiap harinya, banyak sopir (tetap) yang menggunakan jasanya.

"Jadi mereka itu yang khususnya yang dari luar kota kadang sudah capek dan ingin beristirahat beberapa jam. Nah, kami pun dimintai bantuan untuk memuat barang di pabrik,” tuturnya.
 
Sekali lagi ia berharap tidak ada larangan untuk angkutan truk-truk AMDK di momen libur Lebaran.

“Ekonomi saya bisa morat-marit,” katanya.

Populer

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Menteri Warisan Jokowi akan Bersih dari Kabinet Prabowo pada 2027

Jumat, 30 Oktober 2026 | 23:29

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Pencopotan Agus Suparmanto dan Taj Yasin Bukan Keinginan Ketum PPP

Kamis, 29 Oktober 2026 | 11:16

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

UPDATE

Bursa Asia Awali November di Zona Merah

Senin, 02 November 2026 | 08:21

Laba Samindo Resources Melonjak 53 Persen, Efisiensi Biaya Jadi Penopang

Senin, 02 November 2026 | 07:55

Jet Pribadi Jatuh dan Meledak Dekat Permukiman, Sembilan Orang Tewas

Senin, 02 November 2026 | 07:40

Dituding Manipulasi Suara, Ketua KPU India Didesak Mundur

Senin, 02 November 2026 | 07:20

OJK: Tak Ada Dua Sanksi untuk Satu Pelanggaran di Pasar Modal

Senin, 02 November 2026 | 07:06

Polda Metro Tak Cukup Minta Maaf soal “Mahasewa Bayaran”

Senin, 02 November 2026 | 06:40

Kelurahan Berperan Besar Menuju Jakarta Kota Global

Senin, 02 November 2026 | 06:36

Potensi Pasar Asuransi Syariah RI Masih Besar

Senin, 02 November 2026 | 06:00

PPP NTB Protes Mardiono Asal Pecat Pengurus

Senin, 02 November 2026 | 05:39

Ketika Syarat Konstitusional Wapres Dipersoalkan

Senin, 02 November 2026 | 05:26

Selengkapnya