Berita

Ilustrasi Foto/RMOL

Politik

Forum 2045 Gagas Kepemimpinan Kualitatif Bukan Cuma Ditentukan Angka

MINGGU, 17 MARET 2024 | 01:20 WIB | LAPORAN: AHMAD SATRYO

Usulan mengenai konsep kepemimpinan pasca 2024 dirumuskan sejumlah guru besar dan dosen dari berbagai kampus serta institusi pemikiran di Indonesia, dalam  forum nasional bertajuk "Pemikiran Kepemimpinan Indonesia".
 
Kegiatan yang digelar Forum 2045 tersebut menghadirkan sejumlah guru besar dan akademisi dari sejumlah kampus. Acara itu digelar di University Club (UC) Universitas Gadjah Mada (UGM), Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Sabtu (16/3).

Ketua Forum 2045 Untoro Hariadi menjelaskan, para profesor dan pendidik merasa perlu menyodorkan rumusan alternatif mengenai kepemimpinan Indonesia agar di masa mendatang, bangsa ini tidak terjerembab dalam kesalahan yang sama.


"Kita ingin memasukkan pertimbangan kualitatif agar suksesi kepemimpinan Indonesia di masa depan tidak semata-mata ditentukan oleh angka-angka elektoral, tetapi dalam proses rekrutmen sudah memasukan aspek-aspek kapasitas, integritas, dan kredibilitas," ujar Untoro dalam keterangan tertulisnya.

Dalam forum itu hadir sebagai pembicara Ketua Institut Harkat Negeri, Sudirman Said; Guru Besar Filsafat UGM, Prof. Dr. Armaidy Armawi; Guru Besar Geografi UGM, Prof. Dr. M. Baiquni; Guru Besar Hukum Tata Negara Universitas Islam Indonesia, Prof. Dr. Ni’matul Huda; dan Guru Besar Manajemen Universitas Muhammadiyah Yogyakarta,  Prof. Dr. Heru Kurnianto Tjahjono.

Dalam pemaparannya, Sudirman Said menyebutkan gagasan mendasar kepemimpinan yang diperlukan Indonesia. Yaitu, kepemimpinan merupakan perilaku yang dibentuk oleh kompetensi, karakter dan nilai-nilai yang memandu tumbuh kembang pribadi individu.

"Apakah seorang pejabat publik merupakan pemimpin atau bukan, tentu tergantung perilaku dalam menjalankan tugas-tugasnya," kata Sudirman.

Menurutnya,  situasi sosial politik yang berkembang saat ini kurang mendukung bagi pengembangan kepemimpinan yang ideal, karena menguatnya politik dinasti dan keberpihakan kekuasaan dalam proses elektoral, pelanggaran etika publik, dan rekayasa hukum secara terang-terangan.

"Hingga maraknya praktik KKN (korupsi, kolusi, nepotisme), turut mewarnai karakter kepemimpinan nasional. Karena itu, kita memerlukan sebuah Undang-Undang yang mengatur rekrutmen kepemimpinan publik agar memasukkan pula syarat-syarat kualitatif," urai Sudirman.

"Proses seleksi kepemimpinan nasional tidak bisa hanya ditentukan angka-angka, sehingga menyebabkan demokrasi kehilangan ruh substansial," sambungnya menegaskan.

Senada dengan Sudirman, pembicara Heru Kurnianto Tjahjono menggarisbawahi perlunya Indonesia menemukan sosok pemimpin negarawan yang otentik dimana keberadaannya selalu berorientasi pada kontribusi bagi kepentingan masyarakat luas.

"Pemimpin negarawan adalah sosok yang secara mental sudah selesai dengan dirinya dan keluarganya," tegas pakar manajemen SDM itu.

Ditambahkan srikandi hukum Prof. Ni’matul Huda, tumbuh kembang kepemimpinan yang berorientasi pada kepentingan diri dan keluarga, kini nampak menggunakan sumberdaya negara dan menjadi ironi yang mengecewakan publik.

"Kepemimpinan semacam tersebut jauh dari semangat pendirian bangsa dan negara Indonesia," bebernya.

Di samping itu, Prof. Armaidy Armawi yang juga menjadi pembicara mewanti-wanti tentang pentingnya pemahaman ideologi dan konstitusi, sebagai dasar spiritualitas dan moralitas kepemimpinan nasional.

"Ideologi dan konstitusi merupakan panduan dasar dalam menghadapi berbagai tantangan geopolitik saat ini," tuturnya.

Pembicara lainnya, Prof. Dr. M. Baiquni, menyebutkan salah satu tantangan kepemimpinan nasional yang perlu mendapatkan perhatian serius saat ini, yakni semakin merebaknya krisis lingkungan dan perubahan iklim global.

"Krisis iklim menuntut kehadiran pemimpin yang mampu menggerakkan segenap komponen masyarakat dalam upaya pencerdasan publik melalui pelestarian alam di berbagi tingkatan," ujar Sekretaris Dewan Guru Besar UGM itu.

Kegiatan yang dihadiri ratusan peserta yang memadati Ballroom UC UGM dan ruang zoom tersebut mendapatkan apresiasi dari Prof. Koentjoro, guru besar Psikologi UGM yang merupakan salah satu inisiator aksi ’Petisi Bulaksumur’ dan gerakan ’Kampus Memanggil’.

Menurut Koentjoro, peranan akademisi dalam percaturan politik dalam negeri sangat diperlukan, terutama untuk mengingatkan tujuan dari kekuasaan dalam pemerintahan.

"Semestinya suara-suara para akademisi dan guru besar tidak hanya dipahami sebagai hak demokrasi tetapi juga dipahami isi substansinya. Jika kekuasaan abai dengan suara-suara kritis, keinginan untuk melihat tahun 2045 sebagai Indonesia Emas bisa berganti dengan melihat 2045 Indonesia Cemas," demikian Koentjoro menambahkan.

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Kubu Jokowi Babak Belur Hadapi Kasus Ijazah

Kamis, 01 Januari 2026 | 03:29

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

Mahfud MD: Mas Pandji Tenang, Nanti Saya yang Bela!

Rabu, 07 Januari 2026 | 05:55

UPDATE

Lagi Sakit, Jangan Biarkan Jokowi Terus-terusan Temui Fans

Senin, 12 Januari 2026 | 04:13

Eggi-Damai Dicurigai Bohong soal Bawa Misi TPUA saat Jumpa Jokowi

Senin, 12 Januari 2026 | 04:08

Membongkar Praktik Manipulasi Pegawai Pajak

Senin, 12 Januari 2026 | 03:38

Jokowi Bermanuver Pecah Belah Perjuangan Bongkar Kasus Ijazah

Senin, 12 Januari 2026 | 03:08

Kata Yaqut, Korupsi Adalah Musuh Bersama

Senin, 12 Januari 2026 | 03:04

Sindiran Telak Dokter Tifa Usai Eggi-Damai Datangi Jokowi

Senin, 12 Januari 2026 | 02:35

Jokowi Masih Meninggalkan Jejak Buruk setelah Lengser

Senin, 12 Januari 2026 | 02:15

PDIP Gelar Bimtek DPRD se-Indonesia di Ancol

Senin, 12 Januari 2026 | 02:13

RFCC Complex Perkuat Ketahanan Energi Nasional

Senin, 12 Januari 2026 | 01:37

Awalnya Pertemuan Eggi-Damai dengan Jokowi Diagendakan Rahasia

Senin, 12 Januari 2026 | 01:16

Selengkapnya