Berita

Ilustrasi Foto/Net

Publika

Makan Siang Gratis

Butuh 1 Miliar Ekor Ayam Ras dan 2,5 Juta Ekor Sapi

Oleh: M. Chairul Arifin*
SENIN, 11 MARET 2024 | 16:02 WIB

DALAM Rapat Paripurna Kabinet, tanggal 26 Februari 2024 yang dipimpin Presiden Joko Widodo mulai dibahas rencana program makan siang gratis. Rencana ini merupakan program prioritas dari calon capres-cawapres yang diunggulkan dalam jajak pendapat dari berbagai lembaga survei yaitu Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka.

Berikut ini hasil hitungan yang saya olah berdasarkan pertimbangan teknis semata tentang rencana tersebut yang menyangkut kemungkinan untuk direalisasikan, khusus untuk ternak. Sumber data berasal dari TKN Prabowo-Gibran, BKKBN, Kemenkes dan dari data pengalaman empiris tenis lapangan.

Sasaran 4,8 juta ibu hamil, balita 20,3 juta anak, TK 7,7 juta anak  SD 28 juta siswa.. dan SMP 12,5 juta siswa (Kemenkes dan BKKBN). Kebutuhan bahan pangan meliputi beras  6,7 juta ton, daging unggas 1,2 juta ton, daging sapi 0,5 juta ton, susu 4 juta kilo liter, ikan 10 juta ton (Tim TKN Prabowo-Gibran).


Konversi ke ternak hidup memakai angka parameter usia siap potong unggas 35 hari, sapi 3 tahun, dengan berat hidup unggas 1,5 kg, sapi 400 kg dan persentase berat karkas unggas 80 persen dari berat hidup, persentase karkas sapi 51 persen dari berat hidup. Susu dengan mempertimbangkan produktivitas susu tata-rata 3.300 liter per tahun.

Mengalikan persentase karkas dengan berat hidupnya masing-masing sehingga diperoleh karkas setiap ekor ternak yaitu untuk unggas 80 persen x 1,5  kg = 1,2 kg: sapi 51 persen x 400 kg = 204 kg.

Ternak hidup yang diperlukan dengan membagi kebutuhan totalnya dengan berat karkas per ekor. Unggas 1,2 juta ton: 1,2 kg = 1 millyar ekor ayam broiler tambahan  yang dipotong. Sapi 0,5 juta ton : 204 kg =  2.450.980 ekor ternak sapi. Susu 4 juta kilo liter : 3.300 liter =  1.212.121 ekor sapi perah selama 6 tahun masa produktif laktasinya 305 hari per tahun.

Kondisi Eksisting

Saat ini populasi dan produksi ternak dan hasil ternak baik daging unggas, daging sapi dan susu masih impor.

Produk perunggasan baik telur dan dagingnya sementara ini telah dapat memenuhi permintaan. Bahkan terjadi surplus. Di tahun 2023 produksi daging unggas 3,7 juta ton dan kebutuhan 3,5 juta ton sehingga surplus 0,2 juta ton.

Akan tetapi kebutuhan bibit untuk menghasilkan produksi masih impor dalam bentuk Grand Parent Stok (GPS) dan Parent Stok (PS) Indonesia hanya bisa memperbanyak Final Stock (FS) jadi Commercial Stock.

Daging sapi produksi domestik baru mencapai 448.433 ton atau 54 persen dari kebutuhan sebesar 816.561 ton. Impor dalam bentuk sapi bakalan tinggi yang digemukkan di dalam negeri dan dalam bentuk daging sapi atau kerbau.

Susu, sebagian besar impor dalam bentuk bahan baku. Produksi susu sapi perah rakyat dalam bentuk segar hanya mampu berkontribusi 968.960 ton atau 22 persen dari kebutuhan sebesar 4,4 juta kilo liter. Akibatnya defisit neraca perdagangan komoditi peternakan dan kesehatan hewan Rp83 triliun (2023).

Dampak


Dampak positif dalam jangka panjang dapat  mengurangi stunting dan menyehatkan ibu hamil sehingga mencegah kematian ibu yang melahirkan dan kelahiran dengan bayi berat badan rendah. Kemudian membentuk generasi unggul Indonesia melalui pangan hewani. Dampak pada pembangunan peternakan dan kesehatan hewan.

Hal ini menjadi peluang besar untuk mengoptimalkan potensi plasma nutfah  dalam negeri yang selama ini terabaikan. Program pembibitan dan kesehatan hewan dapat ditingkatkan dengan memperkuat infrastruktur pelayanan bibit dan Pusat Kesehatan Hewan.

Implementasi segera direncanakan dalam RKP dan RAPBN tahun 202 yang dilakukan bertahap sesuai prioritas target sasaran dan tuntas pada tahun 2029 dengan Indikator Kinerja yang terukur.

Alternatif pembiayaan dari APBN sebagai prime movers, dana pungutan (Levy) impor pangan (didahului kajian dan regulasi), kerja sama luar negeri dan dana CSR dari perusahaan. Demikian pokok-pokok pikiran yang mungkin dapat dipertimbangkan dalam mengimplementasikan program makan siang gratis.

*Penulis adalah Purnabakti Kementerian Pertanian, Alumni Universitas Airlangga (UNAIR)

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Abu Janda Cs Jangan Sampai Lolos

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:00

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Profil Achmad Syahri Assidiqi: Legislator Gerindra 'Gamer' Anak Eks DPR RI

Selasa, 12 Mei 2026 | 20:12

Wali Murid Sekolah Islam Terpadu di Tangerang Korban Investasi Bodong Lapor Polisi

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

PSI Ketar-ketir Lawan Jusuf Kalla

Jumat, 08 Mei 2026 | 06:47

UPDATE

Lazismu Kupas Fikih Dam Haji: Daging Jangan Menumpuk di Satu Titik

Jumat, 15 Mei 2026 | 02:12

Telkom Gandeng ZTE Perkuat Pengembangan Infrastruktur Digital

Jumat, 15 Mei 2026 | 01:51

Menerima Dubes Swedia

Jumat, 15 Mei 2026 | 01:34

DPD Minta Pergub JKA Dikaji Ulang dan Kedepankan Musyawarah di Aceh

Jumat, 15 Mei 2026 | 01:17

Benarkah Negeri ini Dirusak Pak Amien?

Jumat, 15 Mei 2026 | 00:42

Pendidikan Tinggi sebagai Arena Mobilitas Vertikal Simbolik

Jumat, 15 Mei 2026 | 00:37

KNMP Diharapkan Mampu Wujudkan Hilirisasi Perikanan

Jumat, 15 Mei 2026 | 00:22

Tuntutan Seret Jokowi ke Pengadilan terkait Kasus Nadiem Mengemuka

Jumat, 15 Mei 2026 | 00:02

Pembangunan SR Masuk Fase Darurat, Ditarget Rampung Juni 2026

Kamis, 14 Mei 2026 | 23:33

Harga Minyakita Masih Tinggi, Pengangkatan Wamenko Pangan Dinilai Percuma

Kamis, 14 Mei 2026 | 23:18

Selengkapnya