Berita

Kawasan yang terdampak angin kencang yang diduga Tornado, di Rancaekek/RMOLJabar

Nusantara

Hasil Kajian Pakar ITB, Pusaran Angin di Rancaekek Termasuk Tornado

MINGGU, 03 MARET 2024 | 22:21 WIB | LAPORAN: ACHMAD RIZAL

Fenomena pusaran angin yang melanda wilayah Rancaekek dan sekitarnya, Rabu (21/2) lalu, mendapat perhatian dosen Program Studi Meteorologi, Nurjanna Joko Trilaksono, dari Kelompok Keahlian Sains Atmosfer, Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian, Institut Teknologi Bandung (ITB).

Kajian diawali dengan survei kondisi lapangan, dibantu Tim Lab Meteorologi Terapan ITB, pada Kamis (22/2) dan Minggu (25/2), dengan metode tanya jawab secara langsung kepada masyarakat terdampak.

Berdasar tanya jawab, di hari pusaran terjadi, tepatnya pukul 15.34 WIB, terlihat pusaran yang tidak tetap di bawah awan. Setelah sepuluh menit, pada pukul 15.44 WIB, terdapat pusaran yang muncul di permukaan.


Pusaran itu terus berjalan hingga diperoleh panjang jalur sekitar 4 kilometer. Dari waktu yang ada, bisa diperkirakan bahwa kecepatan rambat dari apa yang terlihat di pusaran kurang lebih 15 km/jam, dengan perkiraan pusaran hidup dan berjalan sekitar 30 menit.

Luas area kerusakan mencapai 305 hektare dengan lebar 516 meter. Tipe-tipe kerusakan yang terjadi, mulai dari atap yang hilang, bangunan roboh, dan pohon tumbang.

Pantauan citra Satelit Himawari-9 di daerah cekungan Bandung, Bandung Timur, menunjukan, pada pukul 14.00 WIB daerah sekitar Rancaekek relatif cerah dan clear, sementara satu jam berikutnya mulai terdapat awan-awan yang tumbuh. Awan itu adalah awan cumulonimbus yang tumbuh secara cepat di tropopause.

Pada Desember, Januari, dan Februari (DJF), terdapat musim monsun Asia yang masuk ke wilayah Pulau Jawa dari arah barat, sehingga di wilayah Rancaekek dan sekitarnya potensial terbentuk awan konvektif, karena masih ada uap air yang cukup serta terdapat aliran yang masuk dari sela-sela pegunungan sekitar Sumedang.

Aliran yang terpisah ini bakal menciptakan adanya wind shear (perbedaan kecepatan arah angin) yang menyebabkan aliran menjadi berputar. Hal ini yang diperkirakan sebagai mekanisme pembentuk dari pusaran.

“Melalui kajian yang sudah ada di Meteorologi, adanya aliran pola yang berputar ini disebut dengan tornado, terlepas dari berapa intensitasnya. Maka dari itu, fenomena ini kita sebut tornado. Itu merupakan hasil dari asesmen yang telah kita lakukan,” ujar dia seperti dikutip dalam keterangan ITB, Minggu (3/3).

Disinggung soal tornado di Rancaekek yang pertama di Indonesia, Nurjanna Joko Trilaksono menjelaskan, berkaca melalui fenomena yang terjadi dari cumulonimbus, ini bukan hal yang langka.

"Kita bisa yakin dan bilang bahwa itu bukan yang pertama," ucapnya, seperti dikutip dari Kantor Berita RMOLJabar, Minggu (3/3).

Menurut dia, BMKG mempunyai cara lain untuk mendefinisikan puting beliung atau tornado berdasarkan kekuatannya. “Kalau kita mendefinisikan tornado berdasarkan proses fisisnya. BMKG melihat dari aspek kekuatannya yang tidak besar, maka dimasukkan ke dalam kategori puting beliung, meski puting beliung adalah small tornado,” tuturnya.

“Hal yang ingin saya highlight adalah mau tornado atau puting beliung, daripada meributkan itu, lebih baik melihat apa yang menjadi dampak dari awan cumulonimbus ini. Meski kadang seringnya kecil, tetapi bisa juga menjadi besar dan merusak apa yang ada di permukaan. Lebih baik terus belajar, sehingga kita tahu apakah objek cumulonimbus ini bisa menghasilkan bencana dan dampak yang besar atau tidak,” imbuhnya.

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

Usai Dimaafkan Jusuf Hamka, KAKI Dorong Polri Buka Kembali Kasus NCD Unibank

Sabtu, 05 September 2026 | 19:53

UPDATE

KPK Periksa Sejumlah Pejabat BPK di Kasus Suap Audit Pemkab Muara Enim

Senin, 14 September 2026 | 14:27

Pembukaan Rekening Massal Bikin Fiskal Pemerintah Makin Tertekan

Senin, 14 September 2026 | 14:26

Menteri Haji Minta Jemaah Bersiap, Biaya Haji Ditargetkan Tuntas Sepekan

Senin, 14 September 2026 | 14:16

Pembunuh Wanita Muda di Kamar Hotel di Tanah Abang Dibekuk

Senin, 14 September 2026 | 14:12

Megaproyek Northern Metropolis Ambisi Hong Kong Cetak Pusat Ekonomi Baru

Senin, 14 September 2026 | 14:09

Dolar AS Jadi Aset Paling Aman Setahun ke Depan

Senin, 14 September 2026 | 14:01

Mantan Aspri Ridwan Kamil Dipanggil KPK

Senin, 14 September 2026 | 14:01

Mobil Listrik China Mulai Jadi Favorit, JAECOO dan BYD Adu Penjualan

Senin, 14 September 2026 | 13:56

Kemenhaj Kawal Keberangkatan 282 Jemaah Umrah PT AAT Mulai 15 September

Senin, 14 September 2026 | 13:48

Kenaikan Harga Cabai Tak Picu Inflasi di Jakarta

Senin, 14 September 2026 | 13:48

Selengkapnya