Berita

Dosen Ilmu Politik & International Studies Universitas Paramadina, Direktur Eksekutif Institute for Democracy & Strategic Affairs (Indostrategic), A Choirul Umam/Net

Publika

Muncul Sinyal Pengkhianatan di Koalisi Perubahan?

AHMAD KHOIRUL UMAM*
SENIN, 19 FEBRUARI 2024 | 19:53 WIB

PERTEMUAN Presiden Jokowi dan Ketum Nasdem, Surya Paloh, memunculkan spekulasi. Terlebih Ketua Umum PKB, Muhaimin Iskandar, dan fungsionaris PKS mengkonfirmasi bahwa manuver Paloh itu tanpa sepengetahuan partai-partai Koalisi Perubahan untuk Persatuan lainnya.

Karena itu, wajar kalau saat ini santer gonjang-ganjing di internal Koalisi Perubahan yang mulai gusar, karena khawatir dikhianati. Mulai muncul pertanyaan-pertanyaan di internal PKS dan PKB tentang komitmen spirit perubahan dalam diri Paloh dan Nasdem.

Selain itu, manuver Paloh itu seolah membenarkan pernyataan Capres Nomor Urut 1, Anies Baswedan, pada debat Capres pertama, yang menyatakan bahwa banyak pemimpin politik tidak tahan menjadi oposisi, karena membuat mereka tidak bisa berbisnis.


Manuver Paloh tampaknya memanfaatkan momentum pasca statemen Capres terpilih, Prabowo Subianto, yang menyatakan siap merangkul semua pihak, kubu 01 dan 03, untuk memperkuat pemerintahannya.

Terlebih, realitas Pilpres 2024 tidak menghadirkan coattail effect sama sekali, dimana partai Capres harus berpuas diri di peringkat ketiga dengan elektabilitas 13 persen. Konsekuensinya, Prabowo akan memiliki tingkat ketergantungan politik (political dependency) sangat tinggi untuk menjaga stabilitas politik dan pemerintahannya di fase transisi awal kekuasaan, yang seringkali penuh turbulensi.

Untuk mengamankan itu, Prabowo setidaknya harus bisa mengumpulkan sekitar 70 persen kekuatan politik di parlemen.

Kesempatan itu seolah menjadi peluang emas bagi partai-partai menengah dan mediocre untuk putar balik dari koalisi lama, dengan membelot pada kubu pemenang. Sebab, partai-partai kelas tengah cenderung tidak siap berhadap-hadapan dengan kekuasaan. Mereka tampaknya juga tidak siap menanggung risiko dan konsekuensi ekonomi-politik dan stabilitas internal partainya, ketika harus berpuasa dari kekuasaan.

Problemnya, keputusan untuk bergabung dengan kekuasaan merupakan ujian riil terhadap konsistensi atau keistiqomahan partai-partai politik itu terhadap gerakan perubahan dan narasi kritis yang mereka usung selama kampanye jelang Pemilu 2024 lalu. Dimana, baik kubu 01 maupun 03 sangat intens menyerang kubu 02 dan pemerintahan Jokowi sebagai kekuasaan yang merendahkan etika dan konstitusi, tidak memegang moralitas berdemokrasi, hingga dituding mirip dengan karakter kekuasaan otokratik.

Artinya, jika akhirnya mereka memilih bergabung dengan kekuasaan, maka mereka sejatinya tengah menjilat ludah sendiri, dan menipu rakyat yang memilih partainya, setelah terbuai janji-janji perubahan dan narasi kritis kontra-pemerintah yang mereka munculkan.

Rakyat bisa menuding, narasi kritis dan narasi perubahan yang selama ini mereka kampanyekan ternyata hanya gimmick murahan. Sehingga wajar jika rakyat akan bertanya, siapa yang sesungguhnya tidak beretika?

Pertemuan Paloh dengan Jokowi juga memunculkan pertanyaan lanjutan, jika Nasdem hendak masuk ke pemerintahan yang semula dituding tidak demokratis dan tidak beretika itu, lalu mengapa deal politiknya dilakukan dengan Jokowi? Sementara dalam sistem presidensial, kekuasaan tertinggi seharusnya berada di tangan Prabowo sebagai Capres terpilih selanjutnya.

Apakah hal itu menegaskan bahwa Prabowo hanya “petugas Jokowi”? Prabowo atau Jokowi yang memiliki hak veto politik dalam menentukan komposisi dan jatah menteri dalam pemerintahan selanjutnya? Ataukah itu semua tanda-tanda lahirnya akar kontestasi baru bagi hadirnya “matahari kembar” di internal Koalisi Indonesia Maju, yang masing-masing pihak merasa memiliki “saham politik” lebih tinggi dibanding lainnya?

Bisa kita uji dan cermati melalui dinamika pasca 20 Oktober 2024.

Menurut informasi spekulatif, Nasdem dikabarkan positif masuk ke pemerintahan, setelah mengeruk ceruk massa pro-perubahan yang menentang pemerintahan. Lalu, lingkaran istana dan Prabowo sendiri juga sedang mengusahakan pendekatan untuk meyakinkan PDIP bersedia ikut membackup pemerintahan Prabowo ke depan, sebagaimana PDIP dulu mempersilahkan Prabowo masuk ke kekuasaan, setelah kalah dari Jokowi di Pilpres 2019.

Sementara itu, PPP jelas tidak kuat bertahan dari luar kekuasaan, dan akan terus mencari jalan untuk bergabung. Sedang jika PKS dan PKB bergabung, tampaknya agak problematik di fase awal. Sebab PKS tergolong paling kuat menyerang pemerintahan Jokowi, sedangkan PKB sendiri intens menggunakan “slepet”-nya untuk menghantam kredibilitas pemerintahan dan Jokowi secara personal.

Namun, semua itu bergantung pada basis kebutuhan penciptaan stabilitas politik dan pemerintahan di fase awal transisi kekuasaan Prabowo ke depan.

*Dosen Ilmu Politik & International Studies Universitas Paramadina, Direktur Eksekutif Institute for Democracy & Strategic Affairs (Indostrategic)

Populer

Kematian Penjaga Rumah Febrie Harus Diusut Tuntas

Senin, 27 Juli 2026 | 19:53

Jubir IKN Troy Pantouw Sempat Telepon Keluarga Sehari Sebelum Ditemukan Meninggal

Minggu, 26 Juli 2026 | 20:58

Putusan Eksepsi Dokter Tifa Berujung Antiklimaks

Minggu, 02 Agustus 2026 | 05:20

Oknum Brimob Jadi Tersangka, KPK Pastikan Sanksi Pidana hingga Etik Menanti

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:44

15 Jeriken Bensin yang Menenggelamkan Jabatan Ayah

Senin, 27 Juli 2026 | 01:03

Dana Nasabah Rp2,58 Miliar Raib, BCA Digugat ke PN Jakpus

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:02

KPK Konstruksikan Dugaan Fee Rp3,5 Miliar dari Waskita untuk Eks Ketum HIPMI

Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:18

UPDATE

Mafia Infrastruktur Diduga Kepung Menteri Dody Lewat Isu Miring

Kamis, 06 Agustus 2026 | 00:05

Menhan hingga Ketua Komisi I DPR Terima Brevet Korps Marinir

Rabu, 05 Agustus 2026 | 23:46

Ketimpangan Penduduk Meningkat, Gini Ratio Naik ke 0,368

Rabu, 05 Agustus 2026 | 23:22

Mahkamah Agung Diminta Evaluasi Ketua PN Jakarta Timur

Rabu, 05 Agustus 2026 | 22:38

Gempa M 6,4 Guncang Kepulauan Talaud, Tidak Ada Korban Jiwa

Rabu, 05 Agustus 2026 | 22:31

Kader Golkar Wonosobo Ngadu ke DPP soal Dua Kali Musda

Rabu, 05 Agustus 2026 | 22:14

Di Balik Tribun Sunyi Piala Presiden, Puluhan Pecalang Jaga Harmoni El Clasico

Rabu, 05 Agustus 2026 | 22:09

Kisruh Diadukan ke Bahlil, Mafa Uswanas Diusulkan jadi Plt Ketum AMPI

Rabu, 05 Agustus 2026 | 21:50

Pergeseran Public Goods Sektor Kesehatan

Rabu, 05 Agustus 2026 | 21:40

BRAINS Demokrat Kolaborasi Bareng IRI Perkuat Demokrasi Lintas Negara

Rabu, 05 Agustus 2026 | 21:17

Selengkapnya