Berita

Ilustrasi/Net

Kesehatan

Stunting dan Gizi Buruk Berbeda, Ini Penjelasannya

JUMAT, 16 FEBRUARI 2024 | 10:06 WIB | LAPORAN: AHMAD KIFLAN WAKIK

Stunting masih menjadi masalah bagi keterpenuhan nutrisi bagi anak-anak di Indonesia. Persoalan stunting, banyak dibahas setidaknya setelah menjadi topik perdebatan di antara calon presiden.

Tetapi, sebagian masyarakat belum tahu apa sebenarnya stunting. Selama ini masih banyak yang bingung untuk membedakan antara stunting, gizi kurang, dan gizi buruk.

Ketiga kondisi itu secara kasat mata hampir sama. Padahal antara stunting, gizi kurang, dan gizi buruk terdapat beberapa perbedaan.


Ketiga hal kondisi itu, dijelaskan Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Produk Bernutrisi untuk Ibu dan Anak (APPNIA) Vera Galuh Sugijanto. Dia menyampaikan, penyebab utama gizi buruk adalah kekurangan asupan makanan yang bernutrisi sesuai kebutuhan masing-masing kelompok usia anak.

"Selain itu, gizi buruk juga sering disebabkan oleh gangguan penyerapan nutrisi akibat penyakit kronis, misalnya diare kronis atau TBC," ujar Vera dalam keterangan tertulis, Jumat (16/2).

Katanya, pada balita jika gizi kurang dan gizi buruk tidak segera diintervensi dengan kuat, maka anak akan dapat jatuh pada kondisi stunting.

Karena itu, orang tua harus selalu memantau tumbuh kembang anak, khususnya dari tinggi dan berat badan. Orang tua bisa memeriksakan anak secara berkala ke pelayanan kesehatan yang terjangkau seperti Posyandu.

Sementara, lanjunya, indikator stunting terdiri atas anak berbadan lebih pendek untuk seusianya, proporsi tubuh cenderung normal tetapi anak tampak lebih kecil untuk usianya. Berat badan rendah untuk anak seusianya, dan pertumbuhan tulang tertunda.

Adapun indikator gizi kurang atau gizi buruk ditandai dengan tubuh anak tampak sangat kurus, wajah keriput, kulit kering, perut tampak buncit, sering lemas dan tidak aktif bermain, gangguan tumbuh kembang, rambut mudah rontok dan tampak kusam, serta pembengkakan (edema) di tungkai.

Vera menegaskan, gizi buruk berbeda dengan stunting. Gizi buruk ditandai dengan badan anak yang terlalu kurus dibandingkan tinggi badannya.

Sedangkan stunting ditandai dengan tinggi badan anak yang lebih pendek dari standar usianya. Yang menyamakan gizi buruk dengan stunting bermula dari defisiensi nutrisi.

Stunting disebabkan oleh defisiensi nutrisi yang terjadi dalam jangka waktu lama atau berulang selama 1.000 hari pertama kehidupan anak. Penanganan stunting harus dimulai sejak 1.000 hari pertama kehidupan tersebut.

"Pencegahan (stunting) sejak dalam kandungan. Sementara penyebab gizi buruk terjadi ketika anak tidak mendapatkan asupan gizi yang baik pada usia berapa pun," terangnya.

Untuk mengatasi defisiensi nutrisi dan mencegah stunting, masih kata Vera, Kementerian Kesehatan telah mempromosikan kampanye "Protein Hewani Cegah Stunting". Kampanye itu diluncurkan pada 2023 tepatnya saat peringatan Hari Gizi Nasional ke-63.

Sambungnya, protein hewani adalah salah satu instrumen gizi penting yang dibutuhkan oleh ibu hamil guna mencegah stunting pada anak.

"Hal ini dikarenakan pangan hewani mempunyai kandungan zat gizi yang lengkap, kaya protein, mineral, dan vitamin yang sangat penting dalam mendukung pertumbuhan dan perkembangan," demikian Vera.

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

Suyudi Pede Gusur Puluhan Pati-Pamen Loyalis Listyo

Selasa, 06 Oktober 2026 | 05:09

Pengusaha Keberatan Masa Kerja Karyawan Kontrak Dipangkas jadi Empat Tahun

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:20

UPDATE

Main di Kandang PSIM, Persija Menang Telak 4-0

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 19:49

Cukai MBDK Mulai Dipungut Semester II/2027, Target Rp1,7 Triliun

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 19:30

DPR Ingatkan Bijak di Ruang Digital dan Cegah Perundungan Siber

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 18:51

Ekspor Emas Anjlok, Bea Cukai Ungkap Perusahaan Tahan Pengiriman

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 18:38

Usai Dilantik, Kapolda Metro Jaya Serap Aspirasi Insan Pers

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 17:49

Pertamina Perkuat Ekosistem MyPertamina di MotoGP Mandalika

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 17:30

Tegas dan Loyal, Demokrat: Tidak Ada Nama Selain Prabowo untuk Kontestasi 2029

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:36

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

YLBHI Minta Polresta Solo Hentikan Dugaan Kriminalisasi Kasus Perdata jadi Pidana

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 15:36

Pertamina Perkuat Pengelolaan Sampah Mandalika Lewat Dukungan untuk Bank Sampah Putri Nyale

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 15:09

Selengkapnya