Berita

Ilustrasi badai Matahari/Net

Tekno

Teknologi Terbaru NASA Bisa Prediksi "Kiamat" 30 Menit Sebelum Terjadi

MINGGU, 11 FEBRUARI 2024 | 06:56 WIB | LAPORAN: AGUS DWI

Tak satupun orang yang tahu kapan kiamat akan terjadi. Meski demikian, hari akhir atau kiamat memiliki sejumlah tanda-tanda.

Tanda-tanda inilah yang "dimanfaatkan" sekelompok tim peneliti di badan antariksa Amerika Serikat (NASA), dengan bantuan kecerdasan buatan (AI), untuk memprediksi "kiamat lokal" di Bumi akibat amukan badai Matahari.

Menurut hasil perhitungan teknologi milik NASA ini, manusia di Bumi punya waktu 30 menit untuk bersiap sebelum kiamat meledak. Waktu 30 menit itu adalah perbedaan kecepatan cahaya dan waktu yang dibutuhkan oleh material yang terlontar dari Matahari untuk sampai ke permukaan Bumi.


Dampak dari badai Matahari memang tak bisa dianggap sepele. Sekitar 35 tahun lalu, misalnya, badai Matahari membuat kota Quebec di Kanada mati listrik selama berjam-jam.

Bahkan, menurut Science Alert, fenomena yang lebih dahsyat pernah terjadi di Carrington, Inggris, sekitar 150 tahun lalu. Jika peristiwa di Carrington terjadi pada era modern, infrastruktur listrik dan komunikasi bisa hancur lebur.

Nah, dengan bantuan AI, ilmuwan NASA bisa memperkirakan apa kapan badai Matahari akan menghantam Bumi. Meski hanya 30 menit sebelum terjadi.

Selain memperkirakan waktu yang dibutuhkan oleh suar surya untuk menghantam Bumi, peneliti NASA juga menyusun prediksi dampak yang akan ditimbulkan oleh material Matahari ke penghuni Bumi.

Adapun nama model yang digunakan oleh peneliti NASA ini adalah DAGGER, yang artinya belati. Teknologi ini membuat prediksi bisa makin cepat sehingga bisa meramal arah dan tingkat keparahan dampak badai Matahari hanya dalam hitungan detik. Bahkan mampu membuat prediksi baru setiap menit.

DAGGER juga mampu memprediksi lokasi di Bumi yang akan terimbas langsung oleh badai Matahari. Kecepatan prediksi dan kemampuan pengolahan data yang jauh lebih besar membuat DAGGER menjanjikan untuk diterapkan sebagai sistem peringatan dini dari dampak badai Matahari.

Kini, perusahaan komunikasi dan infrastruktur listrik punya waktu relatif pendek untuk mengintegrasikan DAGGER ke sistem mereka. Sebab, pada 2025, aktivitas Matahari diperkirakan akan mencapai puncaknya.

Populer

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

Dua Tahun Cukup bagi Prabowo Mengasuh Geng Solo

Selasa, 13 Oktober 2026 | 13:43

UPDATE

Bursa Asia Tertekan, Kospi Anjlok Lebih 2 Persen

Jumat, 23 Oktober 2026 | 08:33

Ekonom Sentil Menteri Prabowo: Jangan Jadi Beban Presiden!

Jumat, 23 Oktober 2026 | 08:21

Wall Street Tertekan Aksi Jual Saham Teknologi

Jumat, 23 Oktober 2026 | 07:56

Lonjakan Minyak Tekan Logam Dunia: Emas Anjlok ke Level Terendah

Jumat, 23 Oktober 2026 | 07:45

Saham BYAN Tancap Gas, Naik 3,16 Persen ke Rp10.600

Jumat, 23 Oktober 2026 | 07:22

Penguatan IHSG Sinyal Kepercayaan ke Pemerintah Mulai Pulih

Jumat, 23 Oktober 2026 | 07:10

Pasar Eropa Merah Gara-gara Minyak

Jumat, 23 Oktober 2026 | 07:06

Terbuka Peluang Bangun Museum Haji Indonesia

Jumat, 23 Oktober 2026 | 06:58

Pujian Prabowo Jangan Jadi Obat Tidur Menteri

Jumat, 23 Oktober 2026 | 06:57

Pemerintah Harus Berlakukan Wajib Halal pada Oktober 2026

Jumat, 23 Oktober 2026 | 06:19

Selengkapnya