Berita

Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo/Net

Publika

Mbelingnya Politik Jokowi

KAMIS, 01 FEBRUARI 2024 | 07:40 WIB | OLEH: DJONO W OESMAN

Tak dinyana, Presiden Jokowi mbeling. Baru ketahuan belakangan ini. Setelah ia digunjing isu politik dinasti, disusul kemudian pernyataannya, bahwa Presiden RI boleh memihak (betul, berdasar UU Pemilu, Pasal 299 Ayat 1). Terbaru, ‘politik bakso;, Jokowi makan bakso dengan Prabowo Subianto.

MBELING bahasa Jawa, berarti nakal. Biasa ditujukan untuk anak kecil yang suka menggoda teman, pria atau wanita. Bisa juga ditujukan untuk orang dewasa yang suka bercanda, menggoda teman.

Jokowi sudah beberapa kali digunjing masyarakat, khususnya pihak partai politik pengusung Capres-Cawapres nomor urut 1 dan 3. Pertama, dengan istilah politik dinasti. Ketika Ketua Mahkamah Konstitusi, Anwar Usman, ikut jadi hakim yang putusannya menguntungkan Gibran Rakabuming Raka, sehingga bisa jadi Cawapres pada usia 36. Jokowi digunjing hebat. Lalu reda ditelan waktu.


Tahu-tahu, Jokowi mengatakan, bahwa Presiden RI boleh memihak (dalam Pilpres 2024). Itu dikatakan Jokowi kepada wartawan di Landasan Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta, Rabu, 24 Januari 2024. Begini:

"Presiden itu boleh loh kampanye. Presiden itu boleh loh memihak. Boleh, tetapi yang paling penting waktu kampanye tidak boleh menggunakan fasilitas negara."

Pernyataan Jokowi itu diucapkan setelah heboh wacana pemakzulan, alasan Jokowi memihak. Maka, wartawan bertanya, apakah Jokowi memihak dalam Pilpres 2024? Dijawab Jokowi begini (bergurau):

"Nah… itu yang saya mau tanya, memihak ndak?" Jokowi tertawa.

Dilanjut: "Presiden berkampanye boleh, sesuai Undang Undang. Memihak juga boleh. Tapi kan dilakukan atau tidak dilakukan, itu terserah individu (presiden dan wakil presiden) masing-masing."

Jawaban Jokowi terdengar santai. Bisa ditafsirkan meledek lawan politiknya. Tepatnya, meledek kelompok kompetitor Capres-Cawapres nomor urut 1 dan 3, saingan politik Prabowo-Gibran.

Terbaru, Jokowi mengajak Capres Prabowo makan bakso di warung bakso di Bandongan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, Senin, 29 Januari 2024. Pertemuan itu diliput banyak wartawan. Wartawan menjuluki pertemuan itu sebagai ‘politik bakso’.

Apa kata Jokowi soal ia mengajak Prabowo makan bakso? Dijawab kepada wartawan, begini:

"Ini kan, baru saja saya dengan Pak Prabowo meresmikan Graha Utama di Akademi Militer, Magelang. Setelah itu kami makan bakso..Sudah.”

Ditanya wartawan, menunya apa? Dijawab Jokowi, baik dirinya dan Prabowo Subianto memesan menu yang sama.

Jokowi: "Menunya sama. Kami makannya sampai habis," ucap Jokowi, menunjuk mangkok bakso yang sudah kosong. Menu yang mereka makan: bakso, kelapa muda, dan tahu goreng.

Saat ditanya isi obrolan, Jokowi menjawab, membicarakan selera bakso yang mereka pesan.

Jokowi: "Ngobrolin bakso, ngobrolin kelapa muda, ngobrolin tahu goreng, enak nggak, Udah gitu."

Wartawan tak mungkin mengorek isi pembicaraan Jokowi-Prabowo yang sebenarnya. Sebab, hal itu menyangkut privasi Jokowi-Prabowo.

Lalu wartawan bertanya ke Prabowo. Ternyata Prabowo juga jago diplomasi dalam menjawab pertanyaan wartawan.

Prabowo mengaku senang bisa makan bakso bersama Presiden Jokowi. Prabowo mengatakan, ia percaya pada selera kuliner Jokowi. Maka, ia bersedia diajak makan bakso.

Prabowo: “Pak Jokowi itu tahu saja tempat makan enak di mana-mana.”

Jawaban taktis Prabowo itu menggambarkan keakraban Jokowi-Prabowo. Sebagai keindahan keakraban mereka. Kontradiksi dengan saat kampanye Pilpres 2019, saat mereka berkompetisi head-to head.

Di masa kampanye Pilpres 2024 sekarang, pertemuan tersebut pasti ditafsirkan sebagai simbol politik. Sehingga disebut politik bakso. Ternyata pertemuan itu juga dikomentari pihak kompetitor paslon Prabowo-Gibran.

Jubir Tim Pemenangan Nasional (TPN) Ganjar Pranowo-Mahfud MD, Achmad Baidowi kepada wartawan, Selasa, 30 Januari 2024 mengatakan:

“Ya…  namanya usaha, pertemuan itu sebenarnya tinggal deklarasi saja. Rakyat sudah tahu, sinyal Jokowi itu ke mana. Rakyat sudah tahu sebenarnya."

Menurutnya, pertemuan Jokowi-Prabowo itu sebagai usaha Jokowi menaikkan elektabilitas Prabowo-Gibran di Pilpres 2024.

Baidowi: "Silakan, kalau berani Jokowi secara terang-terangan deklarasi mendukung Prabowo-Gibran. Biarkanlah rakyat yang menilai. Namanya juga usaha, tapi kan pemilih kita solid, semua pemilih capres itu kan solid ke dukungannya masing-masing.”

Kelihatan, Baidowi terpancing emosi, dengan menyatakan tantangannya “silakan Jokowi kalau berani terang-terangan dukung Prabowo-Gibran”. Ia terpancing oleh mbelingnya Jokowi dalam berpolitik.

Sebenarnya, Jokowi tak perlu lagi terang-terangan menyatakan dukungan ke Prabowo-Gibran. Sudah banyak indikator, Jokowi mendukung Prabowo-Gibran.

Dengan adanya Gibran di situ, pasti Jokowi mendukung Prabowo-Gibran. Dengan adanya isu politik dinasti, juga meneguhkan kepastian. Apalagi Jokowi juga menyatakan (sambil tertawa) bahwa Presiden RI boleh memihak di Pilpres. Ditambah lagi, politik bakso itu.

Semua itu secara eksplisit merupakan deklarasi Jokowi mendukung Prabowo-Gibran. Sudah tidak perlu diucapkan lagi. Di situlah mbelingnya Jokowi. Ia tidak gentar dengan serangan politik lawan, malah dibuat bercanda, meledek lawan politik.

Dengan begitu, Jokowi percaya diri pada sikap politiknya. Percaya diri, Prabowo-Gibran bakal menang.

Rasa percaya diri Jokowi akan diuji di Pilpres, 14 Februari 2024. Apakah dukungannya menang atau kalah.

Penulis adalah Wartawan Senior

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

UPDATE

Jawab Tantangan Digital, Bawaslu Jadikan Kampus Laboratorium Demokrasi

Kamis, 01 Oktober 2026 | 05:54

DPD Ungkap Pola Investor ‘Berjudi’ Properti di Bali, Beli Aset Lalu Jual Lagi

Kamis, 01 Oktober 2026 | 05:24

Denny Indrayana Cs Debat Sengit dengan KPU soal Verifikasi Data Calon

Kamis, 01 Oktober 2026 | 04:50

Nakhoda KM Virgo Transport 8 Langsung Ditahan Penyidik

Kamis, 01 Oktober 2026 | 04:20

Digagas di Era Purbaya, Wacana Insentif Motor Listrik Masih Belum Jelas

Kamis, 01 Oktober 2026 | 03:59

Saksi Denny Indrayana Ungkap Tak Ada Bahasa Verifikasi Faktual Dokumen Capres-cawapres

Kamis, 01 Oktober 2026 | 03:34

Sjafrie Sematkan Tanda Kehormatan ke Tentara Jepang yang Bantu Atasi Karhutla

Kamis, 01 Oktober 2026 | 03:09

Kader PDIP Berpotensi Jabat Wapres Jika Gibran Didiskualifikasi

Kamis, 01 Oktober 2026 | 02:55

TNI Hormati Kejagung Imbas Penetapan Kolonel Budi Tersangka Korupsi MBG

Kamis, 01 Oktober 2026 | 02:42

Kemenperin Dukung Impor KRL Bekas dari Jepang, Ini Alasannya

Kamis, 01 Oktober 2026 | 02:18

Selengkapnya