Berita

P2Mi menyelenggarakan Sharing Time bersama para ahli untuk memberikan informasi yang benar tentang MSG atau micin, di Jakarta, Senin 29 Januari 2024/RMOL

Kesehatan

Micin Berbahaya untuk Kesehatan dan Bikin Bodoh? Ini Kata Ahli

SENIN, 29 JANUARI 2024 | 16:53 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Memasak tanpa menambahkan penyedap rasa seperti monosodium glutamate (MSG) rasanya kurang afdol. Namun begitu, banyak tanggapan miring tentang MSG (Monosodium Glutamat) atau yang kita kenal sebagai micin.

Umumnya, masyarakat percaya bahwa micin tidak baik untuk kesehatan, bahkan bisa membuat seorang anak menjadi bodoh.

Perkumpulan Pabrik Mononatrium Glutamat dan Asam Glutamat Indonesia(P2MI) menyelenggarakan "Sharing Time" untuk memberikan informasi yang benar sekaligus membuka wawasan masyarakat mengenai amannya mengkonsumsi MSG, pada Senin (29/1) di Jakarta.


Ketua Bidang Komunikasi Perkumpulan Pabrik Mononatrium Glutamat dan Asam Glutamat Indonesia (P2MI), Satria Gentur Pinandita, mengatakan, MSG atau Bumbu Ummi telah digunakan selama lebih dari satu abad untuk meningkatkan dan menyeimbangkan rasa gurih makanan. Penggunaannya sudah tersebar luas. Namun, menurutnya, kesalahpahaman konsumen tentang MSG cukup umum, dengan banyaknya mitos tentang MSG yang beredar di internet dalam beberapa tahun terakhir.

“Masih banyak tanggapan miring beredar di masyarakat mengenai micin ini. Hari ini kami dari P2MI berinisiatif memberikan informasi yang benar mengenai amannya mengkonsumsi MSG lewat pertemuan ini," kata Satria.

Sementara itu, dr. Sheena M.Gz, SpGk, AIFO mengatakan, penelitian yang lebih mendalam menunjukkan bahwa asupan normal micin tidak memiliki efek negatif terhadap fungsi otak. Pada kenyataannya, glutamat adalah senyawa neurotransmitter yang berperan dalam penghantaran sinyal saraf.

Mengenai ada keluhan alergi, bisa saja terjadi pada beberapa orang, tetapi sangat kecil sekali. Sheena menegaskan, glutamat merupakan salah satu asam amino yang paling umum yaitu bahan yang membangun protein dalam makanan dan tubuh.

"Ini adalah penambah rasa alami dan banyak ditemukan pada makanan seperti jamur, keju parmesan, dan tomat. Tubuh kita memperlakukan glutamat dalam bumbu MSG dan glutamat alami dari banyak makanan yang kita nikmati sehari-hari dengan cara yang sama tanpa membedakan asal-usulnya. Karenanya kecil kemungkinan orang-orang sensitif terhadap MSG," katanya.

Begitu juga dengan keluhan munculnya sakit kepala setelah mengonsumsi MSG. Sheena menegaskan, MSG tidak memicu sakit kepala.

"Beberapa makanan memang telah dikaitkan dengan migrain, tetapi baik glutamat maupun MSG tidak terbukti menjadi penyebab langsung, bahkan setelah dilakukannya penelitian ekstensif dengan dosis glutamat yang besar," katanya.

Pada Januari 2018, International Headache Society menghapus MSG dari daftar faktor penyebab sakit kepala. Sebelumnya, MSG telah terdaftar sebagai zat yang dikaitkan dengan sakit kepala di International Classification of Headache Disorders (ICHD) Society. Sekarang, dalam ICHD edisi ke-3, berdasarkan bukti ilmiah terbaru, MSG telah dihapus dari daftar ini.

P2MI beranggotakan perusahaan-perusahaan yang memproduksi MSG seperti Sasa, Miwon, dan Ajinomoto, yang telah memiliki sertifikat halal dari MUI dan izin edar dari BPOM. Perkumpulan ini berdiri sejak 15 September 1971 yang didasari atas kepentingan untuk memajukan dunia usaha pangan khususnya bahan tambahan pangan MSG (monosodium glutamat) dan turunannya di seluruh wilayah Indonesia.

P2MI memiliki visi menjadi asosiasi yang memberikan informasi yang benar dan faktual tentang MSG dan turunannya kepada masyarakat dan instansi terkait, serta memajukan Industri MSG dan GA di Indonesia, agar dapat berdaya saing tinggi.

Populer

10.060 Jemaah Umrah Telah Kembali ke Tanah Air

Kamis, 05 Maret 2026 | 09:09

Rumah Bersejarah di Menteng Berubah Wujud

Sabtu, 07 Maret 2026 | 22:49

Pengacara Terkenal yang Menyita Perhatian Publik

Minggu, 08 Maret 2026 | 11:44

KPK Dikabarkan Gelar OTT di Cilacap Jawa Tengah

Jumat, 13 Maret 2026 | 14:54

Siapa Berbohong, Fadia Arafiq atau Ahmad Luthfi?

Sabtu, 07 Maret 2026 | 06:42

Bangsa Tak Akan Maju Tanpa Makzulkan Gibran dan Adili Jokowi

Senin, 09 Maret 2026 | 00:13

Fahira Idris Dukung Pelarangan Medsos Buat Anak di Bawah 16 Tahun

Minggu, 08 Maret 2026 | 01:58

UPDATE

Bahaya Tersembunyi Kerikil di Ban Mobil dan Cara Mengatasinya

Sabtu, 14 Maret 2026 | 10:15

PKS: Pemerintah harus Segera Tetapkan Aturan Pembatasan BBM Bersubsidi

Sabtu, 14 Maret 2026 | 10:14

Mengupas Bahaya Air Keras Menyusul Kasus Penyerangan Aktivis KontraS di Jakarta

Sabtu, 14 Maret 2026 | 09:52

Kemenhaj Tegaskan Komitmen Haji Inklusif bagi Lansia dan Disabilitas

Sabtu, 14 Maret 2026 | 09:47

Qatar Kutuk Serangan Brutal Israel di Lebanon

Sabtu, 14 Maret 2026 | 09:23

Harga Minyak Brent Tembus 103 Dolar AS

Sabtu, 14 Maret 2026 | 09:10

AS Kirim Ribuan Marinir ke Timur Tengah, Iran Terancam Invasi Darat

Sabtu, 14 Maret 2026 | 08:41

Wall Street Rontok Menatap Kemungkinan Inflasi Global

Sabtu, 14 Maret 2026 | 08:23

Transformasi Kinerja BUKA: Dari Rugi Menjadi Laba Rp3,14 Triliun di 2025

Sabtu, 14 Maret 2026 | 08:08

Anggaran Pendidikan Diperebutkan, Sistemnya Tak Pernah Dibereskan

Sabtu, 14 Maret 2026 | 07:48

Selengkapnya