Berita

Pasukan militer Israel di sepanjang perbatasan antara Gaza dan Israel Selatan pada Minggu, 31 Desember 2023. Israel akan terus berperang dengan Hamas di Gaza sepanjang tahun 2024/Menahem Kahana-AFP

Dahlan Iskan

Jarak Dekat

KAMIS, 25 JANUARI 2024 | 07:04 WIB | OLEH: DAHLAN ISKAN

INILAH yang ditakutkan Israel: perang darat. Jagoan di serangan udara itu masih kesulitan menemukan di mana sandera Hamas disembunyikan.

Satu per satu bangunan yang jadi markas Hamas diserbu. Dihancurkan. Warga Israel yang disandera, 132 orang, belum juga ditemukan.

Hamas pun kian berani perang jarak dekat. Mereka tahu bangunan mana saja yang akan didatangi tentara Israel. Maka militan Hamas mengincar kedatangan mereka: Selasa lalu. Yang ditunggu pun datang. Pasukan Israel siap menghancurkan bangunan dua lantai itu. Kedatangan mereka dikawal dan dilindungi tank. Militan Hamas pun menunggu sampai mereka mendekat: booommm! Tank itu ditembak dengan RPG. Hancur. Dua tentara Israel di dalamnya tewas.


Sesaat kemudian ketika sejumlah tentara Israel memasuki bangunan, booommm! Senjata RPG yang lain meledak. Bangunan itu hancur. Sebanyak 21 tentara Israel tewas di dalam bangunan. Itulah korban perang di pihak Israel terbesar dalam satu serangan. Sorenya jumlah yang meninggal bertambah tiga lagi --menjadi 24 orang.

Mereka yang tewas itu sebenarnya tentara yang sudah tidak aktif. Mereka dipanggil negara untuk menyerbu Hamas di Gaza. Dari daftar yang tewas umumnya berumur antara 21 sampai 35 tahun.

Taktik menunggu musuh jarak dekat seperti itu menandakan dua hal.

Pertama, Hamas kian terdesak. Sedikit demi sedikit wilayahnya dikuasai tentara Israel. Bangunan-bangunan yang diduga menjadi markas para militan Hamas diserbu. Posisi Hamas yang kian terdesak membuat taktik perang jarak dekat dilakukan Hamas. Kalau perlu pakai risiko maksimal: tertembak.

Kemungkinan kedua, militan Hamas kian militan. Mereka kian sulit bergerak. Tidak ada pilihan: dibunuh atau membunuh. Maka Israel tidak bisa gegabah lagi melakukan serangan. Bisa jadi Hamas memasang senjata ranjau di bangunan-bangunan yang akan diserbu Israel. Atau satu-dua militan sengaja menunggu kedatangan tentara Israel. Lalu diserbu dari jarak dekat.

Perang Israel-Hamas ini sebenarnya tidak imbang. Tapi sudah 3,5 bulan belum berakhir. Bahkan lokasi sandera pun belum ditemukan.

Menyembunyikan 132 sandera sungguh tidak mudah. Tapi Hamas mampu mempertahankan sandera. Tawaran terakhir Israel langsung ditolak Hamas. Yakni Israel sanggup genjatan senjata dua bulan kalau seluruh tawanan dibebaskan.

Tawanan, bagi Hamas adalah senjata penting. Konon serbuan Hamas ke acara musik psychedelic Israel tanggal 7 Oktober lalu punya tujuan itu –mencari tawanan Israel.

Untuk apa?

Banyak militan Hamas yang ditahan di Israel. Ribuan. Hamas selalu gagal memperjuangkan pembebasan mereka. Maka harus dicari sandera baru. Sebagai nilai tawar tukar tahanan.

Tewasnya 24 tentara Israel di satu peristiwa merupakan kejutan kedua. Inilah jumlah korban terbesar.

Hamas telah menemukan taktik perang jarak dekat. Kalau taktik itu dianggap berhasil tentu banyak bangunan lain yang disiapkan untuk perang jarak dekat.

Apa yang terjadi di Gaza sekarang ini mengingatkan saya pada para gerilyawan Indonesia di sekitar perang kemerdekaan. Secara kekuatan senjata gerilyawan kita tidak sebanding dengan Belanda. Tapi para gerilyawanan itu tidak takut. Mereka selalu bisa mencari cara menyergap pasukan Belanda.

Namun medan perang di Gaza sangat sempit. Hanya sekitar 40 x 100 km. Tanpa hutan. Tanpa pegunungan. Mau ngumpet di mana. Tapi mereka masih bisa menyembunyikan 132 orang.

Di Israel, tewasnya 24 tentara itu jadi momentum kenaikan semangat patriotisme. "Tidak ada jalan damai sebelum Israel menang".

Apa arti menang di situ?

Sampai 132 sandera dibebaskan?

Sampai semua tokoh Hamas dibunuh atau menyerah?

Sampai seluruh Gaza diduduki Israel?

Sampai semua orang di Gaza dibunuh?

Belum ada tafsir arti menang di situ. Yang jelas PM Israel tidak mau ada dua negara di Tanah Palestina itu. Berarti tidak akan ada negara Palestina Merdeka.

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Boikot Raffi Ahmad-Willie Salim Cederai Nilai Demokrasi

Senin, 02 November 2026 | 20:11

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

KPK Bongkar Dugaan Akal-akalan Cukai Rokok PT Djarum Sejak 2010

Senin, 02 November 2026 | 15:43

UPDATE

Baru 10 Jam, Tulisan SBY Soal Politik Liar Tembus 9 Juta Tayangan di X

Rabu, 04 November 2026 | 20:21

Menag Dorong PTKIN Jadi Pelopor Hilirisasi dan Inovasi Teknologi

Rabu, 04 November 2026 | 20:19

Polri Harus Jaga Integritas dan Kepercayaan Publik di Kasus Listyo Sigit

Rabu, 04 November 2026 | 20:17

Aturan Penyadapan Ilegal di Indonesia, Ini Ancaman Hukuman bagi Pelaku

Rabu, 04 November 2026 | 20:11

Ketum KNPI Minta Penegak Hukum Serius Usut Dugaan Penyadapan Presiden

Rabu, 04 November 2026 | 20:07

Tanggapan Allianz Setelah Digugat Rp5,2 Miliar di PN Jaksel

Rabu, 04 November 2026 | 20:02

Jorindo Indonesia Gandeng Mubarak Dubai Jalin Kerja Sama Operasi Salvage

Rabu, 04 November 2026 | 19:57

4 Kasus Penyadapan Presiden Indonesia, dari Habibie hingga Prabowo

Rabu, 04 November 2026 | 19:52

BRI Kukuhkan 35 Penerima Beasiswa BRI Fellowship Journalism 2026

Rabu, 04 November 2026 | 19:49

Kasus Intimidasi Meningkat, Dewan Pers Tegaskan Komitmen Lindungi Wartawan

Rabu, 04 November 2026 | 19:48

Selengkapnya