Berita

Debat Calon Presiden 2024 yang digelar KPU RI di Istora Senayan, Jakarta, Minggu (7/1)/RMOL

Publika

Debat Ketiga Mengecewakan, KPU-Panelis-Capres Harus Dievaluasi

SELASA, 09 JANUARI 2024 | 15:18 WIB | OLEH: SALAMUDDIN DAENG

DEBAT ketiga capres sama sekali tidak tampak sebagai debat yang berkualitas melalui eksplorasi gagasan dan menemukan terobosan.

Debat lebih sebagai untuk menyudutkan lawan bicara, memprovokasi, dan kecenderungannya subjektivitas pribadi dalam menilai lawan atau fokus mencari kesalahan lawan, tapi tidak dalam konteks materi debat. Mirip orang putus pacar, salah dicari sampai lubang semut.

Padahal tema debat kali ini berat bagi masyarakat umum dan masalah yang didebat adalah kompleks dan tidak linier. Debat tema ini sangat kuat aspek ekonomi politiknya dan memang itulah tools yang baik dalam memahami dan memecahkan masalah bangsa saat ini.


Debat ini mengambil tema pertahanan keamanan, hubungan luar negeri, geopolitik dan lain-lain. Sangat banyak tema dan masalah yang dapat dieksplorasi dalam debat ini, sebenarnya.

Karena, debat ini juga seharusnya menunjukkan kepada internasional betapa berkualitasnya bangsa kita. Tapi apa boleh buat, ini masih gaya emak-emak ngerumpi.

Terkait pertahanan keamanan, banyak masalah besar yang dihadapi Indonesia terutama sekali pembentukan AUKUS yang membawa kapal selam nuklir ke Australia sebagai ancaman pertahanan keamanan paling serius bagi Indonesia.

Indonesia juga harus memainkan peran penting dalam konflik Laut China Selatan, stabilitas kawasan Asia, ASEAN, masalah pembebasan Palestina, konflik di Myanmar dan penanganan pengungsi dan lain sebagainya.

Masalah keamanan nasional juga masih begitu banyak terkait dengan pencucian uang, kejahatan transnasional yang melibatkan transaksi uang kotor, perjanjian penanganan korupsi, kejahatan keuangan, perjanjian anti pencucian uang, pembobolan data pribadi, kerusakan data akibat korupsi e-KTP, kekacauan ITE Indonesia akibat korupsi tower dan lain-lain.

Mestinya debat ini bisa fokus isu salah satunya keamanan data. Paling tidak mengevaluasi proyek e-KTP yang dibiayai bank dunia begitu besar, mengapa tidak didayagunakan untuk memperkuat keamanan data pribadi?

Ini harus diperbaiki dan masalah korupsi e-KTP yang sangat besar itu harus diselesaikan agar dunia yakin masih bisa bekerja sama di masa depan dengan Indonesia terkait rezim data.

Masalah hubungan luar negeri juga menjadi tantangan besar karena banyaknya diplomasi yang harus diselesaikan Indonesia. Gugatan di WTO terkait agenda hilirisasi di Indonesia, gugatan nikel, pelarangan sawit di Uni Eropa, penolakan atas biodiesel Indonesia, gugatan soal pembatasan impor ayam, dan berbagai diplomasi internasional lain yang memerlukan pendalaman dan terobosan.

Selain itu ada masalah besar terkait patahan geopolitik, yakni transisi energi, digitalisasi dan penataan sistem keuangan baru yang tidak lagi berbasis devisa atau cadangan mata uang asing. Ke semua isu itu akan menjadi patahan sejarah yang besar. Bagi Indonesia sebagai climate superpower baru, akan menjadi kekuatan kunci dalam penyelesaian masalah iklim.

Lebih mendasar lagi kemampuan diplomasi Indonesia akan sangat ditentukan oleh kemampuan Indonesia dalam membangun ekonomi, depend and security yang harus ditopang oleh keuangan kuat.

Tidak ada kekuatan diplomasi jika bangsa dan negara masih kere. Maka harus ada lompatan besar dalam menggerakkan industrialisasi, hilirisasi, dan penyelamatan keuangan melalui penyelamatan uang cucian senilai Rp340 triliun, uang Rp11 ribu triliun, dan lain-lain. Sehingga Indonesia tidak dianggap sebagai pusat pencucian uang oleh internasional.

Kesimpulan hasil debat saya lihat mirip Rapat Dengar Pendapat DPR dengan Kementerian Pertahanan. Dua pasangan capres hanya sibuk masalah pertahanan saja atau khusus menyudutkan Kementerian Pertahanan yang Menteri Pertahanannya merupakan Capres nomor 2.

Lalu mereka berusaha membongkar data-data pertahanan negara untuk maksud tertentu dan tidak memperluas spektrum perdebatan kepada konsepsi-konsepsi.

Akhir debat ini, capres 1 memberi nilai Kementerian Pertahanan 11 dari 100 (sangat merah) dan capres 3 memberi nilai 5 (merah juga) kepada Kementerian Pertahanan.

Kita, publik bingung juga ini maksudnya apa? Dasarnya apa? Data pertahanan negara seperti apa yang dipegang capres-capres ini sehingga berani membuat kesimpulan semacam itu?

Apakah mereka juga memegang rahasia negara yang paling vital? Semoga tidak diumbar pesan Gemoy. Tapi siapa menjamin?

Penulis adalah peneliti Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI)

Populer

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

Satlap Tri Cakti Diduga Hadang Polisi di Belitung, IPW Desak Ada Tindak lanjut

Senin, 17 Agustus 2026 | 14:30

KPK OTT Rektor Unsoed Prof Akhmad Sodiq

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:01

Profil Akhmad Sodiq, Rektor Unsoed yang Terjaring OTT KPK

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 09:02

TNI Kuasai Wilayah OPM di Intan Jaya dan Sita Sejumlah Senjata

Minggu, 16 Agustus 2026 | 01:24

Belasan Teman Jokowi Bagusnya Batal Jadi Saksi Sidang soal Ijazah

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 03:14

KPK Sebut Iptu Dias Tak Bisa Dijerat Dewas, Penanganan Etik Diserahkan ke Polri

Senin, 24 Agustus 2026 | 11:47

UPDATE

Sempat Kaget, Legislator Golkar Bersyukur Budi Arie Klarifikasi dan Minta Maaf

Rabu, 26 Agustus 2026 | 20:20

KPK Tahan Gatot Heroe Hernanda, Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Rabu, 26 Agustus 2026 | 20:10

DPRD Siap Bongkar Oknum Parpol dan Ormas Minta Jatah Proyek SD Rembang

Rabu, 26 Agustus 2026 | 20:05

Netflix Umumkan Pemeran Baru One Piece Season 3, Siap Hidupkan Kisah Battle of Alabasta

Rabu, 26 Agustus 2026 | 19:53

Bank Berwenang Menunda Transaksi Sesuai UU TPPU

Rabu, 26 Agustus 2026 | 19:52

Daftar 6 Perusahaan di Kalimantan Disanksi Kemenhut Buntut Karhutla

Rabu, 26 Agustus 2026 | 19:49

Unhan Terbitkan Edaran Penggunaan Hijab bagi Kadet Putri Muslim

Rabu, 26 Agustus 2026 | 19:44

Diduga Terima Mobil hingga Rumah Mewah, Anggota DPRD Kota Bengkulu Diselidiki KPK

Rabu, 26 Agustus 2026 | 19:37

Pertamina Eco RunFest 2026, Hadirkan Tujuh Inisiatif Keberlanjutan Lingkungan

Rabu, 26 Agustus 2026 | 19:27

Lolly Suhenty: Kerja Kehumasan Bawaslu Menjaga Halaman Rumah

Rabu, 26 Agustus 2026 | 19:26

Selengkapnya