Berita

Diskusi Publik "Evaluasi dan Perspektif Pemermpuan Indef terhadap Perekonomian Nasional" yang dilakukan secara daring, 28 Desember 2023/Repro

Bisnis

Ekonom Senior Indef: Instrumen Baru Diperlukan untuk Dongkrak Pertumbuhan Tabungan di Bank

KAMIS, 28 DESEMBER 2023 | 15:45 WIB | LAPORAN: ALIFIA DWI RAMANDHITA

Instrumen baru diperlukan untuk mengakselerasi pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) atau tabungan di perbankan yang saat ini terus melemah.

Begitu yang dikatakan Ekonom Senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Aviliani, dalam Diskusi Publik "Evaluasi dan Perspektif Perempuan Indef terhadap Perekonomian Nasional" secara daring pada Kamis (28/12).

Dalam pemaparannya, Aviliani menjelaskan bahwa per November 2023, DPK hanya mengalami pertumbuhan 3,04 persen yoy, dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 3,43 persen yoy.


"Ini sudah terjadi bertahun-tahun, jadi bukan hanya karena Covid saja tapi juga sudah cukup lama terjadi. Ini artinya apa? Perlu ada instrumen baru di Dana Pihak Ketiga agar orang itu menempatkan dana di dalam negeri sendiri," jelasnya.

Adapun yang mempengaruhi lemahnya pertumbuhan DPK itu karena adanya kecenderungan dari kaum milenial yang saat ini mulai beralih untuk menempatkan dananya pada instrumen lain, seperti saham dan obligasi.

“Kaum milenial sekarang juga tidak hanya menempatkan uang di bank tapi sebenarnya sudah pakai instrumen saham, obligasi, sehingga ini juga mempengaruhi dana pihak ketiga semakin apa ke depan, semakin rendah, karena instrumen investasi dari milenial itu udah mulai berkembang,” ungkapnya.

Meski pertumbuhan tabungan di perbankan mengalami perlambatan, namun pertumbuhan kredit dinilai masih tergolong cukup baik, dengan pertumbuhan kredit mencapai 9,74 persen yoy.

Meski demikian, ekonom senior Indef itu memperkirakan hingga akhir tahun pertumbuhan kredit masih belum bisa mencapai double digit, karena kredit yang tumbuh hanya di sektor makanan, minuman, dan pariwisata.

“Yang bertumbuh itu pada makanan minuman, sektor pariwisata. Jadi yang berkaitan dengan perilaku masyarakat. Sedangkan sektor properti itu agak lambat pertumbuhannya. Jadi sebenarnya dari pertumbuhan kredit itu masih bagus, tapi memang nggak bisa double digit untuk tahun ini,” tuturnya.

Populer

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

UPDATE

Jangkau Jutaan Rakyat, Pelaksanaan Program Prabowo Harus Terus Dijaga

Kamis, 22 Oktober 2026 | 22:18

PT Timah Amankan Fasilitas Kredit Rp4 Triliun dari Bank Mandiri

Kamis, 22 Oktober 2026 | 22:10

Kadin Dukung Opsi Bahlil Setop Ekspor Gas ke Negara Tetangga

Kamis, 22 Oktober 2026 | 22:00

Natalius Pigai: HAM Terus Lahir dalam Relasi Sosial di Desa dan Kampung

Kamis, 22 Oktober 2026 | 21:45

Api Gunung Lawu Belum Padam, 500 Hektare Lahan Terbakar

Kamis, 22 Oktober 2026 | 21:39

OJK Salurkan Kredit Rp53 Triliun ke 2.100 Penerima dalam 3 Bulan

Kamis, 22 Oktober 2026 | 21:29

Kabut Asap Makin Mengkhawatirkan, 333 Ribu Warga Terserang ISPA

Kamis, 22 Oktober 2026 | 21:08

Pengamat: Aksi Korporasi Haji Isam Akuisisi Saham BYAN Sejalan Konstitusi

Kamis, 22 Oktober 2026 | 21:04

KPK Dalami Keterlibatan Pejabat Kementerian PU dalam Kasus BBPJN Sumut

Kamis, 22 Oktober 2026 | 20:47

Semangat Sinergi untuk Keadilan Warnai Rangkaian Hari Bakti ke-2 Kemenko Kumham Imipas

Kamis, 22 Oktober 2026 | 20:41

Selengkapnya