Berita

Dosen UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten, M. Ishom El Saha/Ist

Publika

Healing: dari Mubah ke Sunah

OLEH: M ISHOM EL SAHA
SENIN, 18 DESEMBER 2023 | 09:17 WIB

MUSIM liburan sebentar lagi akan tiba. Sekolah meliburkan siswanya, kampus mengistirahatkan mahasiswanya, dunia usaha dan industri memberikan cuti pekerja dan karyawannya. Seperti biasanya pada saat tiba musim liburan, masyarakat banyak memanfaatkan waktunya untuk kegiatan healing.

Sebetulnya kata healing artinya adalah proses penyembuhan atau pengobatan. Namun dalam bahasa pergaulan orang di zaman sekarang, kata healing disama artikan dengan refreshing, yakni penyegaran yang diidentikan dengan jalan-jalan. Reduksi makna healing dalam platform sosial media bahkan kini menjadi sangat populer sebagai aktivitas berlibur, berwisata, atau meninggalkan rutinitas untuk sementara waktu.

Kalau dipikir-pikir, aktivitas berlibur, berwisata dan meninggalkan rutinitas memang menjadi pengobatan jiwa bagi sebagian orang yang dikenal "gila kerja" (workaholic). Jadi ada korelasinya antara kegiatan refreshing, bertamasya, berwisata, dengan kegiatan healing.


Healing, terutama untuk menyehatkan hati, rasa, dan rohaniah manusia merupakan kebutuhan manusia. Hal ini dikarenakan fitrah hati dan rohaniah manusia adalah memperoleh kedamaian dan ketenangan, sebagaimana pendapat sahabat Nabi Muhammad Saw yang bernama Abdullah b. Abbas tatkala menafsirkan ayat 89 Surat Al-Waqiah.

Firman Allah SWT yang berbunyi:

???????? ??????????? ????????? ???????

Oleh Ibnu Abbas, ayat ini ditakwilkan dengan ketenangan (farahah) dan kedamaian (mustarah). Dalam artian bahwa orang yang dekat dengan Tuhan hatinya menjadi tenang dan damai. Dan bukannya ruhaniah kita pada dasarnya dekat dengan Tuhan? Hanya aja nasfu dan pikiran macam-macam kita yang pada akhirnya menjauhkan diri kita dari Tuhan (?!) Oleh sebab itu penyembuhan atau healing menjadi solusinya.

Healing hukum asalnya tidak diwajibkan dan juga tidak dilarang. Ini berarti bahwa healing hukumnya mubah dan tak berpahala. Hanya saja jika manusia memanfaatkan kegiatan healing untuk pengobatan hati dan jiwa menjadi berubah hukumnya: dari mubah menjadi sunah.

Healing dapat bernilai sunnah dan berpahala seperti telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad Saw. Beliau dalam sejarah selalu meluangkan waktu khusus dalam waktu seminggu untuk melakukan kegiatan healing. Tempat favorit healing beliau adalah kawasan Quba.

Quba merupakan kawasan perkebunan kurma, di dalamnya ada sumber mata air bernama Azdaq (kegembiraan), yang pertama kali disinggahi Rasulullah saat berhijrah ke Kota Madinah. Beliau juga membangun masjid pertama yang diberi nama Masjid Quba.

Setiap hari Sabtu beliau selalu meluangkan waktu berkunjung ke Quba. Dalam sebuah hadits beliau bersabda: "Barangsiapa mengambil wudu dari rumahnya, lalu mendatangi mesjid Quba untuk mengerjakan salat di dalamnya, maka ia akan diberikan pahala seperti mengerjakan umrah sekali."

Dalam kunjungan setiap hari Sabtu, beliau juga menyempatkan untuk berteduh di bawah rerimbunan hijau pohon kurma dan merasakan dinginnya mata air Azdaq di dekat Mesjid Quba. Itulah cara healing yang dilakukan Rasulullah Saw.

Jadi, supaya healing yang kita lakukan bernilai ibadah sunnah yang berpahala, maka ada beberapa cara: pertama, pilih tempat tujuan healing yang dapat membangkitkan spiritualis kita.

Kedua, jauhkan diri kita dari maksiat atau melanggar aturan Allah Swt. Sebab ketentraman adalah milik-Nya maka supaya kita lebih tentram dekatlah dengan Sang Maha Pencipta.

Ketiga, kita manfaatkan di saat healing untuk tadabbur alam dan merenungkan keindahan ciptaan Allah serta mengagungkan asma-Nya.

Dengan cara ini healing akan berubah nilainya dari semula mubah menjadi sunah. Selamat berlibur bersama orang-orang tercinta. Semoga Allah Swt selalu menjaga dan melindungi kita semua. Amiin.

Penulis adalah Dosen UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten

Populer

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

KPK Bakal Dalami Data Intelijen soal Dugaan Suap ke Purbaya dan Anggota Komisi XI DPR

Kamis, 27 Agustus 2026 | 02:24

KPK OTT Rektor Unsoed Prof Akhmad Sodiq

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:01

Dakwaan Lemah, Perkara Chromebook Murni Rekayasa

Kamis, 27 Agustus 2026 | 14:31

Profil Akhmad Sodiq, Rektor Unsoed yang Terjaring OTT KPK

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 09:02

Tidak Benar Menag Nasaruddin Umar Mundur

Rabu, 26 Agustus 2026 | 18:06

KPK Sebut Iptu Dias Tak Bisa Dijerat Dewas, Penanganan Etik Diserahkan ke Polri

Senin, 24 Agustus 2026 | 11:47

UPDATE

Polisi Pastikan Pengemudi Pikap yang Tabrak Petugas di Gerbang DPR Mabuk Alkohol

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 08:26

Wakil Presiden Tanzania Emmanuel Nchimbi Mundur Usai Berselisih dengan Presiden

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 08:18

Wall Street Melemah, Investor Cermati Pidato Kevin Warsh

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 08:14

Dony Oskaria Bongkar Penataan BUMN: 290 Selesai, 254 Jadi Target

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 08:03

Banjir Nepal Tewaskan Ratusan Orang, Paus Leo XIV Kirim Doa

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 07:46

Saham Eropa Melesat Cantik Dipimpin Sektor Mewah dan Perbankan

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 07:34

Dua Sumur Baru PHSS di Struktur Semberah Lampaui Target Produksi Migas

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 07:19

PKM Dorong Keluarga Muba Naik Kelas, Rp25 Juta Jadi Modal Kemandirian Ekonomi

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 07:07

Ichsanuddin Noorsy dan Pemikiran Ekonomi Konstitusi

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 06:54

MBG Jadi Bantalan Ekonomi Masyarakat Bawah, Kritik jadi Evaluasi

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 06:46

Selengkapnya