Seminar publik bertajuk "Perlindungan Perempuan dalam Pemilu; Suarakan, Mau Apa di 2024?", yang digelar Dewan Pimpinan Wilayah Serikat Perjuangan Rakyat Indonesia (DPW SPRI) DKI Jakarta di Hotel Mercure Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (2/12)/Ist
Seminar publik bertajuk "Perlindungan Perempuan dalam Pemilu; Suarakan, Mau Apa di 2024?", yang digelar Dewan Pimpinan Wilayah Serikat Perjuangan Rakyat Indonesia (DPW SPRI) DKI Jakarta di Hotel Mercure Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (2/12)/Ist
Demikian pandangan pakar hukum tata negara, Bivitri Susanti dalam seminar publik bertajuk "Perlindungan Perempuan dalam Pemilu; Suarakan, Mau Apa di 2024?", yang digelar Dewan Pimpinan Wilayah Serikat Perjuangan Rakyat Indonesia (DPW SPRI) DKI Jakarta di Hotel Mercure Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (2/12).
Bivitri mengatakan, pasca putusan Mahkamah Agung (MA) yang mengabulkan uji materiil atas regulasi KPU yang mengatur cara penghitungan kuota minimal calon anggota legislatif (caleg) perempuan pada Pemilu 2024, KPU malah melakukan justifikasi melalui cara mengundang para ahli-ahli hukum untuk mengabaikan putusan MA yang bersifat final dan mengikat.
Populer
Rabu, 14 Januari 2026 | 12:09
Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46
Minggu, 11 Januari 2026 | 04:59
Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39
Rabu, 14 Januari 2026 | 05:09
Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00
Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15
UPDATE
Jumat, 16 Januari 2026 | 08:05
Jumat, 16 Januari 2026 | 07:56
Jumat, 16 Januari 2026 | 07:48
Jumat, 16 Januari 2026 | 07:40
Jumat, 16 Januari 2026 | 07:33
Jumat, 16 Januari 2026 | 07:16
Jumat, 16 Januari 2026 | 07:06
Jumat, 16 Januari 2026 | 06:50
Jumat, 16 Januari 2026 | 06:23
Jumat, 16 Januari 2026 | 06:04