Berita

Ketua MPR RI Bambang Soesatyo/Ist

Publika

Catatan Ketua MPR RI

Merawat Stabilitas Polhukam dan Kredibilitas Demokrasi

OLEH: BAMBANG SOESATYO
KAMIS, 30 NOVEMBER 2023 | 09:54 WIB

PEMILIHAN Umum (Pemilu) 14 Februari 2024 hendaknya tidak mengguncang stabilitas politik, hukum, Keamanan (Polhukam) serta ketertiban umum. Sebaliknya, Pemilu 2024 harus menjadi cerminan semakin kokohnya kredibilitas demokrasi. Indonesia akan dimampukan untuk terus bergerak maju jika stabilitas Polhukam tetap terjaga dengan dinamika demokrasi yang terus mengalami proses pematangan.

Per Februari 2024, masyarakat Indonesia yang berhak memilih akan menggunakan hak pilihnya melalui Pemilu sebagai agenda lima tahunan yang wajib. Hari-hari ini, proses persiapan menuju pelaksanaan agenda itu sarat dinamika, sebagaimana bisa disimak semua orang melalui beragam saluran informasi.  

Namun, tetap perlu diingatkan bahwa di atas segala-galanya adalah kewajiban bagi segenap elemen masyarakat untuk selalu memberi bukti kepada komunitas internasional bahwa Indonesia baik-baik saja. Utamanya karena pemilihan presiden dan anggota parlemen tahun 2024 adalah bagian dari proses pematangan demokrasi Indonesia.


Agar Indonesia yang sungguh baik-baik saja itu berwujud nyata, partisipasi semua orang dalam dinamika persiapan pelaksanaan Pemilu 2024 itu hendaknya proporsional, agar segala sesuatunya berjalan sebagaimana mestinya. Rivalitas peserta pemilu meraih simpati publik pasti tak terhindarkan. Namun, rivalitas itu hendaknya tidak menghadirkan ekses, dalam arti tidak harus menimbulkan guncangan pada aspek Polhukam serta ketertiban umum.

Karena Pemilu juga dimaknai sebagai pesta demokrasi, segenap elemen  masyarakat ditantang untuk selalu menjaga dan merawat stabilitas Polhukam plus ketertiban umum sehingga semua orang bisa menikmati pesta itu. Sebab, stabilitas Polhukam dan ketertiban umum yang selalu terjaga akan memberi ruang dan waktu bagi semua orang untuk terus melangkah maju dan berkegiatan produktif, bukan sebaliknya dipaksa bergerak mundur karena faktor instabilitas.

Tema atau isu tentang urgensi merawat stabilitas Polhukam dan ketertiban umum menuju pelaksanaan Pemilu 2024 perlu dikemukakan, ditekankan dan mendapat perhatian ekstra dari semua pemangku kepentingan. Dorongan ini tidak mengada-ada atau berlebihan, melainkan berpijak pada fakta bahwa hari-hari ini banyak komunitas merasa tidak nyaman menyikapi ragam aspek pada dinamika persiapan menuju Pemilu 2024 yang semakin menghangat dan udara dipenuhi berbagai berita hoaks yang menyebarkan kebencian.

Tidak hanya merasakan, melainkan juga melihat langsung perang urat syaraf yang dilancarkan para elite politik itu dalam berbagai bentuknya. Dan, sebagaimana bisa disimak hari-hari ini, rasa dan penglihatan pada berbagai aksi itu kemudian mendorong banyak reaksi, baik dalam wujud pernyataan keprihatinan maupun munculnya semangat perlawanan terhadap berbagai manuver yang dilakukan para elite yang berseberangan itu.

Semangat perlawanan itu mengemuka karena banyak komunitas orang muda melihat perikaian para elite politik itu telah dipertontonkan dengan begitu telanjang. Sebagian lainnya cemas akan masa depan demokrasi di negara ini karena gesekan para elite semakin tajam.  

Reaksi, unjuk keprihatinan dan kekhawatiran itu telah disuarakan oleh para tokoh dari berbagai kalangan, termasuk para tokoh sepuh dari lintas agama. Para budayawan pun telah bersuara dengan lantang. Tidak ketinggalan adalah suara para pegiat sosial, pegiat HAM (hak azasi manusia) hingga kelompok purnawirawan militer. Beberapa hari belakangan ini, komunitas mahasiswa pun tak hanya menyuarakan keprihatinan, sebagian malah mulai menunjukan sikap kritisnya. Menggunakan sarana media sosial, kelompok-kelompok masyarakat di berbagai daerah pun tak mau ketinggalan menyatakan sikap dan menyuarakan keprihatinan.

Esensi dari reaksi, unjuk keprihatinan dan kekritisan itu semata-mata adalah keinginan mayoritas rakyat agar semua Pemilu 2024 berlangsung damai dan legitimate, karena semua pihak melaksanakannya dengan kepatuhan mutlak pada peraturan perundang-undangan yang berlaku, damai, bersih dan jujur. Semua bentuk penebaran kebencian dan berita-berita palsu dari para buzzer yang hanya menimbulkan curiga dan ketidakpercayaan masyarakat hendaknya segera dihentikan. Masih ada waktu untuk meluruskan apa yang tidak wajar dan tidak patut itu. Ketidakwajaran dan ketidakpatutan itu tak perlu lagi dirinci, karena sudah menjadi pengetahuan dan perbincangan semua elemen masyarakat.

Pemilu damai dan legitiminasi Pemilu sepenuhnya menjadi tanggungjawab aparat dan penyelenggara pemilu. Maka, aparat dan penyelenggara Pemilu hendaknya tidak minimalis dalam menyikapi ketidakwajaran dan ketidakpatutan yang mengemuka sekarang ini. Apa yang terjadi hari-hari ini sungguh-sungguh telah melukai akal sehat banyak orang. Nyata terlihat adanya upaya pembodohan dengan menyebarkan berita bohong atau hoaks, tetapi masyarakat menolak diasumsikan sebagai komunitas bodoh, dan karena itulah banyak komunitas menyuarakan kritik dan keprihatinan.

Kalau berita-berita hoaks dari para buzzer itu dibiarkan, pembiaran ini diasumsikan bakal mereduksi legitimasi Pemilu 2024. Kalau asumsinya sudah seperti itu, hasil Pemilu seperti apakah yang akan dipersembahkan kepada negara-bangsa? Legitimasi Pemilu yang sudah mengalami reduksi akibat ketidakwajaran dan ketidakpatutan hanya akan menghadirkan masalah yang berkepanjangan. Dan, sebagaimana banyak catatan sejarah sudah memberi bukti, masalah yang terus bergejolak akibat kekecewaan pada hasil Pemilu selalu mengganggu stabilitas Polhukam dan ketertiban umum.

Karena itu, penyelenggara Pemilu didorong lebih pro aktif merespons segala sesuatunya. Otoritas negara diimbau untuk merespons semua dinamika itu dengan pendekatan yang proporsional pula. Langkah para petugas di lapangan harus terukur, dan selalu berada dalam kendali para atasan. Tindakan diluar kendali tidak boleh dibenarkan karena berpotensi menyulut konflik dengan para simpatisan peserta Pemilu 2024.

Hari-hari ini, sebagian kelompok masyarakat pun sedang merasakan ketidaknyamanan akibat naiknya harga sejumlah bahan pangan.  Bahkan harga beras dan cabai dalam periode satu tahun terakhir ini naik dalam skala yang mencengangkan. Sebagaimana telah diberitakan, Badan Pangan Nasional (Bapanas) mencatat setidaknya ada sembilan komoditas pangan yang mengalami kenaikan harga lebih dari 10 persen dari harga acuan atau eceran yang ditetapkan pemerintah.

Faktor kenaikan harga bahan pangan di tengah persiapan Pemilu 2024 yang sarat ketidakwajaran dan ketidakpatutan itu hendaknya perlu diwaspadai, karena sangat mudah ditunggangi untuk menyulut emosi banyak orang. Urgensi merawat stabilitas Polhukam dan ketertiban umum menuju pelaksanaan Pemilu 2024 hendaknya mendapat perhatian ekstra dari semua pemangku kepentingan.



Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Pengusaha Keberatan Masa Kerja Karyawan Kontrak Dipangkas jadi Empat Tahun

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:20

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

UPDATE

Bursa Asia Ambruk, Saham Teknologi Berguguran

Selasa, 13 Oktober 2026 | 08:30

Nasdaq Tertekan, Investor Wall Street Waspadai Inflasi AS

Selasa, 13 Oktober 2026 | 08:17

Bidik Pasar Modal, Dua BUMD DKI Konsultasikan Rencana IPO ke OJK

Selasa, 13 Oktober 2026 | 08:06

Delta Tunda Penerbangan ke Arab Saudi Usai Serangan Riyadh hingga 2027

Selasa, 13 Oktober 2026 | 07:46

Logam Mulia Tertekan Dolar Jelang Rilis Inflasi Amerika Serikat

Selasa, 13 Oktober 2026 | 07:29

Pasar Eropa Hijau Didorong Saham Perbankan

Selasa, 13 Oktober 2026 | 07:13

Drone Seeder Solusi Reklamasi Lahan Pascatambang, SOP Masih Digodok

Selasa, 13 Oktober 2026 | 06:56

Republik Konoha dan Krisis Ketiga

Selasa, 13 Oktober 2026 | 06:23

Olahan Sagu Inovasi TEP IPB University Ramaikan Festival Kali Maro IV Merauke

Selasa, 13 Oktober 2026 | 05:57

Ijazah bagi Kekuasaan

Selasa, 13 Oktober 2026 | 05:27

Selengkapnya