Berita

COP28 Abu Dhabi/Ist

Dahlan Iskan

Tebakan COP

JUMAT, 24 NOVEMBER 2023 | 06:51 WIB | OLEH: DAHLAN ISKAN

INDONESIA ikut terangkat tinggi: berkat digandeng Abu Dhabi dalam hal solar cell. Abu Dhabi memang mampu membayar perusahaan promosi tingkat dunia. Anda melihat promosinya yang gila-gilaan. Termasuk proyeknya yang di Indonesia. Di Jawa Barat. Di waduk Cirata: antara Cianjur dan Purwakarta.

Di situ memang dibangun pembangkit listrik tenaga matahari. Besar sekali. Terbesar di Indonesia: 200 MW. Juga PLTS terapung pertama untuk skala tersebut. Terbesar ketiga di dunia.

Terbesar nomor satu di Abu Dhabi sendiri: 2000 MW. Itu 10 kali lipat dari yang di Cirata. Pemegang saham terbesar proyek yang di Cirata adalah Abu Dhabi juga. Bekerja sama dengan Prancis dan Tiongkok.


Abu Dhabi punya kepentingan besar untuk mempromosikan solar cell-nya. UAE adalah tuan rumah COP28. Minggu depan dimulai: 30 November. Sampai 12 Desember. Dihadiri 100 pimpinan negara. Termasuk Raja Charles III dari Inggris dan pemimpin tertinggi gereja Katolik Fransiscus.

Abu Dhabi dikritik: bagaimana bisa salah satu negara penghasil minyak mentah terbesar dunia jadi tuan rumah KTT Green Energy.

Tapi itulah Abu Dhabi. Negara Uni Emirate Arab memang jago lobi. Amerika Serikat sendiri mendukung UEA jadi tuan rumah COP28.

Anda sudah tahu: COP yang ke-27 dilaksanakan tahun lalu di Mesir. Di daerah wisatanya di dekat terusan Suez. Tahun ini COP28 di UAE. Tahun depan belum diputuskan.

Itulah KTT Green Energy. Tiap tahun. Sebagai kontrol atas keseriusan negara-negara di dunia dalam menyikapi pemanasan global.

COP yang paling terkenal adalah COP tahun 2014. Di Paris. Saat itulah terjadi ''Kesepakatan Paris'' yang terkenal itu: suhu dunia harus turun 1,5 sampai 2 derajat di tahun 2050.

Anda sudah merasakan betapa panas suhu di atas bumi. Hari-hari ini. Itu akan terus kian panas tanpa pengendalian dari semua negara.

Tiap tahun COP memonitornya: sudah sampai di mana pelaksanaan komitmen negara-negara yang telah meratifikasi "Kesepakatan Paris". Termasuk Indonesia.

Hasil monitoring terbaru: tidak ada negara yang mencapai target. Indonesia yang di tahun 2025 green energy-nya ditetapkan mencapai 23 persen rasanya masih jauh. Sekarang baru tercapai 14 persen.

Indonesia memang punya persoalan internal yang khas. PLN kelihatannya dalam keadaan "terpaksa" dalam menerima pasokan green listrik. Mungkin orang PLN setuju dengan kalimat di atas tapi tidak berani mengatakannya.

Misalkan yang di Cirata itu. PLN harus membeli listrik dari PLTS Terapung Cirata. Sebanyak 200MW. Hanya di siang hari. Dengan harga lebih mahal dari listrik yang dihasilkan oleh PLTU milik PLN sendiri. Juga lebih mahal dibanding harga jual PLN kepada pelanggan rumah tangga.

Padahal di siang hari PLN sudah kelebihan listrik. Di Jawa -- tempat Cirata berada. Lalu PLN diharuskan membeli listrik yang lebih mahal di siang hari.

Maka ketika berita peresmian Cirata menyebar ke seluruh dunia, PLN sebenarnya pusing tujuh keliling dunia: harus membeli listrik di saat lagi kelebihan listrik. Dengan harga lebih mahal pula.

COP28 Abu Dhabi tidak akan tahu problem internal seperti itu. Kalau saja saya bisa hadir saya akan bawakan masalah khas negara berkembang: penggunaan listrik yang tidak seimbang antara siang dan malam. Tepatnya antara pukul 17.00 sampai 23.00 dan setelahnya. Antara jam 17.00 sampai 23.00 penggunaan listrik sangat tinggi. Antara 23.00 sampai 16.30 pemakaian listrik sangat rendah.

Itu khas negara berkembang.  Tidak terjadi di negara maju. Di negara maju siang hari pun konsumsi listriknya tinggi. Dipakai industri.

COP28 memang seperti soto kurang bawang goreng: Presiden Amerika Serikat tidak hadir. Sibuk dengan ancaman pemerintahan tidak dapat biaya --tidak disetujui DPR. Presiden Tiongkok juga tidak hadir. Tapi dua tokoh itu sepakat COP28 harus sukses. Keduanya sudah bertemu di San Francisco pekan lalu. Sudah pula sepakat soal pentingnya COP28.

Indonesia pun sepakat UEA jadi tuan rumah COP28. Dulu UEA juga mendukung ketika Indonesia jadi tuan rumah COP26.

Di COP berapakah suhu bumi mulai turun?



Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

Desakan Pecat Nusron Mencuat, Ahmad Doli Memungkinkan jadi Pengganti

Minggu, 20 September 2026 | 05:26

Prabowo Diminta Tindak Tegas Kelompok yang Masih Persoalkan Hasil Pilpres 2024

Selasa, 22 September 2026 | 23:16

UPDATE

Gudang yang Terbakar di Cikarang Milik PT Emudah Fulfillmen, Penyedia Jasa Logistik E-Commerce

Sabtu, 26 September 2026 | 16:18

Mahkamah Agung Diminta Periksa Dugaan Kejanggalan Perkara Harta Bersama

Sabtu, 26 September 2026 | 15:28

SBY: Guruh Soekarnoputra Telah Melakukan Banyak Hal untuk Negeri Ini

Sabtu, 26 September 2026 | 15:03

Dulu Dipandang Sebelah Mata, Kini Dunia Barat Mulai Melirik Halal Indonesia

Sabtu, 26 September 2026 | 14:50

Sinyal Damai AS-Iran Bikin Harga Minyak Terpukul

Sabtu, 26 September 2026 | 14:26

Surya Paloh Kenang Guruh sebagai Budayawan dan Seniman

Sabtu, 26 September 2026 | 14:05

Palet Plastik dan Barang Marketplace Ludes dalam Kebakaran di Cikarang

Sabtu, 26 September 2026 | 13:50

Bitcoin Turun Tipis di Bawah 84.000 Dolar AS

Sabtu, 26 September 2026 | 13:33

Surya Paloh Ungkap Alasan Guruh Soekarnoputra Pilih Fokus ke Seni Ketimbang Pimpin PDI

Sabtu, 26 September 2026 | 13:10

Kapolri Pimpin Kenaikan Pangkat 50 Pati dan 4 PNS Polri

Sabtu, 26 September 2026 | 12:35

Selengkapnya