Berita

Ilustrasi/Ist

Dahlan Iskan

Arah Jaran

SELASA, 14 NOVEMBER 2023 | 04:40 WIB | OLEH: DAHLAN ISKAN

PANEN kates unggahno jaran.

Yen ono....

Pantun itu tidak dilanjutkan oleh yang mengucapkannya: Gus Yahya. KH Yahya Staquf. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama.


''Nanti sajalah.... kalian akan tahu sendiri...pokoknya jaran,'' katanya.

Pantun dengan sampiran ''jaran'' (kuda) itu sengaja tidak dilanjutkan. Tapi siapa pun yang suka pantun bisa menebak kata apa yang akan muncul di akhir pantun. Kan Anda sudah tahu: dari semua capres-cawapres hanya satu yang namanya berakhiran huruf ''a'' dan ''n''.

Dari pantun yang terucap sampirannya saja itu, orang bisa menebak ke mana arah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).

Videonya telah beredar luas. Yakni video sebuah acara di Kendal, Jawa Tengah. Pengurus PBNU bertemu dengan semua pengurus NU se-Jawa Tengah. Tuan rumah mengundang pula seluruh pengurus NU tingkat kecamatan se kabupaten Kendal.

Di panggung terlihat KH Yahya Staquf. Tampak juga Sekjen PBNU Saifullah Yusuf. Para pengurus cabang duduk di kursi menghadap ke panggung.

Salah satu pengurus cabang berdiri. Mengajukan pertanyaan seputar Pilpres. Ia mengaku banyak mendapat pertanyaan dari anggota.

''Warga NU itu kalau diberi kebebasan malah bingung,'' katanya. Maka ia minta Ketua Umum PBNU memberikan bocoran: siapa capres yang harus didukung.

''Beri kami isyaroh-nya,'' pintanya. Isyarat pun cukup. Tidak perlu menyebutkan nama.

Sebenarnya Gus Yahya seperti enggan memberi isyaroh. Ia minta warga NU bersabar. Toh Pilpresnya masih beberapa bulan. Tapi akhirnya Gus Yahya berpantun: ''Ampel dekat Kaliwungu. Orang-orang nempel ke NU''. Lalu: ''panen kates tumpakno jaran. Yen ono...'' Gus Yahya tidak melanjutkannya.

Tanpa pantun seperti itu pun Kiai NU seperti Imam Jazuli Cirebon sudah tahu ke mana arah PBNU.

Kiai Jazuli, Anda sudah tahu: pencipta motto ''NU kultural wajib pilih PKB, NU struktural sakkarepmu''. Motto lainnya: ''Warga NU Wajib Ber-PKB''. Kiai Jazuli boleh dikata menjadi kiai paling depan yang menginginkan NU punya satu saja wadah perjuangan politik: PKB.

Gus Yahya tidak ingin NU jualan suara. ''Warga NU itu 56,9 persen. Kalau hanya dijual untuk satu-dua amplop itu menjatuhkan martabat,'' katanya.

Yang akan ia lakukan bukanlah menjual NU. ''Kita akan melakukan aliansi. Bukan jualan,'' kata Gus Yahya.

Aliansi yang dimaksud adalah menjalin hubungan dengan yang punya misi sama dengan NU. Dengan demikian tujuan NU bisa tercapai: untuk kejayaan NU dan kejayaan Indonesia.

Intinya: Gus Yahya ingin Indonesia maju. Caranya: apa yang sudah dicapai sekarang harus berlanjut. Dan itu berarti harus ''numpak jaran'' (naik kuda).

Bagaimana dengan Khofifah Indar Parawansa –Gubernur Jatim saat ini?

Sudah pula ada isyarat yang sangat kuat ke mana dia akan berlabuh. Itu bisa dilihat dari susunan pengurus tim kampanye nasional Prabowo-Gibran. Ada nama KH Asep Saifuddin Chalim di sana.

Kiai pondok Amanatul Ummah Pacet, Mojokerto, ini adalah koin yang sama dengan Khofifah –beda sisi saja.

Ayahanda kiai Asep baru saja diangkat Presiden Jokowi sebagai Pahlawan Nasional, sehari sebelum Hari Pahlawan kemarin.

Presiden Jokowi juga hadir ketika Kiai Asep menerima gelar profesor di UINSA Surabaya dua tahun lalu. Lebih 20.000 santri belajar di Amanatul Ummah. Perguruan tingginya sudah punya program S-3.

Kiai Asep all-out menjadikan Khofifah Gubernur Jatim. Orang Jatim tahu itu. Kiai Asep-Khofifah selalu sejalan.

Maka saya sulit menebak berapa persen suara NU akan ke Ganjar-Mahfud, ke Anies-Muhaimin dan ke capres-cawapres yang justru bukan dari kalangan NU: Prabowo-Gibran.

Pun di Rembang. Saya sulit membayangkan bagaimana hubungan Gus Mus dengan Gus Yahya. "Bapak" dan "Anak" (Gus Yahya adalah keponakan yang sudah dianggap anak oleh Gus Mus).

Satu kampung.

Satu pondok.

Satu hati.

Kali ini Gus Yahya pilih naik kuda. Gus Mus menjadi satu barisan dengan tokoh-tokoh nasional yang kini anti-Jokowi: Goenawan Mohamad, Ery Riyana, Butet Kartaredjasa, dan teman-temannya.

Mereka baru saja ke Rembang. Ke rumah Gus Mus: menggalang gerakan. Memperluas jaringan.

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

Usai Dimaafkan Jusuf Hamka, KAKI Dorong Polri Buka Kembali Kasus NCD Unibank

Sabtu, 05 September 2026 | 19:53

UPDATE

Perdana sebagai Anggota Penuh, Prabowo Hadiri KTT BRICS di India

Sabtu, 12 September 2026 | 12:20

Serda Ahmad Muzammil Tewas, POMAU Periksa 4 Personel

Sabtu, 12 September 2026 | 12:06

Menteri Imipas Penuhi Janji, 82 WNI Dipulangkan dari Malaysia

Sabtu, 12 September 2026 | 11:52

Kemendikdasmen Prioritaskan Revitalisasi Ribuan Sekolah, Ini Kategorinya

Sabtu, 12 September 2026 | 11:37

Pertamina Patra Niaga Tingkatkan Pasokan BBM ke SPBU Sulsel

Sabtu, 12 September 2026 | 11:28

Soal Life Jacket yang Ditemukan, Pemilik Kapal Buka Suara

Sabtu, 12 September 2026 | 11:10

Hari Pelanggan, Manfaat Perlindungan Kesehatan Tembus Rp1,1 Triliun

Sabtu, 12 September 2026 | 11:01

LRT Jabodebek Beroperasi Normal Usai Gempa M5,9 Guncang Jakarta

Sabtu, 12 September 2026 | 10:50

Emas Antam Naik di Akhir Pekan, Satu Gram Jadi Segini

Sabtu, 12 September 2026 | 10:45

DPR Desak Usut Tuntas Penembakan Tiga Pegawai Pertanian Jayawijaya

Sabtu, 12 September 2026 | 10:28

Selengkapnya