Berita

Mayor (Purn) Trimo/Ist

Nusantara

Cerita Mayor Trimo yang Tak Sempat Bulan Madu Karena Tugas Usir Penjajah

SABTU, 11 NOVEMBER 2023 | 02:58 WIB | LAPORAN: AGUS DWI

Membela kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) harus berani mengorbankan segalanya. Mulai dari meninggalkan keluarga, harta benda, dan lainnya.

Membela NKRI juga tak semudah membalikan telapak tangan. Pejuang kemerdekaan harus siap meninggalkan momen terpenting dalam hidupnya, termasuk momen hari pernikahan.

Adalah Mayor (Purn) Trimo (73) dan istrinya, Haryati (64) menjadi pasutri yang harus merelakan momen terpenting sepanjang hidup mereka lantaran ada tugas negara untuk perang melawan Portugis di Timor Timur pada 1975 silam.


Trimo menceritakan, saat itu ia merencanakan pernikahan dengan pujaan hatinya tersebut pada 18 Desember 1975 di Ungaran. Tempat itu adalah asrama bagi TNI pembela kemerdekaan RI.

"Rencana nikah saya itu pada 18 Desember 1975. Namun saat genting, ada perintah untuk segera perang melawan Portugis. Akhirnya, pernikahan itu saya ajukan pada tanggal 4 Desember 1975," kata Trimo sembari mengingat masa perjuangan.

Setelah menikah, pria asal Desa Sidorekso Kecamatan Kaliwungu, Kudus, ini pun berencana berfoto bersama untuk dokumentasi pernikahan. Hanya saja, pada malam saat itu sekitar pukul 19.00 WIB alarm tentara sudah berbunyi dan harus memberangkatkan para TNI untuk segera terbang ke Timor Timur.

"Pernikahannya pada siang hari sudah usai. Namun saat itu saya tak sempat foto, mengabadikan pernikahan itu lantaran kita harus kumpul dan berangkat perang. Ya tak sempat bulan madu jika bahasa saat ini," ungkapnya, dikutip Kantor Berita RMOLJateng, Jumat (10/11).

Pria yang kini menetap di Desa Pamotan Kecamatan Pamotan ini,  langsung meninggalkan ramainya pesta pernikahan menuju Markas Batalyon 401 Banteng Raiders (BR) Semarang untuk segera berangkat perang.

"Setelah berkumpul beserta 650-an tentara, lalu kita berangkat pada 4 Desember 1975 malam atau sekitar pukul 8 malam," tuturnya.

Sesampainya di Timor Timur, selama 9 bulan ia beserta rekannya dapat merebut kembali lapangan terbang Bau Kau Timor Timur yang semula dikuasai oleh Portugis.

"Alhamdulillah, dengan jerih payah taruhan nyawa dan meninggalkan keluarga, akhirnya dapat merebut lapangan terbang tersebut dan mengusir Portugis," ujarnya.

"Yang paling penting pemuda sekarang harus kuat menghadapi terpaan. Dan jangan bersantai santai bila tak mau dijajah. Baik secara fisik maupun pemikiran," harapnya.

Populer

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

Dua Tahun Cukup bagi Prabowo Mengasuh Geng Solo

Selasa, 13 Oktober 2026 | 13:43

UPDATE

Bursa Asia Tertekan, Kospi Anjlok Lebih 2 Persen

Jumat, 23 Oktober 2026 | 08:33

Ekonom Sentil Menteri Prabowo: Jangan Jadi Beban Presiden!

Jumat, 23 Oktober 2026 | 08:21

Wall Street Tertekan Aksi Jual Saham Teknologi

Jumat, 23 Oktober 2026 | 07:56

Lonjakan Minyak Tekan Logam Dunia: Emas Anjlok ke Level Terendah

Jumat, 23 Oktober 2026 | 07:45

Saham BYAN Tancap Gas, Naik 3,16 Persen ke Rp10.600

Jumat, 23 Oktober 2026 | 07:22

Penguatan IHSG Sinyal Kepercayaan ke Pemerintah Mulai Pulih

Jumat, 23 Oktober 2026 | 07:10

Pasar Eropa Merah Gara-gara Minyak

Jumat, 23 Oktober 2026 | 07:06

Terbuka Peluang Bangun Museum Haji Indonesia

Jumat, 23 Oktober 2026 | 06:58

Pujian Prabowo Jangan Jadi Obat Tidur Menteri

Jumat, 23 Oktober 2026 | 06:57

Pemerintah Harus Berlakukan Wajib Halal pada Oktober 2026

Jumat, 23 Oktober 2026 | 06:19

Selengkapnya