Berita

Baliho dan bendera PDIP ditertibkan Satpol PP di Bali/Net

Publika

PDIP Stop Baper, Urusan Baliho Terlalu Kecil!

OLEH: SUTRISNO PANGARIBUAN*
RABU, 01 NOVEMBER 2023 | 19:00 WIB

BELAKANGAN ini muncul reaksi berlebihan para elite PDIP, baik DPP maupun anggota DPR RI. Terutama pasca ditinggal kader "istimewa" putra Presiden Joko Widodo (Jokowi), maju sebagai bakal cawapres. Elite PDIP tiba-tiba menjadi "sadar kamera dan mikrofon", sebagai narasumber utama dari berita terkait manuver politik Jokowi dan keluarganya.

Para elite PDIP membeberkan jasa politik kepada keluarga Jokowi. Mereka dengan wajah sedih curhat di depan kamera wartawan. Namun hingga kini, PDIP sama sekali tidak berani memecat Gibran dan Bobby.
 
Dalam menegakkan aturan partai, PDIP bertindak diskriminatif saat dengan tegas memecat orang biasa: Rustriningsih, Rudolf Pardede, Akhyar Nasution, Murad Ismail.


Mereka semua dipecat hanya karena maju sebagai calon kepala daerah melawan calon PDIP. Sementara Murad Ismail dipecat, hanya karena istrinya maju sebagai caleg DPR RI dari partai lain. Tanpa tedeng aling-aling, tanpa keraguan, tanpa himbauan etis moral, mereka semua dipecat.
 
Terbaru adalah reaksi elite PDIP, terkait penertiban sejumlah baliho Ganjar-Mahfud di Bali. Penertiban tersebut atas perintah Pj Gubernur Bali, Sang Made Mahendra Jaya kepada Kepala Satpol PP Bali, Dewa Nyoman Rai Dharmadi.

Berdasarkan perintah tersebut, Satpol PP Bali melakukan penertiban dengan alasan estetika. Satpol PP Bali mengklaim bahwa baliho dari semua Parpol dan Capres/ Cawapres ditertibkan. Penertiban baliho tersebut dilakukan di lokasi kegiatan Presiden Jokowi.
 
Penertiban baliho tersebut harus dilihat secara jernih, sehingga tidak perlu gaduh hanya karena baliho.
 
Urusan penertiban baliho Ganjar-Mahfud atas perintah Pj Gubernur Bali sebaiknya diurus DPD PDIP Bali dan Anggota DPRD Bali. Terlalu besar energi yang dikeluarkan oleh DPP PDIP dan Anggota DPR RI untuk mengurusi baliho.
 
Sebagai partai politik yang lahir di masa orde baru, PDIP seharusnya sudah matang menghadapi apa pun, apalagi soal baliho diturunkan. Itu perkara kecil dan elite PDIP tidak perlu reaktif.
 
PDIP harus menjadi pelopor dari kampanye positif dengan mematuhi seluruh aturan pemasangan alat peraga dan bahan kampanye. Tidak perlu memasang alat peraga dan bahan kampanye di lokasi yang mengganggu kepentingan publik.
 
Kemenangan dalam Pemilu tidak ditentukan oleh jumlah baliho dan reaksi terhadap baliho yang ditertibkan. Ganjar-Mahfud akan memenangi Pilpres, jika PDIP mampu meyakinkan rakyat bahwa Ganjar-Mahfud sebagai pasangan calon orang biasa, bukan anak, menantu, cucu presiden, bukan cucu pahlawan nasional.

Hanya pasangan calon orang biasa yang mampu memahami kebutuhan dan kepentingan orang biasa.
 
Pj Gubernur Bali tidak memiliki kewenangan menertibkan baliho di lokasi yang bukan kewenangannya. Ia hanya dapat menertibkan baliho di jalan provinsi atau di lokasi yang merupakan kewenangan provinsi.

Penertiban baliho menjadi kewenangan pemerintah kabupaten/kota. Maka, reaksi berlebihan Pj Gubernur Bali sebagai respons atas arahan Presiden Jokowi untuk tidak miring akhirnya diekspresikan kepada baliho.
 
Penertiban baliho Mahfud-Ganjar atas perintah Pj Gubernur melalui Satpol PP dibantu aparat TNI dan Polri adalah bentuk arogansi. Tindakan tersebut sebagai bagian dari abuse of power.

Jika Jokowi terganggu dengan baliho tersebut, maka Pj Gubernur dapat memerintahkan Kasatpol PP Bali melakukan koordinasi dengan Pemkab Gianyar untuk dikoordinasikan dengan PDIP, Tim Pemenangan Daerah, maupun relawan.
 
Di sisi lain, PDIP seharusnya tidak perlu marah karena baliho Ganjar-Mahfud ditertibkan, cukup bertekad bahwa Ganjar-Mahfud pasti akan menang.

*Penulis adalah Presidium GaMa Centre

Populer

Keputusan KIP Kuatkan Keyakinan Ijazah Jokowi Palsu

Minggu, 22 Februari 2026 | 06:18

Roy Suryo Cs di Atas Angin terkait Kasus Ijazah Jokowi

Rabu, 18 Februari 2026 | 12:12

Harianto Badjoeri Dikenal Dermawan

Senin, 23 Februari 2026 | 01:19

Kasihan Banyak Tokoh Senior Ditipu Jokowi

Rabu, 18 Februari 2026 | 14:19

Partai Politik Mulai Meninggalkan Jokowi

Selasa, 17 Februari 2026 | 13:05

Sangat Aneh Bila Disimpulkan Ijazah Jokowi Asli

Kamis, 19 Februari 2026 | 18:39

Gibran Jadi Kartu Mati Prabowo di Pilpres 2029

Minggu, 22 Februari 2026 | 03:02

UPDATE

Pendemo Atribut Serba Hitam Desak Teror Ketua BEM UGM Diusut

Jumat, 27 Februari 2026 | 20:14

BNI Siapkan Uang Tunai Rp23,97 Triliun Sambut Lebaran 2026

Jumat, 27 Februari 2026 | 19:39

Polwan Berkalung Serban Putih Kawal Demo Mahasiswa

Jumat, 27 Februari 2026 | 19:31

KPK: Mobil Operasional Pejabat Bea Cukai jadi Brankas Berjalan Uang Suap

Jumat, 27 Februari 2026 | 19:18

Muncul Aksi Tandingan BEM UI di Mabes Polri

Jumat, 27 Februari 2026 | 19:13

Jangan Hanya Kecam Israel, OKI Harus Berani Putuskan Sikap Kolektif

Jumat, 27 Februari 2026 | 19:09

Angka Prima Palindromik

Jumat, 27 Februari 2026 | 19:06

Seskab Bantah MBG Kurangi Anggaran Pendidikan

Jumat, 27 Februari 2026 | 19:05

Pengaturan Ambang Batas Fraksi Lebih Tepat Ketimbang Naikkan PT

Jumat, 27 Februari 2026 | 18:42

Sentil Tim Ekonomi Prabowo, Pakar: Mereka bukan Negosiator

Jumat, 27 Februari 2026 | 18:23

Selengkapnya