Berita

Gibran Rakabuming Raka/Kompas

Publika

Reinkarnasi Opsus

RABU, 01 NOVEMBER 2023 | 13:33 WIB | OLEH: FRITZ E. SIMANDJUNTAK

BAGI generasi Baby Boomers (1946-1964) dan generasi X (1965-1980) tentu pernah mendengar istilah Opsus atau Operasi Khusus yang di jaman Soeharto dipimpin oleh Ali Moertopo, tokoh intelijen dan militer. Tugas utamanya adalah melakukan rekayasa di masyarakat, baik politik maupun sosial. Selain untuk menghadapi bahaya PKI, juga untuk memenangkan Golkar pada pemilihan umum 1971 dan membangun pemerintahan yang didukung oleh organisasi masyarakat agar stabilitas politik bisa terjaga.

Rekayasa yang dilakukan kepada partai politik antara lain dengan memilih pemimpin yang pro pemerintah dan melakukan penggabungan partai politik menjadi tiga saja. Yaitu Golkar, PDI dan PPP.

Rekayasa juga dilakukan organisasi profesi seperti PWI, IDI, Persatuan Sarjana Hukum. Bagi kalangan pemuda dibentuk organisasi KNPI. Sementara organisasi mahasiswa atau pemuda lainnya dipaksa untuk melakukan aktivitas yang cenderung mendukung pemerintah.


Apa yang dikerjakan oleh Ali Moertopo dilakukan dengan sangat cepat dan efektif. Hingga pemilu terakhir era Soeharto, Golongan Karya selalu menjadi pemenang dan Soeharto dilantik kembali sebagai Presiden RI pada 11 Maret 1998.

Operasi khusus yang mirip era orde baru ternyata terjadi di era kedua pemerintahan Joko Widodo. Terutama karena Joko Widodo berharap agar kepemimpinan nasional yang akan datang melanjutkan Program Prioritasnya saat ini. Awalnya terlihat sekali keinginan Jokowi untuk menjadikan Ganjar dan Prabowo sebagai duet kepemimpinan nasional 2024-2029. Ternyata upayanya gagal.

Akhirnya operasi khusus gaya orde baru mulai dijalankan. Pertama, melakukan gerakan menurunkan popularitas PDIP. Tokoh PDIP seperti Budiman Sujatmiko dan Effendi Simbolon cenderung ke Prabowo. Beberapa tokoh pendukung Jokowi mulai mendukung dan menjadi buzzer Prabowo.

Tokoh tokoh nasional yang kritis terhadap PDIP direkruit PSI. Dan terus mengeluarkan narasi narasi yang menyudutkan PDIP.

Perjalanan Gibran sebagai walikota juga penuh keajaiban. Awalnya FX Rudy sebagai Ketua DPC PDIP Solo menetapkan wakil walikota Achmad Purnomo sebagai penerus jabatan sebagai walikota Solo. Namun DPP PDIP menyodorkan nama Gibran, padahal sesuai AD/ART PDIP, Gibran belum layak dicalonkan sebagai kandidat kepala daerah karena belum dua tahun menjadi anggota resmi PDIP. Belakangan diketahui bahwa permintaan Jokowi kepada Megawatilah yang meloloskan Gibran.

Sementara Achmad Purnomo yang sejak lama sudah jadi kader PDIP dipanggil ke Istana Negara dan ditawarkan jabatan penting. Tapi Achmad Purnomo menolak.

Ternyata lolosnya Gibran menjadi calon walikota perlu skenario tambahan. Yaitu mencari pasangan lain yang bersedia maju sebagai lawan Gibran. Agar tidak terjadi pemilihan walikota dilakukan antara Gibran dan kotak kosong.

Sekonyong konyong muncullah nama Bagus Wahyono, tukang jahit kebaya, berpasangan dengan FX Supardjo, pegawai BLK, maju sebagai calon independen. Dan bisa diduga akhirnya pasangan Gibran-Teguh Prakosa menang mutlak. Dan resmi sebagai Walikota Solo sejak tanggal 26 Februari 2021.

Baru dua tahun menjadi Walikota Solo, nama Gibran mulai didengung dengungkan sebagai cawapres 2024.  Dan model opsus kembali bekerja.

Diawali adanya 11 upaya masyarakat menggugat usia capres dan cawapres agar Gibran, yang masih di bawah 40 tahun bisa ikut sebagai cawapres. Salah satu diantaranya PSI. Saat usulan itu masih diajukan ke MK, Prabowo bertemu empat mata dengan Gibran di Solo. Kabarnya meminta Gibran bersedia jadi kandidat cawapresnya apabila permohonan di MK dikabulkan.

Seperti opsus di era orba, tiba tiba Kaesang putera Jokowi menjadi Ketua Umum PSI. Padahal baru beberapa hari menjadi anggota PSI. Namanya sebuah rekayasa, hal itu terjadi tanpa lewat musyawarah nasional luar biasa partai. Melainkan hanya lewat Gelar Kopi Darat. Yang menarik lagi tokoh nasional anggota PSI yang sering kritik PDIP disuruh diam oleh Kaesang, dan ternyata menurut. Seolah olah hilang akal sehat dan logika yang sering didengung dengungkannya untuk bebas berpendapat.

Segala kejanggalan proses sidang yang terjadi di MK secara kasat mata disaksikan oleh masyarakat. Issue Dinasti Politik kemudian digaungkan oleh penentang perubahan usia capres/cawapres. Tetapi opsus kali ini memang kuat. Akhirnya MK, yang diketuai oleh Paman Gibran, menyetujui pencalonan capres/cawapres asal pernah jadi kepala daerah. Keputusan ini memuluskan jalan Gibran sebagai Cawapres. Seluruh kerja opsus ini akhirnya berhasil menjadikan Gibran sebagai Cawapres Prabowo.

Dari sini kita belajar bahwa cara politik orde baru masih melekat di pikiran dan hati politisi produk reformasi dan mengulanginya. Cara kerja membangun Dinasti ternyata dimulai sejak seleksi kandidat dan berujung pada keputusan kebijakan politik agar kandidat pilihan penguasa bisa lolos seperti yang dilakukan MK. Itulah proses Dinasti model Opsus.

Tentu saja langkah langkah model opsus masih akan berlangsung. Hingga pemilu dan pilpres berakhir bulan Februari 2024 yang akan datang. Namun cara kerja opsus harus dihentikan. Seperti yang dilakukan mahasiswa era 1970 an dengan tuntutan pembubaran opsus. Sayangnya kali ini kita tidak tahu persisnya operator opsus pilpres 2024. Hanya merasakan akibat cara kerjanya yang sekaligus mencederai demokrasi politik kita.

Penulis adalah pemerhati sosial.

Populer

KPK Bakal Dalami Data Intelijen soal Dugaan Suap ke Purbaya dan Anggota Komisi XI DPR

Kamis, 27 Agustus 2026 | 02:24

Dakwaan Lemah, Perkara Chromebook Murni Rekayasa

Kamis, 27 Agustus 2026 | 14:31

Profil Akhmad Sodiq, Rektor Unsoed yang Terjaring OTT KPK

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 09:02

Tidak Benar Menag Nasaruddin Umar Mundur

Rabu, 26 Agustus 2026 | 18:06

KPK Sebut Iptu Dias Tak Bisa Dijerat Dewas, Penanganan Etik Diserahkan ke Polri

Senin, 24 Agustus 2026 | 11:47

Belasan Teman Jokowi Bagusnya Batal Jadi Saksi Sidang soal Ijazah

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 03:14

KPK Kembali Bongkar Peran Dirjen Bea Cukai dalam Skandal Suap Blueray Cargo

Kamis, 27 Agustus 2026 | 01:46

UPDATE

Kemenkum Tegas Pertahankan Pembatalan Status Badan Hukum PLK

Selasa, 01 September 2026 | 16:28

Rebranding Dukcapil di Tarakan Tembus 1.387 Layanan Adminduk

Selasa, 01 September 2026 | 16:22

WNI Jadi Tentara Rusia Gegara Diiming-imingi Gaji Besar

Selasa, 01 September 2026 | 16:11

Pengamat Wanti-wanti BLU Batu Bara: Efisien Boleh, Pembangkit Jangan Terganggu

Selasa, 01 September 2026 | 15:53

UBakrie's Week 2026 Persiapkan 1.147 Mahasiswa Baru untuk Dunia Kampus dan Industri

Selasa, 01 September 2026 | 15:41

Bukan Cuma Cari Juara, Kemenag Bidik Kader Ulama dari MTQN XXXI

Selasa, 01 September 2026 | 15:39

DPR: Usut Tuntas Kematian Warga Pejompongan Korban Kerusuhan Demo

Selasa, 01 September 2026 | 15:34

Destry Resmi Pimpin BI, Perry Titip Pesan di Tengah Gejolak Global

Selasa, 01 September 2026 | 15:30

BNI Tawarkan Sukuk Ritel SR025 Lewat wondr, Imbal Hasil hingga 6,9 Persen

Selasa, 01 September 2026 | 15:25

Bawa Program "Klasterku Hidupku", BRI Ajak Pengusaha Ikan Kering Sorong Naik Kelas

Selasa, 01 September 2026 | 15:24

Selengkapnya