Berita

Tersangka Muhammad Ramdanu alias Danu saat memberikan pengakuan/Net

Publika

Yayasan Keluarga Motif Pembunuhan Subang

SELASA, 31 OKTOBER 2023 | 08:38 WIB | OLEH: DJONO W OESMAN

MOTIF pembunuhan Subang belum terungkap, meski dua dari lima tersangka sudah ditahan polisi.. Kini polisi fokus menyelidiki yayasan milik tersangka Yosep Hidayah yang mempekerjakan anggota keluarganya. Diduga motif rebutan uang yayasan.

Ternyata ada temuan baru soal yayasan. Tepatnya pengakuan baru, dari tersangka Muhammad Ramdanu alias Danu. bahwa Yayasan Bina Prestasi Nasional yang membawahi SMP dan SMK di Subang itu, memanipulasi dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah) sumbangan pemerintah.

Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Jawa Barat, Kombes Pol Surawan kepada wartawan, Jumat (27/10) mengatakan, Danu pernah bekerja di yayasan itu. Ia yang kini ditahan di Polda Jabar, mengaku bahwa yayasan itu memanipulir dana BOS. pengakuan itu lantas didalami polisi.


Surawan: "Berdasarkan temuan-temuan kita di TKP (Yayasan Bina Prestasi Nasional) dan tempat keluarga, ada beberapa data siswa yang fiktif. Di samping itu kita juga melakukan pemblokiran beberapa rekening yayasan yang digunakan untuk menerima dana BOS maupun bantuan lainnya.”

Dilanjut: "Kita juga sudah bersurat dengan Disdik Provinsi Jabar dan Kabupaten Subang, untuk sementara bantuan dana ke yayasan harap dihentikan dulu. Karena, sampai sekarang bantuan masih berjalan. Kita juga melakukan pemblokiran, terhadap empat rekening terkait yayasan."

Hasil penyidikan polisi, yayasan itu legal. Surat izin pendirian, sah. Membawahi SMP dan SMK. Tapi, jumlah siswa digelembungkan, agar dapat bantuan dana BOS besar. Berarti ada siswa fiktif. Nama-nama siswa yang sudah keluar dimasukkan lagi. Sebagian nama yang benar-benar fiktif.

Seperti diberitakan, yayasan ini mempekerjakan anggota keluarga Yosep. Baik dari istri pertama maupun isteri ke dua. Diduga, inilah sumber konflik, sehingga membuat Yosep disangka membunuh isteri, Tuti Suhartini dan anaknya, Amelia Mustika Ratu.

Biar jelas, soal yayasan itu begini: Didirikan Yosep dan istri muda, Mimin Mintarsih pada 2009. Saat itu Yosep menjabat ketua, Mimin bendahara. Penempatan Mimin jadi bendahara, membuat Tuti (istri pertama Yosep) marah, karena tak dilibatkan di yayasan.

2011 posisi bendahara Mimin digantikan Tuti. Sebaliknya, Mimin tak dilibatkan di yayasan lagi. Tapi, beberapa kerabat Mimin sudah terlanjur pegang beberapa posisi di situ. Dan, Mimin (selaku isteri Yosep) juga diberi hak minta uang yayasan, Mintanya ke bendahara Tuti (istri tua Yosep). Di situ potensi konflik.

Komposisi pengelola yayasan: Yosep Dewan Pembina. Membawahi Yories, anak sulung Yosep dan Tuti, selaku ketua yayasan. Lalu, Tuti bendahara. Sekretaris yayasan adalah Amelia Mustika Ratu alias Amel, yang juga tewas diduga dibunuh Yosep.

Dari pihak istri kedua, Mimin, anak-anak Mimin dari suami terdahulu juga bekerja di situ. Juga, Danu, keponakan Yosep dan Tuti bekerja di situ. Intinya, pengurus yayasan tersebut adalah anggota keluarga Yosep dan istri pertama dan kedua.

Tuti dan Amel digaji sana, masing-masing Rp 10 juta per bulan. Yoris juga Rp 10 juta per bulan. Sedangkan Yosef, mendapat uang dari yang diberikan oleh bendahara Tuti. Besaran uang tidak menentu.

Tidak tentu pula besaran uang yang diminta Mimin ke bendahara setiap bulan.

Dari pengaturan gaji itu tampak seperti ideologi sosialis, sama rata. Mungkin, karena ini perusahaan keluarga, maksudnya supaya tidak terjadi konflik, gaji disamakan, apapun jabatannya.

Sejak 2011 sampai pembunuhan Tuti dan Amel di rumah mereka di Subang, 18 Agustus 2021, memang tidak terjadi konflik hebat. Sepuluh tahun lancar.

Belakangan, sebelum pembunuhan, Mimin sering mengeluh. Setiap kali dia minta uang jatah ke yayasan, lewat bendahara Tuti, selalu tidak dikasih.

Itu dari keterangan para saksi yang dimintai keterangan polisi. Itu pula Mimin dan dua anaknya dari suami terdahulu, Arighi Reksa Pratama dan Abi, jadi tersangka. Motif uang. Total tersangka lima orang. Yosep dan Danu sudah ditahan, sisanya belum ditahan.

Perusahaan keluarga umumnya minim konflik. Sebab, masing-masing orang di perusahaan itu berusaha keras menghindari konflik.

Dikutip dari Harvard Business Review, 26 Desember 2018, berjudul Why Family Businesses Need to Find the Right Level of Conflict? Karya Josh Baron, dipaparkan, bahwa semua personil perusahaan pasti konflik. Termasuk di perusahaan keluarga. Cuma, di perusahaan keluarga, masing-masing pengurus berusaha menghindari konflik.

Itu artikel ilmiah bisnis. Josh Baron adalah pendiri Banyan Global Family Business Advisors dan Dosen Tamu Pendidikan Eksekutif di Harvard Business School, Amerika Serikat.

Baron menggambarkan konflik dalam perusahaan, termasuk perusahaan keluarga, ada dua: Konflik besar dan kecil.

Besar adalah yang menimbulkan kemarahan meluap, sampai terjadi PHK atau mengundurkan diri dari salah satu personil perusahaan. Kecil adalah, konflik harian biasa, yang umumnya terjadi dalam setiap perusahaan.

Tingkat bahayanya sama. Konflik besar menimbulkan perpecahan. Konflik kecil bakal menumpuk dan terpendam, suatu saat bakal meledak jadi kemarahan besar.

Baron: “Konflik adalah masalah Goldilocks. Kedua ujung spektrum pada akhirnya tidak berkelanjutan. Sehingga posisi terbaik adalah di tengah-tengah.”

Goldilocks adalah dongeng anak-anak Amerika. Tentang gadis kecil pemilih yang cerewet. Dia bersikeras bahwa buburnya harus tepat, tidak terlalu panas atau terlalu dingin. Dongeng itu ada bernilai filosofis: Bahwa sikap hidup manusia harus ada di tengah-tengah. Bukan pemarah, tapi juga tidak boleh terlalu sabar. Dermawan tapi tidak gampang ditipu orang.

Baron menarik kesimpulan Goldilocks lebih jauh. Bumi berada di tempat yang oleh para astronom disebut sebagai Zona Goldilocks. Tidak dekat dengan matahari, tapi juga tidak terlalu jauh. Seumpama terlalu dekat, maka bumi dan seisinya bakal terbakar. Seandainya terlalu jauh, semuanya membeku yang makhluk apapun bakal mati. Jadi, posisi bumi dan matahari harus tepat, meskipun keduanya sama-sama berputar.

Begitu juga konflik antar orang dalam perusahaan. Konflik besar menimbulkan pecah. Konflik kecil menumpuk terpendam, suatu saat bakal meledak jadi perpecahan juga.

Baron: “Di antara kedua ekstrem ini terdapat jalan tengah yang sehat, di mana isu-isu sulit dapat diangkat, diatasi, dan diselesaikan tanpa menimbulkan kerusakan jangka panjang terhadap hubungan atau aset bersama. Itulah manajemen.”

Dilanjut: “Kenyataannya adalah jika kepentingan sebuah keluarga tidak selaras, suatu kejadian yang jarang terjadi dalam pengalaman saya, konflik tidak dapat dihindari.”

Di kasus pembunuhan Subang, terkait yayasan, sejak awal sudah potensial konflik. Yosep mendirikan yayasan bersama istri muda. Rupanya Yosep mengatasi itu dengan cara, memberi gaji yang sama rata di posisi jabatan vital. Tapi itu tidak mampu meredam konflik.

Bahkan, yayasan diduga memanipulir dana BOS. Berarti, konflik motif rebutan uang berakibat uang yayasan terkuras. Dan untuk menutupinya, dengan cara melaporkan ke Dinas Pendidikan nama siswa fiktif, agar dapat dana BOS lebih besar.

Itu pun belum mengatasi persoalan. Sampai diduga mengakibatkan pembunuhan Tuti dan Amel. Ini baru dugaan, yang akan dibuktikan polisi.

Penulis adalah wartawan senior


Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Langsung Terbang ke Jakarta, Maukah Chatib Basri Ganti Purbaya?

Jumat, 05 Juni 2026 | 06:58

Ironis! Terima Penghargaan Negara tapi Terjerat Korupsi

Jumat, 05 Juni 2026 | 01:00

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

UPDATE

KPU akan Berulang Tahun ke-73 di November Tahun Ini

Minggu, 14 Juni 2026 | 12:22

Nasib Atlet Setelah Lampu Stadion Padam

Minggu, 14 Juni 2026 | 11:33

Trump: Perjanjian Damai dengan Iran akan Diteken Hari Ini

Minggu, 14 Juni 2026 | 11:33

Pemuda 24 Tahun Jadi Tersangka Usai Bawa Botol Diduga Bom Molotov ke Aksi DPR

Minggu, 14 Juni 2026 | 11:25

Ekonom Ungkap Akar Munculnya Narasi "Sell Indonesia"

Minggu, 14 Juni 2026 | 10:41

KPK Bongkar Korupsi "Sempurna" di Muara Enim

Minggu, 14 Juni 2026 | 10:39

Panggung Atraksi Wushu di Sekolah Rakyat Manado Pukau Mensos

Minggu, 14 Juni 2026 | 10:01

Daya Beli Masyarakat Terancam Jika BBM Subsidi Ikut Naik

Minggu, 14 Juni 2026 | 09:51

KPK Amankan Dokumen saat Geledah Kantor Hingga Rumah Dinas Bupati Muara Enim

Minggu, 14 Juni 2026 | 09:44

Menhan Jepang Persembahkan Model Kapal Perang "Makasa" ke Prabowo di Kertanegara

Minggu, 14 Juni 2026 | 09:31

Selengkapnya