Berita

Pemasangan spanduk "aset negara" yang diletakkan di Hotel Sultan, Jakarta/Ist

Bisnis

Pemerintah VS PT Indobuildco, Sengketa Hotel Sultan Ternyata Sudah Ada Sejak 1970

SENIN, 23 OKTOBER 2023 | 16:44 WIB | LAPORAN: ALIFIA DWI RAMANDHITA

Kontroversi atas pengelolaan Hotel Sultan  yang terletak di Blok 15 Kawasan Gelora Bung Karno (GBK) telah memasuki babak baru, setelah PT Indobuildco, yang mengelola hotel tersebut menolak permintaan pengosongan yang diajukan pemerintah.

Perusahaan swasta yang dimiliki Pontjo Sutowo itu menolak mengosongkan hotelnya karena mereka mengklaim bahwa mereka secara hukum masih menjadi pemilik yang sah, karena Hak Guna Bangunan (HGB) belum berakhir.

Sementara itu,  Pusat Pengelolaan Komplek Gelora Bung Karno (PPK GBK) di bawah Sekretariat Negara (Setneg) menyatakan bahwa HGB hotel tersebut sudah habis sejak Maret-April 2023 lalu, yang membuat mereka secara paksa menaruh spanduk di depan hotel.


Menurut Kuasa Hukum PT Indobuildco, Hamdan Zoelva, pemasangan spanduk peringatan oleh Setneg yang bertuliskan "Tanah Ini Aset Negara Milik Pemerintah Negara Republik Indonesia" merupakan tindakan sepihak.

"Melakukan pengosongan sendiri itu jelas-jelas tindakan sepihak, melanggar hukum dan tindakan main hakim sendiri," kata Hamdan di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Jalan Bungur Besar Raya No.24, Gunung Sahari Selatan, Kemayoran, Jakarta Pusat, Senin (23/10).

Namun ternyata kontroversi Hotel Sultan, yang dahulu disebut sebagai Hotel Hilton itu sendiri diketahui telah lama terjadi, atau tepatnya sejak awal berdiri pada 1970-an.

Sejarah kontroversi Hotel Sultan sejak 1970-an

Pendirian hotel ini bermula ketika mantan Gubernur DKI Jakarta, Ali Sadikin, berkeinginan mendirikan hotel sebagai tempat tinggal bagi tuan rumah konferensi pariwisata se-Asia Pasifik yang dihadiri oleh ribuan peserta.

Saat itu, Jakarta sendiri masih memiliki sedikit hotel berskala internasional. Untuk itu, Ali mengajukan permintaan kepada Pertamina untuk membangun hotel itu pada 1971, dengan alasan bahwa pembangunan hotel tersebut tidak dapat dilakukan oleh sektor swasta.

Permintaan Ali Sadikin akhirnya disetujui oleh Direktur Utama Pertamina saat itu, Ibnu Sutowo (1968-1978), yang di mana pada 1973, Sutowo memulai pembangunan hotel ini di kawasan Senayan melalui PT Indobuild Co sebagai entitas yang mengelola proyek tersebut.

Lahan negara yang dikelola swasta

Pada awalnya Ali dan banyak orang percaya bahwa PT Indobuild Co adalah anak dari perusahaan Pertamina, namun setelah hotel itu selesai dibangun pada 1976 baru terungkap bahwa PT Indobuild Co adalah entitas swasta, yang dimiliki keluarga Sutowo.

"Saya baru tahu Indobuild Co itu bukan Pertamina. Iya, saya tertipu," kata Ali Sadikin dalam persidangan, seperti dikutip Detik pada 2007 lalu.

Meskipun Hotel Sultan awalnya dibangun di atas lahan milik negara, pengelolaannya kemudian diambil alih oleh pihak swasta, yakni PT Indobuild Co yang dikelola oleh keluarga Sutowo, khususnya oleh anaknya, Pontjo Sutowo.

Dengan kata lain, hotel ini tidak lagi menjadi aset negara, melainkan menjadi milik keluarga Sutowo.

Seiring berjalannya waktu, pemerintah Orde Baru bahkan memberikan izin kepada PT Indobuild Co, perusahaan swasta, untuk mengelola hotel ini dengan memberikan HGB selama 30 tahun.

Hal tersebut telah menjadi titik awal dari kontroversi yang mengitari Hotel Sultan sampai saat ini.

Semenjak HGB hotel tersebut berakhir yaitu tepatnya pada 2022 dan kemudian diperpanjang hingga 2023, hal  itu telah digunakan pemerintah untuk merebut kembali kepemilikan Hotel Sultan setelah puluhan tahun dikelola swasta.

Populer

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

UPDATE

TNI Terima Penyerahan 75 Senjata Peninggalan Konflik Sosial Maluku

Minggu, 04 Oktober 2026 | 03:17

MPSI Dorong Badan Khusus Tangani Pengungsi Internal Papua

Minggu, 04 Oktober 2026 | 02:50

KDMP: Dari Dukungan Negara Menuju Kemandirian Anggota

Minggu, 04 Oktober 2026 | 02:25

Gibran Dilaporkan ke Bareskrim Terkait Dugaan Keabsahan Ijazah

Minggu, 04 Oktober 2026 | 01:50

Berpengalaman di Bidang Reserse, Irjen Dadang Didapuk jadi Kapolda Metro

Minggu, 04 Oktober 2026 | 01:20

Ketika Karbon Menjadi Komoditas

Minggu, 04 Oktober 2026 | 00:43

Miliki Segudang Pengalaman, Tugas Berat Kini Menanti Herimen sebagai Kabaharkam

Minggu, 04 Oktober 2026 | 00:28

Laporan Keuangan Danantara Ditargetkan Rampung Oktober

Minggu, 04 Oktober 2026 | 00:04

Kapolri Baru Harus Usut Kasus Pembubaran Ibadah GKPI Mauk Sepatan

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 23:33

Polisi Didesak Ungkap Kasus Pemecahan Kaca Mobil Jurnalis di Depok

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 23:13

Selengkapnya