Berita

Ilustrasi/Net

Dahlan Iskan

Hepatitis Habis

SABTU, 21 OKTOBER 2023 | 05:02 WIB | OLEH: DAHLAN ISKAN

SAYA sudah satu minggu di Tiongkok. Baru sekarang bisa menulis perjalanan ini. Hari-hari kemarin penuh gempita dengan gegapnya: soal calon presiden dan wakilnya. Begitu tersiksa mereka yang tidak suka berita politik itu-itu saja.

Saya harus ke Tianjin gara-gara ini: kehabisan Baraclude. Dulu pernah ada dijual di Surabaya. Atau di Jakarta. Kini tidak ada lagi. Semua apotek besar sudah dihubungi Kang Sahidin: ''tidak punya Baraclude''. Pun di Jakarta.

Obat ini mahal: satu bulan habis Rp 5 juta. Pembelinya sedikit. Hanya orang seperti saya. Untuk apa apotek punya stok Baraclude. Jarang lakunya.


Yang sedikit orang itu pun selalu punya stok sendiri di rumah. Seperti saya. Setiap enam bulan harus kontrol ke rumah sakit ???????? Tianjin. Tentu sekalian beli Baraclude. Dan obat lainnya.  Untuk stok enam bulan ke depan.

Enam bulan lalu saya ke Tianjin. Lewat Beijing. Kali ini lewat Hong Kong. Persediaan Baraclude terakhir saya minum di Hongkong. Habis. Toh sorenya sudah tiba di Tianjin. Bisa langsung beli untuk minum hari berikutnya.

Baraclude harus diminum setiap hari. Pada jam yang sama. Agar efektif. Itu untuk mencegah virus hepatitis B beranak-pinak. Agar tidak jadi hepatitis kronis: hati kena sirosis. Atau jadi kanker hati. Seperti yang menimpa saya dulu.

Meski hati saya ''baru'', virus hepatitis sudah ikut beredar di darah. Lalu masuk ke hati yang baru. Kalau dibiarkan bisa berkembang lagi. Jadi kronis. Maka saya harus mencegahnya: jangan berkembang lagi.

Setelah 10 tahun minum Baraclude, saya pernah ngotot ke dokter di Tianjin: bolehkah berhenti. Pikiran saya: dalam 10 tahun seharusnya hati milik orang lain yang ada di tubuh saya sudah menyatu. Dokter ahli saya di Indonesia juga membolehkan dihentikan. Terutama setelah melihat hasil tes darah saya yang bagus.

Apa jawaban dokter di Tianjin?

''Tidak boleh berhenti,'' kata dokter itu. Tegas. Pasti. Tidak bisa ditawar.

''Takut apa?'' tanyanya.

Saya gelagapan menjawabnya. Harus cari alasan yang tepat. Tidak baik untuk mengatakan ''atas saran dokter saya di Indonesia''. Juga tidak masuk akal kalau saya beralasan ''Rp 5 juta sebulan''.

Saya temukan jawaban itu: ''Saya takut efek sampingnya,'' jawab saya sekenanya.

''Ini Baraclude dosis yang paling kecil. Hanya 0,5 mg. Tidak pantas ditakutkan,'' katanya.

Sejak itu saya meneguhkan tekad: tidak akan mengajukan usul seperti itu lagi. Tidak akan berhenti minum obat itu. Seumur hidup. Pun, setelah saya hitung: selama 17 tahun terakhir Baraclude yang saya minum sudah senilai sekitar Rp 1,2 miliar.

Dan itu masih belum obat yang termahal. Masih ada satu obat lagi yang harus saya minum seumur hidup: Immunosuppression. Untuk menurunkan imunitas. Agar hati orang lain itu tidak ditolak oleh badan saya.

Beda dengan Anda: imun saya tidak boleh tinggi. Pun masa Covid-19.

Penyakit hepatitis B memang tidak bisa disembuhkan. Belum ada obatnya. Yang bisa: dikendalikan. Lewat obat seperti Baraclude.

Baraclude adalah merek obat. Ditemukan tahun 1992. Isinya: Entecavir. Paten Baraclude dipegang oleh Bristol-Myers Squibb, perusahaan Amerika Serikat. Berpusat di New Jersey. Hak paten itu sudah berakhir tahun 2015 lalu. Beberapa perusahaan kini sudah memproduksi sejenis Baraclude.

Di Indonesia jumlah penyandang hepatitis B kini sekitar 15 juta orang. Angka itu sudah menurun drastis sejak Orde Baru: sejak ada gerakan imunisasi bayi. Belum ada imunisasi di masa kecil saya. Apalagi di desa.

Cara lain untuk mencegah meluasnya hepatitis adalah: Anda  yang mau menikah harus berani mengajak pasangan untuk sama-sama tes hepatitis B. Itu kalau pasangan tersebut belum telanjur melakukan ''itu'' menjelang nikah.

Kalau pasangan ketahuan punya hepatitis maka jangan batal nikah. Yang belum kena hepatitis saja segera imunisasi. Nikahnya ditunda dulu. Menunggu imunisasinya berhasil menumbuhkan kekebalan atas virus hepatitis B.

Penularan terbanyak dari ibu yang menderita hepatitis B. Saat melahirkan. Bisa juga dari air liur yang menempel di piring, sendok, atau gelas. Dipakai bergantian. Tapi juga bisa lewat hubungan badan.

Bagi yang sudah telanjur punya hepatitis B, janganlah membiarkan virus itu membiak. Obatnya memang mahal. Itulah sebabnya, ''ketika itu'', saya minta Kimia Farma cari terobosan. Agar bisa memproduksi sejenis Baraclude. Yang harganya terjangkau.

Kimia Farma berhasil: Entecavir bikinannya diberi merek Heplav –kalau tidak salah. Harganya hanya 10 persen Baraclude.

Kemarin saya ditawari Heplav. Saya tanya istri: disuruh ke Tianjin. Mumpung dia sendiri akan pergi ke Sangatta menengok adiknyi di sana.

Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

UPDATE

Investor Diminta Wait and See, Pengamat Prediksi Banyak yang Ditangkap Imbas MSCI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 12:30

Serangan Houthi Ganggu Ajang Olahraga Saudi, Piala Asia Tetap Sesuai Jadwal

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 12:14

Putusan MK soal UU Peradilan Militer Momentum Akhiri Impunitas

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 12:06

Komisi III DPR Desak Pelaku Korupsi Dana Bencana Dihukum Maksimal!

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 11:46

Daftar Negara Masuk Standalone Market MSCI, Ada 12 Negara

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 11:34

Dihantam Ancaman MSCI, IHSG Terancam Anjlok ke 4.700 Pekan Depan

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 11:24

Minyak Dunia Tembus 110 Dolar AS

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 11:07

Profil Hamenang Wajar Ismoyo, Bupati Klaten Tersangka Kasus Suap Audit BPK

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 10:53

Karhutla Meluas, Legislator Golkar Desak Evaluasi Pencegahan dan Penegakan Hukum

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 10:52

BMKG Deteksi Sebaran Asap Karhutla hingga Jakarta dan Papua

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 10:39

Selengkapnya