Berita

Ilustrasi Foto/ist

Bisnis

Tempuh Jalan Terjal, Ekspansi Pelindo ke Afrika Banjir Apresiasi

KAMIS, 14 SEPTEMBER 2023 | 20:18 WIB | LAPORAN: ADITYO NUGROHO

Rencana PT Pelindo (Persero) mengembangkan bisnis ke Afrika mendapat apresiasi dari banyak kalangan. Pasalnya, Benua Afrika berpotensi menjadi pasar yang baik bagi pengusaha Indonesia termasuk pelaku usaha mikro dan kecil menengah (UMKM).

Ekspansi bisnis tersebut menjadi asa bagi Pelindo untuk terjun sebagai pemain utama dalam perekonomian global. Hal itu diungkapkan oleh Senior Consultant Supply Chain Indonesia (SCI), Joni Gusmali.

"Dengan bentang alam yang beragam, dan sumber daya mineral yang melimpah, satwa liar yang unik, kekayaan warisan dan budaya, kami mengapresiasi Pelindo mengembangkan bisnis di sana. Harapan kami Pelindo bisa menjadi pemain utama pada perekonomian global ke depannya," kata Joni kepada Kantor Berita Politik RMOL di Jakarta, Rabu (13/9).
 

 
Rencana Pelindo itu merupakan gayung bersambut dari skema perdagangan yang dijajaki oleh Kementerian Perdagangan (Kemendag) RI. Mendag RI Zulkifli Hasan menyatakan Benua Afrika dengan 1,5 miliar penduduk menjadi pasar potensial untuk produk Indonesia seiring melambatnya ekonomi di Eropa.

Sebelumnya, delegasi bisnis Pelindo yang dipimpin Direktur Utama Arif Suhartono telah melakukan kunjungan ke Kenya untuk membicarakan peluang kerja sama pengembangan pelabuhan dengan otoritas Pelabuhan Mombasa, Minggu (5/2). Kenya merupakan pintu gerbang Afrika Timur di bentang perdagangan Samudera Hindia.

Pelabuhan Mombasa dan Lamu saat ini baru mampu melayani volume perdagangan sekira 1,4 juta TEU, jauh berada di bawah Pelindo yang mencapai 17,10 juta TEU di tahun 2022. Harapannya, volume perdagangan di Pelabuhan Mombasa terus meningkat seiring perkembangan ekonomi di kawasan Samudera Hindia.

Lanjut Joni, industri logistik di Kenya dan negara-negara Afrika lainnya mengalami transformasi besar-besaran dengan penerapan Perjanjian Perdagangan Bebas Kontinental Afrika (The African Continental Free Trade Agreement-AfCFTA).

"Terdapat potensi manfaat yang besar bagi semua pihak yang terlibat dan diperkirakan perdagangan intra-Afrika dapat meningkat sebesar 15 persen dalam waktu dua dekade," ungkapnya.

Dia menambahkan, AfCFTA berupaya menjadikan Afrika sebagai pasar tunggal terbesar di dunia, menghubungkan 1,5 miliar orang dan mewakili kekuatan belanja gabungan sebesar 4 triliun Dolar AS.

"Pengaturan ini akan menghasilkan transportasi barang yang lebih mudah diakses melalui pengurangan tarif, penyesuaian operasi logistik di perbatasan dan berbagai proyek infrastruktur karena peningkatan angkutan barang dari waktu ke waktu," jelas Joni.

Dengan demikian, kata Joni, Pelindo dapat memperkokoh kerja sama di bidang tata kelola kepelabuhanan sehingga perekonomian antara Indonesia dan Kenya dapat meningkat lebih pesat lagi.

"Kerja sama dengan Kenya Port Authorities (KPA) untuk meningkatkan produktivitas melalui sister port antara Kenya dan Indonesia itu sangat bagus. Nah Pelindo akan menjadi pembuka pintu hubungan ekonomi kedua negara," tutur Joni.

Hambatan dan Kendala

Di lain sisi, Joni menjelaskan pengembangan kerja sama usaha lebih lanjut di Kawasan Timur Afrika harus memperhatikan sejumlah kendala seperti tingkat kemiskinan, ketidakstabilan politik, dan perlambatan pertumbuhan ekonomi.

Selain itu, sambung dia, kendala lainnya terkait masalah infrastruktur, akses pembiayaan, fragmentasi pasar, dan keterampilan tenaga kerja juga perlu dipikirkan oleh Pelindo.

"Perlu investasi untuk memperbaiki infrastruktur yang tidak memadai ini melalui kolaborasi dengan perusahaan milik negara-negara Afrika untuk membangun jalan raya baru, mengembangkan pelabuhan, dan meningkatkan sistem perkeretaapian. Hal ini akan membantu mengurangi biaya transportasi dan meningkatkan efisiensi logistik," beber Joni.

Memang tak semudah membalikan telapak tangan berbisnis di Afrika. Senada dengan Joni, Anggota Komisi VI DPR Achmad Baidowi juga mengingatkan risiko yang diemban oleh Pelindo dalam menancapkan kukunya di Afrika.

"Perlu dipikirkan risiko bisnis dan investasinya seperti apa? Jangan sampai nanti merugi," kata Awiek akrab disapa kepada wartawan di Jakarta, Jumat (8/9).

Kendati demikian, Awiek optimis, pasca merger Pelindo, fondasi bisnis perusahaan operator pelabuhan pelat merah itu dapat lebih kokoh dalam mengembangkan sayapnya.

"Kami tentunya di Komisi VI DPR mendukung corporate action yang dilakukan oleh Pelindo dalam ekspansi pasar ke luar negeri ini," tandas Legislator asal PPP tersebut.

Secara terpisah, Direktur National Maritime Institute (Namarin) Siswanto Rusdi juga mengingatkan adanya beban investasi yang berat di lima tahun pertama. Hal tersebut ditengarai karena masalah stabilitas politik di negara-negara Afrika yang tidak menentu.

"Kita lihat sekarang banyak negara-negara Afrika bergejolak. Instabilitas politik itu pasti akan mempengaruhi stabilitas ekonomi beberapa tahun ke depan. Ini pasti akan menyulitkan Pelindo," ujar Siswanto saat berbincang dengan media di Jakarta, Selasa (12/9).

Pengamat maritim yang dikenal kritis ini tetap mendukung langkah Pelindo dalam mengepakkan sayapnya ke Afrika. Dia mencontohkan perusahaan operator pelabuhan besar di dunia seperti Port of Singapore, yang sudah puluhan tahun bermain di tataran global juga mengalami kendala yang sama di awal investasinya.

Ditambahkan Siswanto, go international Pelindo tidak mesti ke Afrika. Bisa juga ke negara maju, misalnya dengan cara membeli saham.

"Ya kalau Pelindo mau berinvestasi ke luar negeri, memang harus dari sekarang dimulai. Jangan hanya ke Afrika tapi juga ke negara-negara maju, bisa beli sahamnya. Jadi, jangan setengah-setengah, paling tidak tahun 2025 ini buat pijakan awal untuk kita melangkah menuju cita-cita negara maju di tahun 2045," pungkasnya.

Populer

Jumlah Personel TNI Tidak Masuk Akal

Sabtu, 30 Mei 2026 | 03:36

Penutupan Alfamart dan Indomaret Jangan Salahkan KDKMP

Kamis, 28 Mei 2026 | 06:00

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

UPDATE

Pramono Klaim 96 Persen Warga Ingin CFD Rasuna Said Berlanjut

Minggu, 07 Juni 2026 | 10:20

Garuda Institute Minta BGN Utamakan Kualitas daripada Kuantitas

Minggu, 07 Juni 2026 | 10:12

Balas Serangan AS, Iran Gempur Pangkalan Bahrain dan Kuwait

Minggu, 07 Juni 2026 | 09:58

Ditjenpas Benahi Overkapasitas dan Tingkatkan Keamanan Lapas

Minggu, 07 Juni 2026 | 09:54

Paus Leo XIV Sebut Perang AS-Iran Tidak Adil

Minggu, 07 Juni 2026 | 09:11

Bukan Sekadar Ganti Pejabat, Reshuffle Kabinet Harus Pulihkan Ekonomi

Minggu, 07 Juni 2026 | 09:00

Bupati Pati Sudewo Ditahan di Rutan Semarang Jelang Sidang Dua Perkara

Minggu, 07 Juni 2026 | 08:56

Suhud Alynudin Akan Dilantik Jadi Ketua DPRD DKI Senin Besok

Minggu, 07 Juni 2026 | 08:27

Koperasi Didorong Masuk Ekosistem Industri Gula

Minggu, 07 Juni 2026 | 08:02

Gus Salam Serap Aspirasi Nahdliyin Sulsel Jelang Muktamar NU

Minggu, 07 Juni 2026 | 07:52

Selengkapnya