Berita

Ilustrasi/Net

Dunia

Pakar: Selama AS dan NATO Tidak Turun Langsung ke Medan Perang, Sulit Bagi Ukraina Kalahkan Rusia

SABTU, 09 SEPTEMBER 2023 | 10:11 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Amerika Serikat terus menunjukkan dukungannya kepada Ukraina. Terbaru,  Departemen Pertahanan AS mengumumkan paket bantuan keamanan senilai hingga 175 juta dolar AS untuk Kyiv termasuk amunisi uranium yang telah habis untuk tank Abrams.

Menurut Pentagon, bantuan militer yang diumumkan Rabu (6/9) juga akan mencakup sistem anti-lapis baja, sistem navigasi udara taktis, dan amunisi tambahan untuk Sistem Roket Artileri Mobilitas Tinggi.

Bantuan tersebut mendapat tanggapan dari Song Zhongping, pakar militer China.


Soal bantuan amunisi uranium, Ia mengatakan, meskipun itu tidak dianggap sebagai senjata pemusnah massal, namun amunisi tersebut mampu menyebabkan kerugian besar, terutama bagi manusia dan lingkungan.

"Alasan mengapa tidak ada pembatasan amunisi uranium yang sudah habis dalam perjanjian internasional adalah karena negara-negara hegemonik yang dipimpin AS tidak mengizinkan pembuatan perjanjian yang secara khusus menargetkan amunisi uranium yang sudah habis. Namun, komunitas internasional secara umum percaya bahwa senjata tersebut harus dilarang," kata Song, seperti dikutip dari Global Times, Jumat (7/9).

Militer AS menggunakan amunisi depleted uranium dan depleted uranium-enhanced armor selama Perang Teluk pada tahun 1991 melawan Irak, serta dalam invasi ke Irak pada tahun 2003, dan di Serbia dan di Kosovo.

Menurut laporan media, pasukan AS menduga beberapa penyakit mereka saat ini mungkin disebabkan oleh menghirup atau terkena puing-puing amunisi yang ditembakkan atau serangan tank, sehingga merusak lapisan baja yang diperkuat uranium.

Ini akan menjadi pengiriman amunisi penusuk lapis baja kontroversial pertama AS ke Kyiv, setelah Inggris mengirim amunisi uranium ke Ukraina sebelumnya, seperti yang dilaporkan oleh media.

Para ahli menilai, amunisi uranium yang disediakan oleh Inggris dilaporkan akan segera habis masa berlakunya dan akan lebih baik jika digunakan di medan perang Rusia-Ukraina daripada menghancurkannya.

Sejak konflik antara Rusia dan Ukraina pada Februari lalu, pemerintah AS telah memberikan lebih dari 43 miliar dolar AS peralatan ke Ukraina, termasuk persenjataan, pelatihan dan bantuan militer dan penegakan hukum lainnya.

Namun, Song mencatat bahwa tidak peduli berapa banyak bantuan yang diberikan AS atau Barat (kepada Ukraina), semuanya akan sia-sia dan tidak akan membalikkan arah perang. Sebaliknya, hal ini akan menyebabkan kerusakan jangka panjang dan sangat besar terhadap kesehatan manusia dan lingkungan.

Song mengatakan, kesenjangan kekuatan militer antara Ukraina dan Rusia terlalu besar, dan sulit bagi Ukraina untuk bisa mengalahkan Rusia selama AS atau NATO tidak mau berpartisipasi dalam perang tersebut.

“Meskipun AS dan NATO terus memberikan bantuan, itu adalah dukungan tidak langsung dan bukan tindakan langsung. Akibatnya, ada batasan peningkatan kapasitas yang dapat diberikan kepada pihak Ukraina,” ujarnya.

Meskipun telah menerima sejumlah besar senjata dan peralatan, kekurangan personel merupakan masalah yang paling menyusahkan bagi Ukraina.

Oleh karena itu, para ahli menilai, sulit bagi negara-negara Barat untuk memenuhi kepentingan mereka dalam perang proksi, di mana mereka memberikan dana dan bantuan militer sambil mengharapkan Ukraina sendiri yang menyediakan personel.

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

UPDATE

Minyak Dunia Tembus 100 Dolar AS, Purbaya Belum Tambah Subsidi Energi

Sabtu, 12 September 2026 | 02:25

One Asia Golf Cup 2026 Diikuti 144 Pengusaha dari 11 Negara

Sabtu, 12 September 2026 | 02:14

Relawan Prabowo-Gibran Tak cuma Hadir saat Pemilu

Sabtu, 12 September 2026 | 01:30

Ferry Boboho Balikin Duit Rp5 Miliar, Diduga terkait Pemerasan Febrie

Sabtu, 12 September 2026 | 01:10

Maruli Janji Dongkrak Peringkat Atlet Judo Indonesia

Sabtu, 12 September 2026 | 01:01

ERP Solusi Pengendalian Kemacetan Jakarta

Sabtu, 12 September 2026 | 00:34

Simak Rekayasa Lalin Persija-Persib di GBK

Sabtu, 12 September 2026 | 00:18

Jarnas Konsisten Kawal Program Pro Rakyat Prabowo-Gibran

Sabtu, 12 September 2026 | 00:00

Haji Dimulai dari Kalkulator

Jumat, 11 September 2026 | 23:35

Baznas Kembali Raih Indonesia Most Reputable Companies Award 2026

Jumat, 11 September 2026 | 23:20

Selengkapnya