Berita

Pemakaman wartawan senior Kalimantan Tengah, Sutransyah/Ist

Publika

Selamat Jalan Sutransyah, Wartawan Senior Kalteng yang Pergi ke "Rumah Bawah"

JUMAT, 08 SEPTEMBER 2023 | 14:10 WIB | OLEH: ILHAM BINTANG

SAYA tiba di Melbourne, Australia, Kamis (7/9) pagi sekali. Pesawat berbadan lebar Airbus A300 milik Garuda, GA 716 yang saya tumpangi terbang pukul 9 malam dari Jakarta mendarat tepat waktu di Ibukota Victoria, Australia.

Saya sudah berjanji setibanya, saya akan menulis pertama tentang Sutransyah, wartawan senior Kalimantan Tengah yang wafat Rabu malam itu.
 
Ketua Dewan Kehormatan Provinsi PWI Kalteng tersebut meninggal dunia di RS PKU Muhammadiyah Rabu (6/9) malam pukul 19.44. Saya membaca kabar duka itu sekitar pukul 8 malam di WhatsApp Group Dewan Kehormatan Provinsi PWI se-Indonesia.


Di saat menunggu boarding di lounge Garuda, Bandara Soekarno Hatta. Sutransyah meninggal dunia saat dalam penanganan tim medis di RS Muhammadiyah.

Seusai menunaikan Shalat Maghrib di rumah hari itu, Sutransyah mendadak drop. Pingsan. Ia pun segera dilarikan ke RS, tapi hanya sekitar setengah jam kemudian, jiwa wartawan senior itu tak tertolong.

"Cepat sekali prosesnya. Saya menungguinya melihat dia sangat tenang hanya seperti tertidur saat mengembuskan napas terakhir," cerita Masriah, istrinya, yang saya hubungi pertelepon dari Melbourne, Jumat (8/9) siang setelah Shalat Jumat di sini.
 
Sutransyah meninggal dunia dalam usia 58 tahun (kelahiran Pelaihari, Kalimantan Selatan 15 Juli 1965).

Meninggalkan seorang istri, Masriah, dan tiga anak, Muhammad Raj Ulhaq (23) Muhammad Zaki Hidayat (19) dan Muhammad Hakim (12).

Sutransyah memang memiliki riwayat penyakit diabetes. Diduga komplikasi dengan ginjal juga. Sutransyah sudah beberapa kali mendapat serangan mendadak pingsan karena kadar gulanya naik.

Terbaru, seminggu lalu, sebelum wafat. Ia mendadak drop. Langsung dibawa ke RS untuk mendapat pertolongan. RS waktu itu membolehkan rawat jalan tapi harus kontrol dokter setiap dua hari.

Mau Pergi ke Bawah

Menurut cerita Ulhaq, panggilan akrab Masriah, Sutransyah seperti sudah punya firasat akan meninggal dunia. Dia sering menasihati ketiga anaknya untuk rajin belajar dan harus kompak bersaudara. Yang agak spesifik beberapa kali terlontar dia mengatakan mau pergi ke rumah bawah.

"Padahal, kami tidak punya rumah di bawah. Istilah rumah di bawah dulu untuk rumah orangtuanya yang sudah lama wafat," ungkap Ulhaq.

Kamis (7/9) siang jenazah Sutransyah dimakamkan di pemakaman Muhammadiyah Jalan Sabaru Kereng Bangkirai setelah Shalat Zuhur, Kamis (7/9).

Sebelum pemakaman, almarhum sempat disemayamkan sejenak di Masjid Muhammadiyah dan Kantor PWI Kalteng. "Alhamdulillah banyak kawan, sahabat, dan relasi yang mengantar almarhum ke tempat peristirahatannya yang terakhir," kata Ulhaq.

Tiga Periode Ketua PWI

Meski jarang bertemu tetapi saya mengenal baik sosok wartawan yang bertubuh kecil, tapi padat dan cekatan. Dia memulai kariernya dari bawah. Pernah menjadi Kepala Biro Surat Kabar Banjarmasin Post di Kalimantan Tengah. Terakhir ia juga Ketua Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) di Kalteng.

Saya tidak ingat persis kapan terakhir kali bertemu fisik dengan Sutransyah. Selama pandemi kami sempat beberapa kali berinteraksi via Link Zoom dalam Rapat Dewan Kehormatan PWI se-Indonesia. Yang saya ingat lima tahun lalu, 9 Juli 2018, Sutransyah menyelenggarakan acara Pelatihan Ahli Pers di Palangka Raya.

Dia mengundang saya dan rekan Wina Armada, serta Sasongko Tedjo untuk berbicara di depan puluhan wartawan dari seluruh Indonesia. Setelah acara itu, saya diajak berbicara di TVRI membahas topik kemerdekaan pers.

Selama dua malam di Palangka Raya, Sutransyah terus mengawal dan mendampingi kami. Sutransyah punya banyak cadangan cerita lucu yang membuat suasana selalu meriah bersama dia. Termasuk saat kami dijamu makan durian hasil tanaman hutan Kalteng oleh Kepala Perwakilan Bank Indonesia, Wuryanto, di rumahnya.

Tiada lagi Sutransyah. Ia masih memangku jabatan Ketua Dewan Kehormatan PWI Kalteng ketika dipanggil menghadap oleh Allah SWT. Dengan posisi itu, sekurangnya Sutransyah sudah 25 tahun bergabung di dalam struktur kepengurusan PWI Kalteng.

Sebelumnya, ia pernah memangku jabatan Ketua PWI Kalteng tiga periode. Tiga periode?

Jabatan tiga periode di PWI, tahun lalu sempat ramai menjadi perbincangan. Amanah Peraturan Dasar PWI, hanya membolehkan dua periode berturut-turut untuk memangku satu jabatan di kepengurusan organisasi wartawan tertua di Indonesia itu.

Saya juga baru tahu belakangan setelah Basril Basyar, mau menggunakan "jalan" Sutransyah sebagai preseden. Padahal itu sebenarnya sebuah "kecelakaan".

Sutransyah tidak bersalah. Kami Pengurus PWI Pusat yang bersalah, termasuk saya yang lalai menjaga amanah PD PRT PWI. Saya sempat mengonfirmasi itu kepada Sutransyah secara langsung dalam komunikasi Zoom.

Sutransyah sportif mengakui. Dia malah seperti bangga karena di sisi lain menjadi gambaran bagaimana tingkat kedekatan dia dengan semua anggota yang mendukungnya.

Berbeda dengan Basril Basyar yang masalahnya tidak hanya melanggar urusan tiga kali menjadi Ketua PWI Sumatera Barat. Basril juga terkendala soal statusnya sebagai PNS. Analogi yang saya gunakan untuk case Sutransyah, dia seperti pengendara kendaraan bermotor yang melenggang menerobos rambu "verboden" yang saat itu lepas dari pengawasan polisi.

Itu preseden yang tidak boleh berlanjut. Sedangkan Basril Basyar dengan sengaja mau menerobos rambu "verboden" yang sudah dijaga oleh "polisi" dengan menggunakan preseden Sutransyah. Padahal, PWI sudah sejak reformasi konsisten memberlakukan aturan Pengurus PWI hanya boleh dua kali memangku jabatan sama.

Peraturan itu dijaga ketat, sehingga tokoh wartawan seperti Tarman Azzam dan Margiono, Ketum PWI dua periode setelah reformasi tidak bisa melanjutkan jabatan periode ketiga meskipun sangat berprestasi.
 
Selamat jalan Bung Sutransyah. Innalillahi wainnailaihi rojiun. Semoga almarhum husnul khatimah. Mendapatkan tempat yang lapang, nyaman, dan indah di sisi Allah SWT.

Penulis adalah Wartawan Senior

Populer

Rumah Bersejarah di Menteng Berubah Wujud

Sabtu, 07 Maret 2026 | 22:49

Pengacara Terkenal yang Menyita Perhatian Publik

Minggu, 08 Maret 2026 | 11:44

KPK Dikabarkan Gelar OTT di Cilacap Jawa Tengah

Jumat, 13 Maret 2026 | 14:54

Anggaran Pendidikan Diperebutkan, Sistemnya Tak Pernah Dibereskan

Sabtu, 14 Maret 2026 | 07:48

Siapa Berbohong, Fadia Arafiq atau Ahmad Luthfi?

Sabtu, 07 Maret 2026 | 06:42

Bangsa Tak Akan Maju Tanpa Makzulkan Gibran dan Adili Jokowi

Senin, 09 Maret 2026 | 00:13

Prabowo Berpeluang Digeruduk Demo Besar Usai Lebaran

Rabu, 11 Maret 2026 | 06:46

UPDATE

Posko Kesehatan PLBN Skouw Beroperasi Selama Arus Mudik

Selasa, 17 Maret 2026 | 18:03

10 Lokasi Terbaik Nonton Pawai Ogoh-Ogoh Nyepi 2026 di Bali, Catat Tempatnya

Selasa, 17 Maret 2026 | 17:50

Kapolri: 411 Jembatan Dibangun di Indonesia, Polda Riau Paling Banyak

Selasa, 17 Maret 2026 | 17:47

Gibran Salat Id dan Halal Bihalal di Jakarta Bersama Prabowo

Selasa, 17 Maret 2026 | 17:30

Bonus Atlet ASEAN Para Games Cair, Medali Emas Tembus Rp1 Miliar

Selasa, 17 Maret 2026 | 17:05

Gibran Pantau Arus Mudik dari Command Center Jasa Marga

Selasa, 17 Maret 2026 | 16:47

Pengusaha Kapal Minta SKB Lebih Fleksibel Atur Arus Mudik

Selasa, 17 Maret 2026 | 16:38

Pengiriman Pasukan RI ke Gaza Ditunda Imbas Perang Iran

Selasa, 17 Maret 2026 | 16:25

Bias Layar: Serangan Aktivis KontraS Ancaman Demokrasi dan HAM

Selasa, 17 Maret 2026 | 16:10

Istana Sebar Surat Edaran, Larang Menteri Open House Lebaran Mewah

Selasa, 17 Maret 2026 | 16:06

Selengkapnya