Berita

Mantan Perdana Menteri Thailand, Thaksin Shinawatra/Net

Publika

Hanya Napas yang Tidak Bisa Dibeli di Sini

Pelajaran Berharga dari Kasus Thaksin Shinawatra
SELASA, 29 AGUSTUS 2023 | 11:28 WIB | OLEH: ILHAM BINTANG

MASIH ingat Thaksin Shinawatra? Thaksin adalah mantan Perdana Menteri Thailand (2001-2006) yang di masanya menjadi episentrum politik di negeri Gajah Putih itu.
 
Menurut BBC, Thaksin PM pertama dan hingga kini satu-satunya dalam sejarah Thailand yang memimpin pemerintahan terpilih dengan masa jabatan penuh.

Tetapi dia juga satu-satunya PM Thailand pertama dan satu-satunya yang 17 tahun terpaksa harus hidup di luar negeri setelah menghadapi kudeta militer di bulan September 2006.
 

 
Thaksin adalah politisi yang merangkak dari bawah sukses mencapai puncak karier berkat pencitraan. Ia selalu digambarkan dekat dengan rakyat miskin. Peduli terhadap kesulitan mereka, bantuan negara selalu dialirkan kepada kaum papa itu.

Namun legasi yang dia tinggalkan berbanding terbalik dengan pencitraan itu. Ia kini dianggap pemecah belah bangsa. Ia hiposentrum, sumber bencana politik di Thailand.
 
Rekam jejak penyimpangannya masih tersimpan kuat di benak rakyat Thailand. Tamak dan rakus mengorupsi kekayaan negara selama berkuasa. Itulah yang menjelaskan mengapa dia dihukum in absentia dalam banyak perkara selama dia dalam pengasingan.
 
Minggu lalu, Selasa (22/8) Thaksin kembali ke Thailand dari pengasingannya. Saya beruntung tiba di Bangkok Selasa (22/8) siang, persis di hari Thaksin pulang.

Di hari yang sama pula taipan real estate Thailand, Srettha Thavisin, terpilih menjadi PM Thailand baru. Srettha adalah PM kesepuluh Thailand. Tapi berita terpilihnya Srettha kalah viral dibandingkan dengan berita kepulangan Thaksin.

Thaksin punya kontribusi besar dalam kekacauan politik yang panjang di tanah airnya. Bayangkan dalam rentang "hanya" 17 tahun Thailand sampai bergonta ganti PM hingga sepuluh kali.

Masih Cawe-cawe

Sejak jatuh dan selama pengasingan Thaksin masih cawe-cawe dalam percaturan elite politik Thailand. Thaksin tetap dengan skenario busuknya yang lama dan "baku" hendak melanggengkan kekuasaan lewat kroni-kroninya di partai politik.

Seakan sebelum dan selama menjadi PM Thaksin sudah mengatur kekuasaan akan dipergilirkan dengan para loyalisnya. Tujuannya, salah satunya tentu untuk mengamankan diri dan keluarganya --yang telah berlumur kasus korupsi --dari jerat hukum.
 
Thaksin mengatur saudara perempuannya menduduki kursi PM, dan kelak giliran berikutnya dia merencanakan putra bungsunya di kursi kekuasaan sebagai PM.

Beruntung junta militer tak kehilangan kewaspadaan. Ia menyimpan rekam jejak Thaksin.

Pada tahun 2008, Thai Rak Thai, partai Thaksin dibubarkan oleh pengadilan dan pada tahun itu juga dua perdana menterinya didiskualifikasi.

Petualangan Partai Rak Thai dilanjutkan oleh Partai Pheu Thai. Yingluck, saudara perempuan Thaksin, berhasil menang telak pada Pemilu 2011, namun dia didiskualifikasi oleh pengadilan, dan pemerintahannya digulingkan melalui kudeta kedua. Yingluck kini juga tinggal di pengasingan.

Thaksin punya banyak perkara korupsi yang sudah inkracht di negerinya. Maka, di hari kepulangannya, ia pun langsung dieksekusi ke penjara untuk jalani hukuman. Tapi cuma sehari. Besoknya, netizen di Thailand geger di medsos.

Dengan alasan sakit, Thaksin dipindah ke RS dan menempati ruang perawatan Super VVIP di lantai paling atas RS.

Netizen membayangkan dari atas situ Thaksin bisa melepas kerinduan melihat suasana kota Bangkok. "Hanya napas yang tidak bisa dibeli di Thailand," umpat netizen.

Thaksin adalah drama tentang kekuasaan yang tidak dijalankan sesuai kompetensi dan amanah. Semuanya tertipu oleh pencitraan yang dibuat konsultan politik dan lembaga survei, yang berujung pada amburadulnya tata kelola pemerintahan di Thailand.

Bagaimana dengan kita?

Penulis adalah Wartawan Senior

Populer

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

Usai Dimaafkan Jusuf Hamka, KAKI Dorong Polri Buka Kembali Kasus NCD Unibank

Sabtu, 05 September 2026 | 19:53

UPDATE

Bahlil Ungkap Defisit Minyak RI Hampir 1 Juta Barel per Hari

Selasa, 15 September 2026 | 10:24

Pemerintah Terus Perbaiki DTSEN agar Bansos Tepat Sasaran

Selasa, 15 September 2026 | 10:15

Jelang Sertijab Menteri Keuangan, Rupiah Melemah ke Rp17.674 per Dolar AS

Selasa, 15 September 2026 | 10:10

Pitra Romadoni Pilih Restoratif Justice soal Kasus ITE di Polres Bogor

Selasa, 15 September 2026 | 10:05

Bahlil Buka Suara soal Antrean BBM Subsidi di Makassar

Selasa, 15 September 2026 | 10:05

KPK Benarkan Presiden Direktur Summarecon Agung Turut Terjaring OTT

Selasa, 15 September 2026 | 10:02

IBC Mulai Produksi Baterai di Karawang, Kapasitas Awal 6,9 GWh

Selasa, 15 September 2026 | 09:57

Ruang Akademik Menuju Ekosistem Hak Asasi Manusia

Selasa, 15 September 2026 | 09:48

Turun Dua Hari Beruntun, Emas Antam Ambruk ke Rp2,5 Juta per Gram

Selasa, 15 September 2026 | 09:44

KPK Dikabarkan Tetapkan Tangan Kanan Nusron Wahid Hingga Pihak Summarecon Usai OTT

Selasa, 15 September 2026 | 09:40

Selengkapnya