Berita

Tentara Nasional Indonesia (TNI)/Net

Publika

Angkatan Siber dan Perspektif 1984 Orwellian

SENIN, 28 AGUSTUS 2023 | 18:57 WIB | OLEH: YUDHI HERTANTO

KEDAULATAN digital! Hal tersebut menjadi sebuah pernyataan atas situasi kerentanan digital, ketika interkoneksi masyarakat yang semakin intensif berjejaring, akibat dampak kehadiran teknologi dalam kehidupan manusia. Gagasan tentang pembentukan angkatan siber mencuat, perlu pendalaman.

Sesungguhnya interaksi manusia dan kehidupan digital, semakin lama mengaburkan batas realitas. Ketercampuran online dan offline menjadi sebuah adaptasi baru. Bahkan siklus hidup berubah, menjadi relasi yang bergantung. Kemajuan teknologi mengubah perilaku individu maupun sosial.

Demikian pula batas wilayah negara, seolah menjadi tidak relevan. Dalam konteks teritori, teknologi merentang melawati sekat-sekat itu, bahkan kapan saja dan dimana saja, semua lokasi di penjuru dunia dapat diakses selama terdapat koneksi internet. Dunia sudah berubah sangat signifikan.


Dengan situasi tersebut, maka apa yang ada di dunia nyata kemudian bertransformasi ke ruang maya. Tidak hanya dampak baik dari keberadaan internet, tetapi juga potensi buruk yang datang bersama dengannya.

Kita tidak hendak membangun glorifikasi utopian akan keunggulan berlebihan modernitas dunia, meski kita juga menolak perspektif dystopian yang selalu pesimistik.

Cara pandang yang dapat dibangun adalah technorealism, di mana ada dua wajah dari keping mata uang yang sama yakni “internet”, dan untuk itu kita akan berupaya menangkal hal buruk, serta secara bersamaan mendorong perluasan hal baik.

Identifikasi keburukan internet adalah ekspresi yang sama dari realitas patologi sosial keseharian kita; penipuan, perjudian, kejahatan seksual, perundungan hingga kriminalitas.

Hanya saja perbedaannya terletak pada medium ruang digital. Termasuk bila merujuk tantangan kehidupan bernegara semisal hacking serta pencurian data penting dalam klasifikasi kerahasiaan negara secara terorganisir.

Ide mengenai angkatan siber, layak untuk didiskusikan. Perlu berbagai sudut pandang yang berbeda dalam melihat persoalan ini secara utuh. Termasuk didalamnya, upaya untuk memastikan agar keberadaan angkatan siber ini, sebagaimana matra angkatan lain yang bertindak sebagai alat negara, tidak berujung pada pengawasan selektif kepada warga negara, dengan kepentingan kekuasaan.

Dalam kajian Gramsci, seluruh kekuatan negara dapat terbagi menjadi aparatus represif maupun ideologis, yang terletak di leher dan puncak piramida. Kedua aparatus tersebut, dipergunakan untuk melayani kepentingan struktur dasar, yakni penguasaan ekonomi, berdasarkan perspektif Marxian.

Pada keseluruhan piramida, penguasaan ekonomi menjadi penentu aras politik. Pada akhirnya, seluruh bagian dari kerangka piramida, akan didayaupayakan untuk mengukuhkan posisi kekuasaan.

Bila begitu, maka bukan tidak mungkin, keberadaan angkatan siber berbalik fungsi, dari idealisme upaya memastikan ketahanan serta kedaulatan digital, menjadi upaya membangun keseragaman berpikir.

Kita kerap mendengar, dan bahkan terngiang di telinga, beragam tindak kekuasaan dilakukan dengan tajuk menjaga persatuan, bahkan dalam terma mengamankan kepentingan pembangunan. Sesuatu yang tampaknya mungkin terjadi bila tidak ada kontrol atas kendali tersebut.

Menjadi menarik petikan novel “1984” George Orwell yang diterbitkan pada 1949 untuk melengkapi keseluruhan diskusi ini. Dinyatakan dalam kehidupan yang totalitarian, upaya pengendalian pikiran dilakukan dengan teleskrin, dinaungi kementerian kebenaran -ministry of truth, bahwa tidak boleh ada yang berbeda, keseragaman pandang adalah tujuan akhir, tidak bisa ditolerir.

Semua hal yang berbeda adalah penyimpangan, mendapat penindakan dari polisi pikiran, perlu dilakukan indoktrinasi ulang. Propaganda masif dilakukan. mencetak kebenaran sesuai versi kekuasaan, tanpa perlawanan.

Pola kehidupan dibawah pengawasan ketat ini, sebagaimana disampaikan Foucault diilustrasikan sebagai desain panopticon, layaknya bangunan tinggi suar lampu di dalam landskap penjara pertengahan, yang memberikan efek sorot cahaya agar seisi penjara terawasi.

Sejenak kita perlu renungkan ulang tata kelola angkatan siber ini, bila pada akhirnya nanti direalisasikan. Bahwa terdapat etika dasar yang seharusnya tidak bisa dilanggar, yakni penghargaan terhadap kebebasan manusia dan kepentingan publik, bahwa “pelangi itu indah karena perbedaan warna”.

Termasuk memaknai kutipan “quis custodiet ipsos custodes?”, -lantas siapa yang akan mengawasi sang penjaga? yang merupakan refleksi filosofis penyair Romawi Juvenal. Tentu yang membatasinya adalah kedaulatan rakyat, karena tanpa hal tersebut kedaulatan digital bangsa akan sia-sia belaka.

Mahasiswa Program Doktoral Ilmu Komunikasi Universitas Sahid

Populer

KPK Bakal Dalami Data Intelijen soal Dugaan Suap ke Purbaya dan Anggota Komisi XI DPR

Kamis, 27 Agustus 2026 | 02:24

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

Dakwaan Lemah, Perkara Chromebook Murni Rekayasa

Kamis, 27 Agustus 2026 | 14:31

KPK Sita Rumah Mewah Milik Vinna Ledy Anggraheni di Jaksel

Selasa, 01 September 2026 | 11:03

Tidak Benar Menag Nasaruddin Umar Mundur

Rabu, 26 Agustus 2026 | 18:06

UPDATE

PR Gus Kikin: Pembenahan Sektor Pendidikan, Kesehatan, dan Ekonomi

Sabtu, 05 September 2026 | 00:27

Tiga Ayat NU

Sabtu, 05 September 2026 | 00:11

Kapasitas PSEL Dinilai Belum Cukup Imbas Penutupan 343 TPA

Jumat, 04 September 2026 | 23:56

Pendekar 08 Perluas Bantuan ke Sekolah Hingga Pengungsi Mandiri di NTT

Jumat, 04 September 2026 | 23:40

Garudayaksa FC Gandeng Zentara Sambut Super League

Jumat, 04 September 2026 | 23:28

Gerilya Diplomasi: Menjahit Kepentingan Nasional di Panggung Global

Jumat, 04 September 2026 | 23:20

SMK Go Global Jadi Strategi Siapkan Calon PMI Masuk Bursa Kerja Dunia

Jumat, 04 September 2026 | 23:01

Pemuda Nganggur adalah Hasil Salah Kebijakan

Jumat, 04 September 2026 | 22:40

AMPI Siap Gelar Rapimnas 8 September, Ini yang Dibahas

Jumat, 04 September 2026 | 21:40

wondr by BNI Jadi Official Banking Partner IdeaFest 2026

Jumat, 04 September 2026 | 21:25

Selengkapnya