Berita

Presien Joko Widodo/Ist

Politik

Food Estate Dikritik PDIP, Jokowi: Hati-hati Semua Negara Hadapi Krisis Pangan

JUMAT, 18 AGUSTUS 2023 | 16:42 WIB | LAPORAN: RAIZA ANDINI

Program food estate yang dikritik PDI Perjuangan, dijawab Presiden Joko Widodo usai menghadiri acara Hari Konstitusi ke-78 RI, Gedung Nusantara IV, Komplek Parlemen, Senayan, Jumat (18/8).

Jokowi menuturkan program food estate tersebut merupakan upaya pemerintah untuk membangun lumbung pangan dalam rangka mengantisipasi krisis pangan yang terjadi Indonesia.

“Hati-hati semua kawasan, semua negara, semua kawasan sekarang ini menghadapi yang namanya krisis pangan. Wheat, gandum, problem di semua negara. Yang makan gandum sekarang ini, masalah sekarang ini, problem. Harga juga naik drastis,” kata Jokowi.


Selain itu, adanya food estate ini diharapkan bisa memaksimalkan produksi beras di Indonesia, lantaran saat ini Indonesia kalah dengan beberapa negara di Asia soal produksi beras.

“Setelah India, stop gak ekspor lagi, semua yang makan beras semuanya ini masalah. Harga naik sehingga yang namanya lumbung pangan, food estate itu harus. Itu cadangan, baik cadangan strategis maupun nanti kalau melimpah betul,” bebernya.

Presiden dua periode itu menuturkan, ekspor beras dipersilahkannya untuk memenuhi  kebutuhan cadangan beras negara lain yang membutuhkan dan bisa diambil dari program food estate ini.

Namun, Jokowi mengakui bahwa pembangunan food estate ini tidak seperti yang diharapkan, sebab tidaklah mudah.

“Enggak apa-apa untuk ekspor, karena negara lain membutuhkan, sehingga dalam rangka kesana kalau supaya tahu membangun food estate, membangun lumbung pangan itu tidak semudah yang Bapak/Ibu bayangkan,” katanya.

“Tanaman pertama biasanya gagal, menanam kedua masih paling-paling bisa berhasil 25 persen. Ketiga, baru biasanya keenam ketujuh itu baru pada kondisi normal,” jelasnya.

Sejumlah daerah disampaikan Jokowi, mengalami gagal panen dalam program food estate tersebut, lantaran adanya sejumlah masalah yang terjadi.

“Jadi tidak semudah yang kita bayangkan. Kita bangun di Humbang Hasundutan, tiga kali itu baru bisa. Agak lebih baik. Belum baik. Agak lebih baik. Problem-problem di lapangan itu tidak seperti semudah yang kita bayangkan,” tegasnya.

“Jadi semuanya akan diperbaiki. Dan semuanya harus dievaluasi, dikoreksi, harus diulang. Kalau kita gak berani, baru gagal pertama sudah mundur, sampai kapanpun lupakan,” tutupnya.

Populer

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

UPDATE

Tak Hanya Mobil Listrik, Hybrid Juga Diusulkan Bebas Ganjil-Genap

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:31

Kabinet Watch Penting untuk Ruang Dialog Menteri dan Kelompok Kritis

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:25

Dumai Transshipment Hub: Ujian Geopolitik Maritim Indonesia

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:17

Laba Emiten Naik 15 Persen, Danantara Minta Investor Tak Terpaku Sentimen Pasar

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:16

Apple Siap Gelar Acara Pro and Tell Akhir Oktober 2026

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:09

12.000 Lowongan Kerja Dibuka di Jakarta untuk Semua Kalangan

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:08

BAZNAS dan Ruang Amal Indonesia Antarkan 47 Mustahik ke Dunia Kerja

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:06

KPK Bakal Secepatnya Kembali Panggil Nusron Wahid

Kamis, 22 Oktober 2026 | 11:48

Wacana Dumai Transshipment Hub Perlu Dukungan, Pelindo Harus Lebih Bertaring di Selat Malaka

Kamis, 22 Oktober 2026 | 11:47

Terancam Turun Kelas, Danantara Akui Sentimen MSCI Tak Bisa Dianggap Enteng

Kamis, 22 Oktober 2026 | 11:33

Selengkapnya