Berita

Jaya Suprana/Net

Jaya Suprana

Menelaah Makna Childfree

RABU, 09 AGUSTUS 2023 | 19:04 WIB | OLEH: JAYA SUPRANA

GENERASI milenial di Indonesia kreatif menciptakan berbagai terminologi baru semisal ilfil ngehit, fleksing, caper, baper, salfok, gemoy, mantul, nolep, aspen, et cetera. Ada pula “childfree” yang bisa dimaknakan sebagai merdeka-anak atau bebas-anak alias tidak punya anak.
 
Sebenarnya “childfree” bukan perilaku baru sebab sudah eksis sejak manusia mulai berhak memilih untuk punya atau tidak punya keturunan. Bahkan tidak punya keturunan bisa bukan berdasar pilihan karena secara alamiah memang ada manusia yang mandul, maka secara biologis memang tidak bisa punya keturunan.
 
Jika punya keturunan merupakan kewajiban kodrati, maka seharusnya tidak ada manusia yang mandul. Sementara di ranah agama ada lelaki dan perempuan yang secara sadar sengaja memilih untuk hidup secara selibat agar tidak punya keturunan demi mampu sepenuhnya mengabdikan diri fokus kepada agama.
 

 
Di dalam wiracarita Mahabharata, tokoh yang bersumpah untuk selibat demi tidak punya keturunan yang saling berebut kekuasaan adalah Bisma Dewabrata sehingga oleh para Dewata diberi limpahan anugerah kesaktian yang tidak dimiliki manusia biasa, yaitu bisa menentukan saat ajal diri sendiri.
 
Pada abad XX akibat pertambahan penduduk mulai menjadi masalah kehidupan di planet bumi, mulai muncul gerakan keluarga berencana, di mana umat manusia mulai sengaja membatasi kelahiran.
 
Ada yang menganut paham dua anak cukup seperti gerakan Keluarga Berencana Indonesia, namun ada pula yang menganut paham satu anak cukup seperti yang dicanangkan oleh pemerintah Republik Rakyat China.
 
Sementara pada belahan kedua abad XX masyarakat yang menganut paham kebebasan memilih cara hidup diri sendiri, termasuk dalam hal punya anak mulai memunculkan gerakan Childless by Choice yaitu tidak punya anak berdasar pilihan diri sendiri.
 
Childless by Choice termasuk upaya mengurangi pertambahan penduduk secara berlebihan yang dikhawatirkan akan merusak ekuilibrium ekosistem kehidupan di planet bumi. Pada hakikatnya memilih jumlah anak yang dimiliki merupakan hak asasi setiap insan manusia yang seyogianya tidak boleh diganggu gugat.
 
Kebetulan saya anak adoptif, berhubung ayah dan ibu adoptif, saya secara biologis tidak bisa memiliki keturunan. Saya sangat menghormati dan mencintai ayah dan ibu adoptif saya yang berkenan mengadopsi, merawat, dan mendidik saya selama hayat masih di kandung badan kedua orang tua adoptif saya yang mengasih sayangi saya meski saya bukan anak kandung kedua beliau.
 
Pada hakikatnya istilah “childfree” lebih ekspresif mengemukakan makna kebebasan ketimbang “childless by choice”. Setiap insan berhak asasi memilih berapa jumlah anak mulai dari nol sampai dengan dua puluh asal mampu mempertanggungjawabkan dampak ekonomisnya.
 
Selama keputusan masing-masing tidak merugikan orang lain, maka masalah punya anak dua atau satu atau tidak punya anak tidak perlu dipermasalahkan. Sebab pada hakikatnya punya anak atau tidak punya anak sama-sama merupakan hak asasi setiap insan manusia selaras dengan makna luhur Bhinneka Tunggal Ika.
 
Kitab Suci agama Nasrani berkisah Jesus Kristus tidak menikah, maka tidak punya anak. Sementara para tokoh ulama Katolik termasuk Kardinal, Uskup, dan Sri Paus juga hidup selibat maka juga “childfree”.
 
Peradaban umat manusia yang adil dan beradab adalah mereka yang memilih hidup tanpa punya anak, namun tidak memaksakan pilihan hidup mereka yang memilih hidup dengan punya anak. Maupun sebaliknya.
 
Harkat dan martabat manusia yang punya anak pada hakikatnya setara harkat dan martabat manusia yang tidak punya anak, baik berdasar pilihan maupun kodrat biologis. Harkat dan martabat insan manusia yang tidak punya anak tidak lebih rendah ketimbang insan manusia yang punya anak selusin.
 
Sebaliknya harkat-martabat insan manusia yang “childless” juga tidak lebih tinggi ketimbang yang punya anak. Harkat dan martabat setiap insan manusia memang lebih ditentukan bukan oleh kuantitas anaknya, namun kualitas budi pekerti diri sendiri masing-masing.

Populer

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

Tiket Jakarta Fair Tidak Ramah Kantong Rakyat Berpenghasilan Rendah

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:21

UPDATE

Kampus Demokrasi Obama

Selasa, 23 Juni 2026 | 05:54

Presiden Prabowo Kemudikan Kapal Indonesia Menuju Ekonomi Pancasila

Selasa, 23 Juni 2026 | 05:36

Merekonstruksi Ulang Konsolidasi Kebangsaan

Selasa, 23 Juni 2026 | 05:18

Keberadaan DSI Perlu Dievaluasi Ulang dalam Tata Niaga Sawit

Selasa, 23 Juni 2026 | 04:59

Usaha Jufriyah Terus Keruk Cuan Bersama BRI

Selasa, 23 Juni 2026 | 04:34

Perdamaian AS-Iran Tanpa Israel

Selasa, 23 Juni 2026 | 04:16

Turnamen Tenis Meja Masduki Cup 2026 Mengukir Asa Menuju Pentas Dunia

Selasa, 23 Juni 2026 | 03:55

BRI Consumer Expo 2026 Makassar Hadirkan Berbagai Solusi Finansial

Selasa, 23 Juni 2026 | 03:35

Koperasi Menjaga Keseimbangan

Selasa, 23 Juni 2026 | 03:15

Gaya Hidup Sehat dan Kebersamaan Harus jadi Kebutuhan

Selasa, 23 Juni 2026 | 02:55

Selengkapnya