Berita

Anies Baswedan/Ist

Publika

Anies Bermunajat

OLEH: AGUS WAHID
KAMIS, 20 JULI 2023 | 21:41 WIB

BARU kali ini. Sepertinya begitu. Publik bisa buka jejak digitalnya. Itulah Anies yang berdoa di hadapan umat manusia yang tak kurang dari angka 150 ribuan orang di Stadion Gelora Bung Karno (GBK) itu pada Minggu, 16 Juli kemarin, saat Apel Siaga Perubahan Nasdem.

Sebuah munajat yang mengagetkan sekaligus mengundang tanya jutaan masyarakat dalam dan luar negeri, anak bangsa RI atau bahkan masyarakat asing di Tanah Air ini dan mancanegara.

Apa yang mendorongnya bermunajat itu. Tidak seperti biasanya Anies begitu. Inilah yang layak kita analisis lebih jauh. Pertama dan utama, Anies seorang cendekiawan yang tak pernah henti berpikir saat menyaksikan panorama negeri kita yang sangat memprihatinkan.


Fakta bicara, negeri kita sedang tidak baik-baik saja dalam berbagai sektor. Rakyat secara luas menjadi korban perilaku kekuasaan ketidakadilan secara ekonomi, hukum, bahkan sosial-politik. Boleh dikata, gunung es sedang bersiap-siap melumer dahsyat. Maka, di hadapan kita terbayang tsunami politik yang siap menenggelamkan kepulauan Nusantara ini.

Kedua, fenomena itu menggerakkan keterpanggilan untuk penyelamatan. Sangat urgen. Tapi, upaya penyelamatan itu tampak telah “dikunci” secara terstruktur, ekstensif, dari terpuncak hingga terbawah. Seluruh pintu itu seolah menegasikan harapan untuk melakukan perubahan-perbaikan. Maka, bayang-bayang negeri ini semakin gulita. Apakah, akan segera tenggelam karena tercengkeram oleh sosok pemimpin yang tak jauh beda prototipenya dengan rezim saat ini?

Itulah – sebagai hal ketiga – yang mendorong Anies menengadahkan kedua tangannya, mengajak seluruh hadirin Apel Siaga Perubahan Nasdem untuk mengaminkannya. Yaitu sebuah doa yang memohon kepada Gusti Allah Yang Maha Kuasa untuk memberikan rahmat atau berkah kepada para pemimpin negeri ini, dari yang tertinggi hingga yang terbawah stratanya.

Sebuah doa yang mengharapkan perubahan sikap para pemimpin itu melindungi seluruh rakyatnya dari hal-hal yang tak diinginkan. Sebuah permohonan yang sungguh arif dan sarat dengan dimensi kemanusiaan dan nasionalisme.

Namun, sebagai karakter manusia yang dhaif, Anies pun melihat, hidayah itu milik Allah SWT semata. Tak ada satupun yang bisa mengubah kehendak-Nya, kecuali Allah SWT memang menghendakinya. Karena itu, Anies pun memandang secara objektif bahwa seluruh saluran yang telah “terkunci” itu menggambarkan kedigdayaan raksasa yang memang antiperubahan. Ada kesan kuat, tak mungkin bisa menggerakkan perubahan yang dicita-citakan itu.

Di sanalah, Anies – sebagai hal keempat – melihat dan meyakini: ada Allah SWT yang jauh lebih digdaya.

Skenario manusia secanggih atau sehebat apapun, terlalu kecil dibandingkan skenario Allah SWT. Jika Allah SWT “turun tangan”, maka porak-poranda skenario jahat manusia itu. Maka, terlihat dan terdengarlah desis suara yang keluar dari mulut seorang Anies: memohon kekuatan, perlindungan dan pertolongan. Allah SWT-lah pemberi kekuatan yang superdigdaya, sehingga seorang Thalut mampu kalahkan Jalut, sang raja raksasa.

Juga, karena pertolongan Allah SWT, Ibrahim AS selamat dari amukan api besar yang membakarnya, padahal – secara logika – fenomena Thalut dan Ibrahim – kondisinya tidak memungkinkan menang dari cengkeraman penguasa atau sistem thaghut kala itu. Sejarah telah membuktikan, keyakinan yang disertai ketaqwaannya kepada Yang Maha Kuasa akan membawa hasil sesuai cita-cita, meski demikian berat dan penuh perjuangan dan pengorbanan.

Menelisik doa Anies di hadapan ribuan massa itu bagai deklarasi secara terbuka sekaligus melaporkan kepada Gusti Allah yang Maha Suci, tentang nasib bangsa dan negeri ini yang harus diselamatkan segera. Untuk misi dan hak-hak kemerdekaan sejati umat manusia di Tanah Air ini.

Sebuah renungan, mengapa baru kali ini Anies bermunajat di hadapan basis massa yang lebih dari angka 150-an ribu, padahal jauh sebelumnya sudah sering berhadapan dengan massa ratusan ribu juga?

Seperti kita ketahui, baru beberapa hari lalu Anies Baswedan, istri dan anak-anaknya baru selesai menunaikan ibadah haji. Dengan keyakinan, ibadah hajinya mabrur, maka – seperti yang terurai di berbagai macam hadits – ia bagai kain putih, suci, karena telah terlebur dosa-dosanya.

Dan selama 40 hari seusai ibadahnya, doa yang suci dari debu-debu dosanya itu maqbul (diijabah), apalagi diamini oleh puluhan ribu bahkan ratusan ribu orang yang berada di arena GBK, dan – boleh jadi puluhan juta orang yang menyaksikan tayangan langsung saat Anies berdoa yang penuh damai, ajakan yang sangat arif dan doa untuk perbaikan nasib bangsa dan negeri ini.

Pengaminan ratusan bahkan jutaan orang itu mengkuantitaskan berapa miliar total munajat itu. Totalitas kuantitatif itulah yang mengoptimalkan hasil: terkabul doanya, apalagi dalam “lautan” manusia yang mengamini doa Anies itu terdapat jutaan orang yang ternistakan secara sosial-ekonomi, terzalimi secara hukum dan politik yang demikian tendensius. Penderitaan mereka ternista dan terzalimi itu tentu didengar oleh Allah yang Maha Adil itu. Menambah kualitas pengabulan doa yang diamini itu.

Mencermati responsi massa yang mengamini doa Anies, menimbulkan satu decak kagum: Subhanallah. Doa yang penuh makna itu mencerminkan calon pemimpin yang memahami realitas kondisi objektif. Tahu persis kapan dan bagaimana mengadu kepada “Yang Maha Tepat” atas bergunung persoalan beratnya.

Tahu persis pula way out bagi sosok yang beriman dan mengimplementasikan nilai-nilai yang diajarkan. Berat dan tak mungkin bagi ukuran manusia. Tapi, lain bagi Allah SWT. Karena itu mendasarkan kepada Allah SWT memang the one way.

Cara pandang itu tidak berarti kita harus “memperbudak” Allah SWT. Berdoa atau bermunajat tanpa berjuang. Para pendamba terwujudnya cita-cita keadilan, kesejahteraan yang berkemajuan dan nilai-nilai konstruktif lainnya, tetaplah memperkuat barisan dalam langkah yang terukur: untuk berjuang tanpa henti.

Maka, menjadi relevenlah ketika lagu wajib berkumandang: Maju Tak Gentar… “Majulah, majulah menang…” Majulah, majulah menaaang”… Satu lirik lagu, yang bukan hanya membangkitkan gelora berjuang, tapi berjuang itu menjadi serangkaian kata kunci penguat doa.

Sekali lagi, lagu wajib perjuangan itu menjadi energi positif, spirit bagi seluruh elemen bangsa ini untuk menggolkan capres idaman bangsa negeri ini: Anies Baswedan. Right now, not later. Untuk kepentingan anak bangsa saat ini, anak-anak kita, cucu-cucu dan buyut-buyut kita sebagai generasi pewaris sah negeri ini. Inilah nur legacy yang harus dipersembahkan, bukan gulita dan nestapa. Sebuah legacy yang bermartabat, penuh rasa pertanggungjawaban dan kemanusiaan. 

Penulis adalah Analis dari Center for Public Policy Studies – Indonesia

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

Mahfud MD: Mas Pandji Tenang, Nanti Saya yang Bela!

Rabu, 07 Januari 2026 | 05:55

UPDATE

Sultan Usul Hanya Gubernur Dipilih DPRD

Rabu, 14 Januari 2026 | 16:08

Menlu Serukan ASEAN Kembali ke Tujuan Awal Pembentukan

Rabu, 14 Januari 2026 | 16:03

Eks Bupati Dendi Ramadhona dan Barbuk Korupsi SPAM Diserahkan ke Jaksa

Rabu, 14 Januari 2026 | 16:00

Hakim Ad Hoc: Pengadil Juga Butuh Keadilan

Rabu, 14 Januari 2026 | 15:59

Mens Rea Pandji: Kebebasan Bicara Bukan Berarti Kebal Hukum

Rabu, 14 Januari 2026 | 15:50

Pemblokiran Grok Harus Diikuti Pengawasan Ketat Aplikasi AI

Rabu, 14 Januari 2026 | 15:37

Alasan Pandji Pragiwaksono Tak Bisa Dijerat Pidana

Rabu, 14 Januari 2026 | 15:31

Korupsi Aluminium Inalum, Giliran Dirut PT PASU Masuk Penjara

Rabu, 14 Januari 2026 | 15:27

Raja Juli Tunggu Restu Prabowo Beberkan Hasil Penyelidikan ke Publik

Rabu, 14 Januari 2026 | 15:27

Hakim Ad Hoc Ternyata Sudah 13 Tahun Tak Ada Gaji Pokok

Rabu, 14 Januari 2026 | 15:23

Selengkapnya