Berita

Ilustrasi/Net

Dunia

Kasus Sindrom Saraf Langka Meningkat, Peru Tetapkan Darurat Kesehatan Nasional

MINGGU, 09 JULI 2023 | 20:08 WIB | LAPORAN: HANI FATUNNISA

Lonjakan kasus sindrom Guillain-Barre (GBD) atau penyakit saraf langka, mendorong otoritas Peru menetapkan darurat kesehatan nasinal selama 90 hari.

Mengutip Xinhua pada Minggu (9/7), Peru sejauh ini mencatat peningkatan luar biasa dalam penyakit GBD dengan 165 kasus dengan empat kematian.

Melalui lembaran resmi El Peruano, otoritas Peru merinci rencana aksi penanganan GBD dengan anggaran mencapai 12 juta sol atau Rp 50 miliar.


"Alokasi dana akan digunakan untuk meningkatkan perawatan pasien di fasilitas kesehatan, memperkuat kontrol kasus dan mempersiapkan informasi yang informatif bagi penduduk dan tenaga kesehatan," bunyi laporan tersebut.

Lebih rinci, rencana aksi juga mencakup  perolehan imunoglobulin intravena dan albumin manusia, serta diagnosis khusus dari agen biologis yang terkait dengan sindrom tersebut dan bantuan transportasi udara untuk pasien dalam kondisi darurat atau kritis.

Menteri Kesehatan Peru, Cesar Vasquez yang mengumumkan darurat GBD mengatakan bahwa lonjakan penyakit dalam waktu singkat dapat mempersulit layanan kesehatan.

"Tidak ada cukup sumber daya strategis untuk melayani banyak pasien yang membeludak dengan kompleksitas kasus di fasilitas kesehatan," tegasnya.

Sindrom Guillain-Barre adalah kelainan langka di mana sistem kekebalan tubuh menyerang bagian dari sistem saraf tepi.

Sepanjang tahun ini, setidaknya 18 dari 24 departemen Peru telah melaporkan setidaknya satu kasus sindrom tersebut.

GBS merupakan penyakit autoimun, yang artinya kerusakan sel saraf disebabkan oleh komponen sistem imun tubuh pengidap.

Hal ini sering kali dipicu oleh infeksi oleh bakteri seperti campylobacter yang menyerang sistem pencernaan dan virus seperti Epstein-Barr, cytomegalovirus, dan HIV.

Gejala pertama yang muncul adalah kesemutan pada kaki atau tangan, terkadang disertai rasa nyeri yang berawal di bagian tungkai atau punggung.

Pada fase lanjut, kelemahan otot dapat menyerang otot-otot pernapasan yang dapat berakibat fatal.

Selain kelemahan otot, individu dengan GBD dapat mengalami gangguan penglihatan akibat lemahnya otot-otot sekitar mata, kesulitan menelan, bicara dan mengunyah, sensasi seperti tertusuk jarum pada tangan dan hati, dan rasa nyeri yang cenderung memburuk pada malam hari.

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

Pelaku Penembakan Rombongan Tito Karnavian Diringkus

Jumat, 03 April 2026 | 19:59

UPDATE

Nasdem Ingatkan Ancaman El Nino dan Dampak Geopolitik ke Pangan Nasional

Selasa, 07 April 2026 | 14:17

Istana Kaji Wacana Potong Gaji Menteri, Belum ada Keputusan

Selasa, 07 April 2026 | 14:14

Pemerintah Genjot Biofuel untuk Redam Dampak Kenaikan Harga Pangan

Selasa, 07 April 2026 | 14:02

Benteng Etika Digital: Pemerintah Godok Dua Perpres untuk Jinakkan Risiko AI

Selasa, 07 April 2026 | 13:53

KPK Panggil Petinggi 5 Perusahaan Travel Haji

Selasa, 07 April 2026 | 13:34

Seruan Saiful Mujani Tak Digubris, Istana: Prabowo Fokus Agenda Strategis

Selasa, 07 April 2026 | 13:33

Monitoring Ketat Jadi Kunci WFH ASN Tetap Produktif

Selasa, 07 April 2026 | 13:21

Pemerintah Klaim Ketahanan Pangan Nasional Stabil hingga 11 Bulan ke Depan

Selasa, 07 April 2026 | 13:17

Jangan Adu Domba Rakyat dengan Pemerintah Soal BBM

Selasa, 07 April 2026 | 13:11

Kasus Suap Pemkab Bekasi: KPK Periksa Istri Ono Surono Sebagai Saksi

Selasa, 07 April 2026 | 13:08

Selengkapnya