Berita

Ilustrasi/Net

Publika

Kepemimpinan dalam Kepungan Kecerdasan Buatan

SENIN, 03 JULI 2023 | 08:40 WIB | OLEH: YUDHI HERTANTO

BURAM! Masih belum jelas benar seperti apa masa mendatang di era kecerdasan buatan, Artificial Intelligence (AI). Bagaimana kita bersikap dalam merespons perubahan terkini dari kemajuan teknologi tersebut? Serta seperti apa kepemimpinan akan berlaku?

Diskusi mengenai AI selalu menghadirkan berbagai sisi yang berbeda. Kelompok optimistik, menggambarkan secara utopia tentang pencapaian yang mungkin dapat dicapai nantinya membuka ruang baru bagi gugus kehidupan manusia, sebelumnya tidak pernah terbayangkan.

Sementara di kutub berbeda, kecenderungan pesimistik membentuk ilustrasi dystopia mengenai kekhawatiran akan ancaman yang mungkin dapat ditimbulkan melalui kecerdasan super tersebut. Terdapat potensi besar kekacauan ketika mesin semakin jauh melangkahi manusia.


Di antara kedua jurang tersebut, kemana kita hendak melangkah? Teknologi, hakekatnya adalah perpanjangan tangan manusia. Tetapi itu era sebelumnya, ketika fase mekanisasi dan otomatisasi, sehingga didapat pertambahan laju produktivitas melalui keberadaan mesin teknologi.

Pada masa kini, mesin-mesin teknologi tersebut dilengkapi dengan algoritma kecerdasan, mampu berpikir, serta merumuskan berbagai persoalan dengan menggunakan berbagai sisi data yang dapat dirangkum melalui data koneksi terhubung milik manusia, bahkan dapat mengambil solusi terbaik.

Lalu pertanyaan selanjutnya, bagaimanakah dengan nasib manusia? Kita perlu menarik keterhubungan antara berbagai problematika kelahiran bentuk kecerdasan baru ini dengan satu perspektif yang mengandaikan bahwa kemajuan teknologi adalah sebuah keniscayaan, dan pemegang kendali dari kemajuan yang seolah tidak terbendung ini, kembali ke tangan manusia itu sendiri, bukan mesin.

Dalam kerangka filosofis, artikel Saras Dewi, Bahasa dan Kecerdasan Artifisial, Kompas (1/7) menjadi bahan perenungan yang perlu dicermati dengan baik. Keberadaan teknologi jenis ini, membutuhkan regulasi guna memastikan kebermanfaatannya, mereduksi dampak negatif secara bersamaan.

Peran Pemimpin

Dengan begitu, manusia tetap menjadi pengendali dan pendulum sentral. Di masa dimana kecerdasan buatan mulai masif dipergunakan dalam kehidupan manusia, maka dibutuhkan individu yang tidak mudah didikte, mampu secara otonom mengambil keputusan yang pelik dengan berbagai risiko.

Sebagaimana layaknya manusia yang memiliki sifat keterbatasan dalam rasionalitas pemikiran -bounded rationality, maka kemampuan kolaborasi menjadi sebuah pembeda dalam makna kolektivitas. Mereka yang bersiap menjadi pemimpin harus memiliki pemahaman akal budi, moralitas, dan etik terbaik.

Berbekal modalitas dasar tersebut, maka seorang pemimpin akan mampu melihat urgensi penting teknologi beserta konsekuensinya, serta memastikan manusia tetap berada dalam koridor nilai-nilai kemanusiaan yang universal. Seolah klise, tetapi memang realitas tersebut yang dibutuhkan.

Jika kita evaluasi tulisan Andreas Maryoto, Dunia Tanpa Pekerjaan, Kompas (1/7) terlihat bagaimana proyeksi yang dapat terjadi bila posisi kecerdasaan artifisial ini semakin dominan dipergunakan, ketergantungan manusia menjadi relatif tinggi, kemudian berbagai pekerjaan menghilang.

Kolektivitas Sosial

Peran kepemimpinan diharapkan melampaui cara berpikir kecerdasan buatan. Karena itu pemimpin masa depan adalah mereka yang memiliki visi jangka panjang, mampu menimbang persoalan dan turunan solusi yang dapat dihadirkan untuk menjawab permasalahan tersebut.

Padanan seimbang bagi bentuk kepemimpinan adalah para cendekiawan. Lapisan yang sebagaimana disebut M Alfan Alfian, Menghadirkan Kembali Intelektual Publik, Kompas (1/7) menjadi pihak dengan bobot pemikiran tercurah penuh pada perhatian akan kepentingan publik secara obyektif.

Bila kemudian merujuk pada karya Yuval Noah Harari, dalam Homo Sapiens, 2017 diterangkan bila kemampuan manusia berkomunikasi serta membangun kerja sama dalam kelompok, sekaligus berkehidupan sosial menjadikannya mampu membentuk peradaban, dengan sains dan perkakas.

Selanjutnya, Harari menuliskan Homo Deus, 2020, kelompok sapiens mampu melintasi berbagai kondisi krisis yang dihadapinya, meningkatkan kapasitas teknologi dan di situlah permainan peran dimulai. Manusia bertindak sebagai pencipta, playing god dengan bioteknologi hingga kecerdasan buatan.

Kiranya pada titik inilah, secara reflektif manusia mulai berkalang ego. Ambisi besar manusia untuk menjadi sang pencipta yang tidak terbantahkan, seakan melampaui kondisinya.

Padahal sesungguhnya umur dan rasionalitas akal manusia sangatlah terbatas, untuk itu kita seharusnya mulai berbenah manakala berhadapan dengan kebaharuan teknologi kali ini.

Penulis sedang menempuh Program Doktoral Ilmu Komunikasi Universitas Sahid

Populer

Keputusan KIP Kuatkan Keyakinan Ijazah Jokowi Palsu

Minggu, 22 Februari 2026 | 06:18

Roy Suryo Cs di Atas Angin terkait Kasus Ijazah Jokowi

Rabu, 18 Februari 2026 | 12:12

Harianto Badjoeri Dikenal Dermawan

Senin, 23 Februari 2026 | 01:19

Kasihan Banyak Tokoh Senior Ditipu Jokowi

Rabu, 18 Februari 2026 | 14:19

Partai Politik Mulai Meninggalkan Jokowi

Selasa, 17 Februari 2026 | 13:05

Sangat Aneh Bila Disimpulkan Ijazah Jokowi Asli

Kamis, 19 Februari 2026 | 18:39

Gibran Jadi Kartu Mati Prabowo di Pilpres 2029

Minggu, 22 Februari 2026 | 03:02

UPDATE

RI Tak Boleh Tunduk atas Bea Masuk 104,38 Persen Produk Surya oleh AS

Jumat, 27 Februari 2026 | 10:16

DPR: Penagihan Pajak Tanpa Dasar Hukum yang Jelas Namanya Perampokan

Jumat, 27 Februari 2026 | 10:09

Suara Rakyat Terancam Hilang Jika PT Dinaikkan

Jumat, 27 Februari 2026 | 10:09

Bursa Cabut Status Pemantauan Khusus 14 Saham, Resmi Keluar dari Mekanisme FCA

Jumat, 27 Februari 2026 | 09:57

IHSG Dibuka ke Zona Merah, Anjlok ke Level Terendah 8.093 Pagi Ini

Jumat, 27 Februari 2026 | 09:41

Komisi III DPR Ingatkan Aparat Tak Main Hukum Terhadap ABK Fandi

Jumat, 27 Februari 2026 | 09:38

Perjanjian Dagang RI-AS Perkuat Hilirisasi

Jumat, 27 Februari 2026 | 09:36

Laba Bersih Astra International Turun 3,3 Persen di 2025, Jadi Rp32,77 Triliun

Jumat, 27 Februari 2026 | 09:31

185 Lapangan Padel Belum Berizin, Pemprov DKI Segera Bertindak

Jumat, 27 Februari 2026 | 09:16

Bursa Asia Melempem Jelang Akhir Pekan

Jumat, 27 Februari 2026 | 09:06

Selengkapnya