Berita

Pelantikan BJ Habibie sebagai Presiden ketiga Republik Indonesia/Net

Suara Mahasiswa

Islam dan Kebijakan Luar Negeri Masa Presiden Habibie

OLEH: ADRE ALIR*
SABTU, 10 JUNI 2023 | 18:49 WIB

INDONESIA bukan negara Islam, tetapi Islam menjadi agama yang dianut oleh mayoritas penduduk. Ideologi Pancasila menjadi dasar untuk mengikat kemajemukan suku dan pluralitas agama yang ada di Indonesia.

Atas pluralitas tersebut, saat masa Presiden Soekarno dan Soeharto, kebijakan luar negeri Indonesia pun tidak serta-merta terdikte oleh ideologi Islam.

Namun setelah masa tersebut, tepatnya di masa pemerintahan BJ Habibie, Indonesia mulai mempromosikan identitas Islam di ranah internasional.


Sekilas Kehadiran Islam dan Kaitannya dengan Politik Indonesia

Islam telah hadir di Indonesia sejak abad ke-13 melalui interaksi perdagangan dengan para pedagang Arab dan muslim Gujarat. Tetapi, Islam baru menjadi agama mayoritas penduduk Indonesia pada abad ke-16.

Proses penyebaran Islam di Indonesia tidaklah sederhana karena perlu waktu yang lama dan proses yang kompleks untuk dapat tersebar di kalangan masyarakat.

Islam semakin berkembang menjadi agama mayoritas di Indonesia setelah kemerdekaan tahun 1945. Pemerintah telah mengakui Islam sebagai salah satu agama resmi di Indonesia.

Indonesia dikenal dengan Islam yang moderat karena adanya berbagai aliran dan kepercayaan lokal yang berpadu dengan ajaran Islam. Selain itu, negara juga telah berperan penting dalam mempromosikan dialog antaragama dan keharmonisan antaragama.

Singkatnya, sejarah Islam di Indonesia menggambarkan proses penyebaran dan perkembangan Islam serta eksistensi menjadi agama penting dalam kehidupan sosial, budaya, dan politik sejak dahulu sampai saat ini.

Agama Islam telah eksis dalam ranah politik Indonesia membuktikan bahwa ada kesadaran akan keislaman dalam politik. Sejak kemerdekaan, partai-partai politik Islam telah berperan penting, seperti PKB (Partai Kebangkitan Bangsa) dan PPP (Partai Persatuan Pembangunan) guna mewakili suara umat Islam dan memperjuangkan kepentingan muslim.

Islam dalam Kebijakan Luar Negeri Indonesia Masa BJ Habibie

Indonesia mengalami perubahan suasana politik secara signifikan setelah masa rezim Orde Baru yang dipimpin oleh Presiden Soeharto. Bacharuddin Jusuf Habibie atau yang lebih dikenal BJ Habibie merupakan presiden Indonesia ketiga setelah Soeharto.

Masa pemerintahan BJ Habibie cukup singkat, hanya sejak 1998—1999. Meskipun singkat, Presiden Habibie memperhatikan Islam dalam hubungan politik luar negeri Indonesia.

Habibie berusaha memperbaiki image Indonesia di mata dunia dan memperbaiki hubungan dengan negara-negara Barat, termasuk Amerika Serikat dan Uni Eropa. Serta meningkatkan kerja sama dengan negara-negara Asia.

Habibie menjaga hubungan baik antara Indonesia dengan negara-negara Islam melalui berbagai cara, salah satu contohnya adalah dengan mengumumkan dukungan terhadap kebebasan Palestina.

Beliau mendukung OKI dalam memperjuangkan hak-hak Palestina dan penyelesaian konflik di kawasan Timur Tengah.

Habibie menekankan pentingnya hubungan baik dengan negara-negara Islam karena Indonesia memiliki kepentingan strategis dalam menjalin ikatan tersebut. Habibie memperkuat kerja sama bilateral dan multilateral dengan negara-negara Islam, salah satunya Organisasi Kerjasama Islam (OKI).

Habibie juga memperkuat diplomasi konflik Timur Tengah, termasuk konflik antara Irak dan Amerika Serikat yang membuat eskalasi konflik di sana.

Indonesia berperan sebagai mediator dalam upaya penyelesaian dan perdamaian. Habibie dianggap berperan penting dalam upaya diplomasi meredakan ketegangan Timur Tengah saat itu.

Tidak hanya berfokus dengan negara-negara Arab, Habibie juga tidak lupa memperkuat hubungan Indonesia dengan negara-negara mayoritas muslim lainnya, seperti Pakistan dan Bangladesh.

Komitmen yang dijalankan Habibie dalam memelihara hubungan baik antarnegara dan keharmonisan antaragama di Indonesia, serta antara umat Islam satu sama lain.

Hal itu menjadi cerminan bagi politik luar negeri yang dijalankan pada masa pemerintahannya. Di mana ia berusaha mempromosikan dialog dan kerja sama antaragama di tingkat internasional.

*Mahasiswi Ilmu Hubungan Internasional Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif hidayatullah Jakarta

Populer

Kematian Penjaga Rumah Febrie Harus Diusut Tuntas

Senin, 27 Juli 2026 | 19:53

Jubir IKN Troy Pantouw Sempat Telepon Keluarga Sehari Sebelum Ditemukan Meninggal

Minggu, 26 Juli 2026 | 20:58

Putusan Eksepsi Dokter Tifa Berujung Antiklimaks

Minggu, 02 Agustus 2026 | 05:20

Oknum Brimob Jadi Tersangka, KPK Pastikan Sanksi Pidana hingga Etik Menanti

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:44

15 Jeriken Bensin yang Menenggelamkan Jabatan Ayah

Senin, 27 Juli 2026 | 01:03

Dana Nasabah Rp2,58 Miliar Raib, BCA Digugat ke PN Jakpus

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:02

KPK Konstruksikan Dugaan Fee Rp3,5 Miliar dari Waskita untuk Eks Ketum HIPMI

Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:18

UPDATE

Ruang Digital Kondusif Faktor Penting Jaga Stabilitas Ekonomi dan Politik

Rabu, 05 Agustus 2026 | 04:03

Dibungkam Maung Bandung 2-1, STY Sebut Pemain Persija Belum Maksimal

Rabu, 05 Agustus 2026 | 03:43

Kuliah Koperasi untuk Feri Amsari

Rabu, 05 Agustus 2026 | 03:18

Gagasan Anti-Penjajahan Soemitro jadi Modal Bangsa Hadapi Dinamika Global

Rabu, 05 Agustus 2026 | 02:55

BRI Gelar Kick-Off BRIncubator 2026 Songsong Akselerasi UMKM Naik Kelas

Rabu, 05 Agustus 2026 | 02:33

Ziarahi Makam Bung Karno, Muzani Tegaskan Indonesia Rumah Bersama

Rabu, 05 Agustus 2026 | 02:12

Penentu Tingkat Kesuksesan suatu Negara

Rabu, 05 Agustus 2026 | 01:43

Ikan Gabus Baik untuk Ibu Pascamelahirkan, Begini Penjelasannya

Rabu, 05 Agustus 2026 | 01:17

Indonesia-Thailand Makin Mantap Jaga Kawasan Selat Malaka

Rabu, 05 Agustus 2026 | 00:58

Utang Pinjol Warga RI Naik 25,88 Persen, Tembus Rp105 Triliun Hingga Juni 2026

Rabu, 05 Agustus 2026 | 00:30

Selengkapnya