Berita

Smelter nikel di Indonesia Morowali Industrial Park/Ist

Dahlan Iskan

Teflon Luhut

SENIN, 05 JUNI 2023 | 04:59 WIB | OLEH: DAHLAN ISKAN

IA begitu sukses menjadi panglima hilirisasi nikel. Ia pun akan jadi panglima di hilirisasi bauksit. Juga hilirisasi petrochemical dan fiber glass.

Sejak masih muda saya sudah terlibat diskusi aktivis: mengecam pemerintah yang hanya bisa ekspor bahan mentah. Yang lagi top waktu itu: kayu gelondongan dan rotan. Ekspor langsung dari hutan.

Aktivis hanya bisa demo.


Pengusaha terus saja membabat hutan. Itulah sumber kekayaan baru di awal Orde Baru: orang menyebutnya emas hijau.

Gelombang orang kaya baru bermunculan dari kayu hutan. Tidak pernah ada pemikiran hilirisasi kayu gelondongan. Pun sampai hutannya habis.

Rasanya di zaman itulah lahir gelombang pertama orang kaya baru di Indonesia. Di zaman Orde Baru. Menjadi kaya dengan cara yang mudah.

Sebelum itu memang ada zaman kopra. Di akhir Orde Lama hingga awal Orde Baru. Tapi kopra berasal dari jerih payah manusia. Pohon kelapa harus ditanam. Buah kelapanya dijadikan kopra. Lalu diolah jadi minyak goreng.

Sedang kayu gelondongan tinggal babat hutan. Modal yang paling mahal mungkin hanya untuk uang sogok ke pejabat pemberi izin.

Boleh dikata nikel adalah kisah sukses pertama hilirisasi hasil bumi Indonesia.

Memang UU yang melarang ekspor bahan mentah dilahirkan di zaman SBY. Pun peraturan pelaksanaannya. Tapi era Presiden Jokowi-lah yang berhasil memaksakan hilirisasi itu terjadi.

Saya ingat pertemuan kami bertiga: Menteri Perindustrian Mohamad S. Hidayat, Menteri Perdagangan Gita Wirjawan, dan satu menteri lagi tadi. Kami membahas batas waktu yang hampir habis dari UU tersebut. Tinggal beberapa bulan. Harus dilaksanakan.

UU memang memberi kelonggaran waktu 2 tahun. Artinya waktu yang diberikan hampir habis. Bisnis nikel belum ada yang siap. Belum satu pun pabrik smelter jadi. Ini mau diapakan.

Kami hanya bertiga. Tidak saling membawa staf. Kami bertiga satu ide: tidak boleh ada kelonggaran. Tidak boleh ada dispensasi. Hilirisasi harus terlaksana. Tidak akan ada perpanjangan.

Heboh. Tidak mungkin. Mana bisa membangun smelter baru dalam 6 bulan. Para pengusaha minta dispensasi: agar tetap boleh ekspor tanah-air berisi nikel. Termasuk BUMN seperti PT Antam.

Tapi kami bertiga bergeming. Presiden mendukung kesepakatan kami. Ekspor bahan mentah pun terhenti. Entah kalau ada permainan di baliknya.

Tidak mudah memaksakan hilirisasi.

Harus kerja keras.

Ekspor kayu gelondongan dan tanah-air berisi nikel tidak perlu kecerdasan. Maka saat terjadi heboh-heboh pembangunan smelter nikel di Morowali, saya bersimpati kepada Luhut. Tantangan begitu besar. Tidak ada hal besar yang bisa dilewati dengan mudah. Kini smelter menjadi pioneer hilirisasi hasil tambang.

Luhut pun membuat kejutan baru: ekspor bahan mentah bauksit segera dilarang. Tahun ini juga. Hebohnya tidak lagi seperti nikel. Dunia usaha sudah tahu: pemerintah tegas. Tidak bisa ditawar-tawar lagi. Tidak akan ada dispensasi.

Saya ingat, dulu, begitu UU dilahirkan, pengusaha tenang-tenang. Anggapan mereka: pasti ada dispensasi. Apalagi kalau pengusaha kompak: tidak ada yang membangun smelter. Pemerintah pasti takut kehilangan devisa dari ekspor bahan mentah.

Sikap pengusaha seperti itu kini tidak ada lagi.

Saya lihat sendiri di lapangan.

Di Kalbar. Kota Pontianak begitu sibuk. Hotel penuh. Banyak sekali pengusaha yang sedang menyiapkan smelter bauksit di sana.

Kalbar akan segera menjadi pusat pengolahan bauksit. Pun ketika daerah itu belum punya cukup listrik. Mereka bersiap membangun pembangkit listrik sendiri. PLN harus cepat-cepat berlari. Agar tidak ketinggalan langkah di Kalbar.

Luhut telah menjadi sosok pemimpin yang tegas, tahan banting, ngotot, tidak mudah goyah –yang dalam kamus politik bisa disebut sosok seperti teflon.

"Saya kan sudah tua. Batak. Kristen. Jadi tidak ada yang mem-bully saya sebagai orang yang berambisi jadi presiden," ujarnya suatu ketika.

Bersamaan dengan bauksit itu Luhut lagi bersikeras membangun petrochemical dan fiber glass. Salah satu yang paling besar di dunia: di Kaltara.

Industri itu akan menghasilkan 60.000 jenis turunannya. Semua berupa bahan baku utama industri zaman baru. Di situlah jenis-jenis material baru akan dihasilkan. Lengkap. Sekaligus semua bahan baku yang diperlukan industri baru.

Sampai hari ini hampir semua bahan baku itu masih harus diimpor. Masih sampai 95 persennya. Itu yang tidak akan terjadi lagi. "Belum pernah Indonesia akan seperti ini," katanya.

Dari Kaltara itulah nanti sumber utama pertumbuhan ekonomi negara. Bukan lagi bersandar pada pertumbuhan tradisional lagi. Daru situlah Luhut berencana mengatrol pertumbuhan untuk tidak lagi di kisaran 5 persen setahun.

Di mata Luhut, masa depan Indonesia sangat cerah. Tapi semua itu harus terlaksana.

Presiden Jokowi lebih jauh lagi: momentum itu belum tentu akan ada lagi. Ia mengingatkan apa yang terjadi di Amerika Latin. Sampai hari ini pun tidak pernah lagi mendapatkan momentum itu. Lalu jadi negara-negara yang terjerat memuter-muter di situ-situ saja.

Saya jadi paham mengapa ada isu tiga periode. Lalu ada isu cawe-cawe yang kini telah jadi bahasa politik nasional.

Populer

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

KPK Dalami Peran Haji Her dan Suryo di Skandal Cukai Rokok

Jumat, 01 Mei 2026 | 20:51

Sikap Adem Ayem Seskab Teddy Mencurigakan

Selasa, 05 Mei 2026 | 02:06

Bos Rokok PT Gading Gadjah Mada Dipanggil KPK

Senin, 27 April 2026 | 14:16

Usai Dilantik, Jumhur Tegaskan Status Hukum Bersih dari Vonis 10 Bulan

Senin, 27 April 2026 | 21:08

UPDATE

Menguji Klaim MBG Kunci Pertumbuhan Ekonomi Triwulan 1

Kamis, 07 Mei 2026 | 04:12

JK Disarankan Maafkan Ade Armando

Kamis, 07 Mei 2026 | 04:07

41,7 Persen Jemaah Haji Aceh Lansia

Kamis, 07 Mei 2026 | 03:43

Bank Pelat Merah Cabang Joglo Dipolisikan

Kamis, 07 Mei 2026 | 03:26

Empat Hakim Ad Hoc PHI PN Medan Disanksi Kode Etik

Kamis, 07 Mei 2026 | 03:03

Presensi Ilegal 3.000 ASN Brebes Alarm Serius bagi Integritas Birokrasi

Kamis, 07 Mei 2026 | 02:42

Omongan Amien Rais Dibenarkan Publik selama Tak Dibantah Teddy

Kamis, 07 Mei 2026 | 02:15

Digitalisasi Parkir Genjot Pendapatan Daerah

Kamis, 07 Mei 2026 | 02:02

Ini Cerita Penumpang Selamat dari Bus ALS Terbakar di Sumsel

Kamis, 07 Mei 2026 | 01:31

Impor Blueray 90 Persen Tetap Jalur Merah

Kamis, 07 Mei 2026 | 01:28

Selengkapnya