Berita

Recep Tayyip Erdogan/Net

Publika

Kemenangan Islamo Demokrasi Turki

OLEH: MOCH EKSAN*
SENIN, 29 MEI 2023 | 23:26 WIB

PEMILIHAN presiden Turki putaran kedua telah menyajikan pertunjukan Islamo demokrasi. Negara Ottoman Empire dalam pilpres pilihan langsung rakyat mengalahkan pemilihan presiden (Pilpres) Amerika Serikat diwarnai kegaduhan dan kekacauan politik.

Turki berhasil menyelenggarakan pemilu yang demokratis, aman dan damai. Ini suatu prestasi tersendiri yang meningkatkan derajat demokrasi negara yang berjuluk Gerbang Timur dan Barat. Julukan ini berhubungan dengan letak geografisnya yang menjembatani Asia dan Eropa.

Istilah "Islamo Demokrasi" berasal dari tesis Anas Urbaningrum di Pascasarjana Universitas Indonesia (UI). Suatu konklusi dari tradisi musyarawah masyarakat muslim nusantara yang menjadi basis kultural dari struktur demokrasi modern Indonesia.


Musyawarah menjadi fondasi dari pendirian negara dan pembentukan pemerintah yang berakar dalam ajaran syura dalam Islam. Ini yang menguatkan  demokrasi pasca sekularisme Turki. Ternyata untuk menjadi negara demokratis tak perlu memisahkan agama dan negara seperti negara-negara Barat.

Dalam kasus Turki, kelompok konservatif dari partai berbasis pemilih muslim puritan mendorong liberalisme politik Turki. Sistem pilpres pilihan langsung rakyat diadopsi oleh negara Turki yang punya budaya bernegara relatif tua. Sistem republik jauh lebih muda dari monarki.

Bagaimana tidak? Republik Turki masih berusia satu abad dihitung semenjak 1923. Sedangkan, Daulah Khilafah Ustmaniyah Turki berusia delapan abad dihitung semenjak 1299. Yang menarik, reformasi pemilu justru diinisiasi Presiden Recep Tayyip Erdogan yang mengubah parlementer pada presidensil.

Pilpres pilihan langsung rakyat sesungguhnya mengurangi otoritas elite dan meningkatkan otoritas rakyat dalam memilih pemimpin yang terbaik. Namun, manuver Erdogan memilih jalan demokrasi untuk melanggengkan kekuasaan tentu penuh risiko. Sebab, dalam banyak kasus, demokrasi itu bisa memakan anaknya sendiri.

Terbukti, Erdogan harus berjuang sangat keras untuk memperpanjang mandat rakyat untuk memimpin Turki kembali. Pilpres 2023 merupakan pemilu terberat. Nyaris ia kehilangan kekuasaan yang dipegang selama lebih dari dua dekade.

Rakyat Turki masih menyelamatkan Erdogan. Ia terpilih kembali dan mengalahkan Kemal Kilicdaroglu dengan skor 52,16 persen (27,117,669 suara) lawan 47,84 persen (24,954,920 suara). Kemenangan pilpres putaran kedua berkah limpahan suara dari capres Sinan Ogan yang memperoleh 5,17 persen pada Pilpres Putaran Pertama Turki.

Ogan benar-benar menjadi kingmaker dalam pilpres putaran kedua ini. Capres dari jalur perseorang ini yang menghidupkan kartu Erdogan di tengah banyak prediksi yang bakal terjungkal dari singgasana kepresidenan. Ia beralasan demi kepentingan stabilitas nasional Turki. Dimana aliansi partai-partai pendukung presiden petahana menguasai mayoritas minimal parlemen dengan 295 kursi atau 42,56 persen dari 600 kursi Majelis Nasional Agung.

Bila Ogan mengalihkan dukungan kepada Kilicdaroglu, maka presiden dari aliansi bangsa yang akan menang. Sementara hasil pemilu parlemen 14 Mei 2023, aliansi ini hanya memperoleh 146 kursi atau 22,65 persen. Ini akan menimbulkan instabilitas politik. Di tengah krisis ekonomi yang akut, Turki membutuhkan stabilitas untuk mengatasi masalah bangsa.

Di atas semua itu, sesungguhnya masyarakat Turki termasuk penganut patronklein. Banyak pemilih yang menentukan pilihannya atas preferensi para elite. Keberadaan swing voters (pemilih mengambang) jumlahnya masih sedikit.

Mereka belum menjadi faktor determinan bagi kemenangan atau kekalahan kandidat. Ini tak lepas dari budaya ketaatan pada imamah yang berurat akar dalam struktur masyarakat berabad-abad lamanya.

Potret mayoritas muslim Turki adalah "Islam Politik". Mereka punya romantisme sejarah atas kejayaan Kesultanan Ottoman Turki. Mereka juga memiliki trauma mendalam atas sekularisasi yang mencerabut ajaran dan budaya Islam yang dianut oleh 89,5 persen penduduk muslim.

Paket kebijakan sekularisme Presiden Turki Pertama, Mustafa Kemal Attaturk menimbulkan represi terhadap umat Islam dalam menjalankan syariat agama. Akibatnya, hak beragama dan menjalankan agama dalam ancaman aparatur negara. Padahal, agama merupakan basic spiritual need (kebutuhan rohani dasar) setiap orang.

Jadi, pendukung Presiden Erdogan adalah fix voters (pemilih setia) yang sulit beralih pada partai atau kandidat calon lain, Hatta dengan iming-iming apa pun. Jumlah mereka antara 21 sampai 27 juta yang menjadi lumbung suara presidensinya. Jumlah mereka sebenarnya 34 persen dari total penduduk Turki yang mencapai 84 juta lebih.

Kemenangan Erdogan adalah kejayaan Islamo demokrasi yang telah berhasil mengawinkan sistem syura satu sisi dan sistem demokrasi sisi lain. Pilpres pilihan langsung rakyat tak ubahnya seperti "baiah 'ammah" dalam fiqhus-siyasah.

Sebuah tradisi pemilihan sejak awal pemerintah Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq yang punya persepadan dengan sistem pilihan langsung. Selamat Presiden Erdogan atas kemenangan ketiga kalinya, semoga amanah.

*Penulis adalah Pendiri Eksan Institute

Populer

Kematian Penjaga Rumah Febrie Harus Diusut Tuntas

Senin, 27 Juli 2026 | 19:53

Putusan Eksepsi Dokter Tifa Berujung Antiklimaks

Minggu, 02 Agustus 2026 | 05:20

Oknum Brimob Jadi Tersangka, KPK Pastikan Sanksi Pidana hingga Etik Menanti

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:44

15 Jeriken Bensin yang Menenggelamkan Jabatan Ayah

Senin, 27 Juli 2026 | 01:03

Dana Nasabah Rp2,58 Miliar Raib, BCA Digugat ke PN Jakpus

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:02

KPK Konstruksikan Dugaan Fee Rp3,5 Miliar dari Waskita untuk Eks Ketum HIPMI

Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:18

Terkejut Mantan Ajudan Jadi Tersangka KPK, Alexander Marwata Kenang Kinerja Dias

Kamis, 30 Juli 2026 | 11:52

UPDATE

Hubungan Industrial Harmonis Fondasi Penting Tingkatkan Kinerja Pelindo

Jumat, 07 Agustus 2026 | 05:45

Kemhan Renovasi Sekretariat LVRI dan Bedah Rumah Veteran di 19 Provinsi

Jumat, 07 Agustus 2026 | 05:22

Seribu Lebih Ponpes Kini Bisa Kelola Dapur MBG

Jumat, 07 Agustus 2026 | 04:45

Prabowo Kumpulkan Petinggi Militer

Jumat, 07 Agustus 2026 | 04:25

Polisi Tangkap Dua Orang Penghasut di Medsos terkait Pernyataan Prabowo soal Nuklir Iran

Jumat, 07 Agustus 2026 | 04:08

Pengusaha Nasional Didorong jadi Pilar Kedaulatan Ekonomi

Jumat, 07 Agustus 2026 | 03:55

IDCPC sebagai Instrumen Soft Power Diplomacy China

Jumat, 07 Agustus 2026 | 03:35

Rencana Purbaya Kuasai Saham Whoosh Sudah Sampai ke Pemerintah China

Jumat, 07 Agustus 2026 | 03:15

BGN Bidik Percepatan Pembangunan SPPG di Wilayah 3T

Jumat, 07 Agustus 2026 | 02:54

Perbankan Harus Beri Karpet Merah UMKM agar Naik Kelas

Jumat, 07 Agustus 2026 | 02:28

Selengkapnya