Berita

Pakar Kebijakan Publik, Achmad Nur Hidayat/Net

Publika

Masif Bangun Infrastruktur, Kinerja Indeks Logistik Jeblok, Kok Bisa?

RABU, 24 MEI 2023 | 13:43 WIB | OLEH: ACHMAD NUR HIDAYAT

SETIAP kebijakan publik seharusnya dapat diukur kinerja dan dampaknya. Termasuk pembangunan masif infrastruktur dan IKN yang dilakukan pada kepemimpinan Presiden Jokowi periode 2014-2024.

Apalagi pembangunannya menggunakan utang yang jumlahnya sudah mencapai ribuan triliun rupiah.

Pemerintah Jokowi 2014-2023 tercatat menambah utang tertinggi dibandingkan periode pemerintahan lainnya.


Penambahan utang periode Jokowi 2019-2023 sebesar Rp 5,270 triliun yang terdiri kurun periode pertama 2014-2019 sebesar Rp 2,176 triliun dan periode 2019-2023 sebesar Rp 3,092 triliun. Data tersebut diperoleh dari SULNI terakhir.

Utang lebih dari lima ribu triliun yang diciptakan pemerintahan Jokowi memang tidak hanya digunakan untuk infrastruktur, melainkan juga untuk mengatasi pandemi Covid-19 termasuk memberikan vaksin dan pengobatan Covid-19.

Utang Covid-19 2020-2021 tercatat bertambah Rp 1.601,95 triliun kurun periode Covid-19, yaitu Januari 2020-Mei 2021.

Jadi utang yang digunakan untuk proyek-proyek inisiatif Presiden Jokowi sekitar Rp 3.668,05 triliun.

Salah Arah Pembangunan Infrastruktur Indonesia 2014-2023

Di sisi kebijakan publik, apa untungnya proyek-proyek inisiatif Presiden Jokowi sehingga negara berutang Rp 3.668,05 triliun itu?

Jawabnya biaya logistik akan semakin murah. Benarkah demikian?

Pembangunan Infrastruktur Malah Membuat Biaya Logistik Makin Mahal

Setelah ribuan triliunan rupiah dikeluarkan untuk membangun jalan berbayar tol, performa logistik malah turun alias ongkos logistik makin mahal.

Nilai logistik performance index Indonesia adalah 3,08 di 2014 dan justru turun menjadi 3,0 di 2023 menurut World Bank. Ini menunjukkan biaya logistik Indonesia 2023 lebih mahal dari 2014.

Logistics Performance Index (LPI) Indonesia pada 2023 jeblok. Dari 139 negara, Indonesia menempati peringkat ke-63.

Negara tetangga seperti Singapura, Malaysia, Thailand, Filipina, dan Vietnam berada di atas Indonesia.

Ini menunjukkan ongkos logistik Indonesia lebih mahal dan investor menjadi tidak tertarik. Padahal proyek infrastruktur digelontorkan begitu masifnya.

Di Mana Salahnya?

Kesalahannya terletak pada prioritas infrastruktur yang dibangun, yaitu adalah infrastruktur berbayar (TOL).

Pemerintahan Jokowi aktif membangun jalan TOL yang berbayar. Jumlah panjang jalan tol diambil dari data BPJT PUPR. Per Oktober 2014-Maret 2023, pemerintah membangun jalan tol 1.848,1 km.

Prestasi membangun tol 1,848,1 km diklaim sebagai keberhasilan luar biasa dibandingkan dengan pemerintahan sebelumnya, yaitu kurun 2004-2014 pembangunan jalan tol hanya 212 km.

Pemerintahan Jokowi lebih senang membangun jalan berbayar daripada jalan nasional yang gratis. Karena itulah ongkos logistiknya jauh lebih mahal.

Ironi sekali, utang yang diciptakan bukannya untuk menurunkan ongkos logistik, malah sebaliknya.

Jadi dalam sisi kebijakan publik, masif infrastruktur yang tidak disertai penurunan biaya logistik adalah kebijakan yang salah arah. Apa mau dipuja-puji lagi pembangunan infrastruktur tersebut?

Penulis adalah Pakar Kebijakan Publik dan Kepala Pusat Studi Ekonomi Politik LKEB UPN Veteran Jakarta

Populer

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Menteri Warisan Jokowi akan Bersih dari Kabinet Prabowo pada 2027

Jumat, 30 Oktober 2026 | 23:29

Pencopotan Agus Suparmanto dan Taj Yasin Bukan Keinginan Ketum PPP

Kamis, 29 Oktober 2026 | 11:16

Rencana Insentif MBG Rp1 Triliun Tuai Kritik dari DPR

Kamis, 29 Oktober 2026 | 15:47

Silfester Matutina Diduga Masuk List Saksi Sidang Ijazah Jokowi

Minggu, 25 Oktober 2026 | 04:00

UPDATE

Perempuan Tani HKTI Terapkan Teknologi IoT, Pangkas Penggunaan Pupuk hingga 50 Persen

Minggu, 01 November 2026 | 12:32

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

PTKIN Siapkan Langkah agar Inovasi Mahasiswa Tak Berhenti di Ajang Lomba

Minggu, 01 November 2026 | 11:56

Kloter Pertama Haji 2027 Terbang 11 April, Ini Jadwal Lengkapnya

Minggu, 01 November 2026 | 11:50

Imigrasi Sudah Cegah Ahmad Dedi ke Luar Negeri Atas Permintaan KPK

Minggu, 01 November 2026 | 11:36

Puluhan Orang Diamankan Polisi saat Gerebek Kampung Bahari

Minggu, 01 November 2026 | 11:30

Maroko Sambut Keputusan PBB Akhiri Misi MINURSO di Sahara Barat

Minggu, 01 November 2026 | 11:17

Citra Polri Bisa Rusak Akibat Dua Kejadian Ini

Minggu, 01 November 2026 | 11:05

Ombudsman Ingatkan Polri Jaga Etika dan Hormati HAM saat Penggeledahan

Minggu, 01 November 2026 | 10:48

PPK Ajak Masyarakat Berperan bersama Presiden Prabowo Wujudkan Kedaulatan

Minggu, 01 November 2026 | 10:42

Selengkapnya