Berita

Perjanjian New York 1962/Net

Publika

Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Ingin Merdeka

SELASA, 25 APRIL 2023 | 18:25 WIB | OLEH: DR. IR. SUGIYONO, MSI

PERJALANAN panjang Perjanjian New York tahun 1962 dan penentuan pendapat rakyat tahun 1969 hingga model pembangunan otonomi khusus Papua belum berhasil membangkitkan keserbasamaan pendapat untuk pembangunan nasional dan daerah dalam payung bentuk NKRI.

Minimal, ada dua faktor penting yang menjadi kendala dalam pembangkitan kesamaan perspektif perjuangan dan kejuangan, serta daya juang tersebut.

Pertama, merasa sebagai bangsa yang senantiasa terjajah dan teraniaya, dianaktirikan, terpinggirkan, tersingkirkan, tidak disayang-sayang, dan sebagainya, sehingga terbangkitkanlah nuansa merasa bahwa kemerdekaan Papua adalah satu-satunya cara sebagai lompatan besar terbaik untuk membangun bangsanya.


Namun, hal itu dengan melupakan perjalanan sejarah perjanjian internasional dan nasional, serta perjalanan sejarah perjuangan bangsa-bangsa. Lebih terpukau oleh propaganda lompatan-lompatan besar untuk mendadak segera makmur dan sejahtera.

Yang melupakan proses tahapan-tahapan pembangunan untuk menjadi bangsa besar yang duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi, sekalipun pernak-pernik pendanaan program pembangunan otonomi khusus tergolong teralokasikan sangat besar dan istimewa. Yang tersayang dan terkasih, namun merasa tercampakkan.

Kedua, pengelolaan sumber daya alam dari bumi Papua, seperti slurry, emas, bijih tembaga, perak, semen, pasir, bahan tambang lainnya, kayu hutan, pertanian, perikanan laut, perikanan darat, peternakan, dan lainnya kemudian dirasakan amat sangat tidak adil dalam manajemen distribusi hasil-hasil pembangunan dalam perspektif subjektivitas personal.

Subjektivitas yang mengingatkan tentang perjuangan PRRI, Dewan Banteng, pembentukan negara Islam, pemberontakan Karto Suwiryo, dan berbagai pendekatan penggunaan kekerasan bersenjata, yang berawal dari perasaan ketidakadilan dalam pengaturan alokasi distribusi hasil-hasil pembangunan. Berebut kesejahteraan. Berebut kemakmuran.

Persoalannya adalah pengelolaan sumber daya alam modern dan perburuan sumber daya alam adalah dua hal yang dapat saling bertolak belakang dan masih mendapat angin segar dalam perspektif bisnis senjata berbalutkan gerakan demokrasi.

Jalan diplomasi dan mengangkat senjata, serta pendekatan model pembangunan berorientasi kesejahteraan sosial merupakan perjalanan panjang, namun mempunyai titik terang sebagaimana tercapainya kesepakatan dalam perjuangan Aceh dan Maluku, namun berada pada jalan yang berbeda dengan Timor Leste.

Keikutsertaan organisasi asing dalam pemasokan senjata dan pelatihan terhadap KKB Papua, sebagaimana perjalanan panjang gerakan separatisme pasca kemerdekaan NKRI, itu perlu dinetralisasikan.

Bagaimana pemerintahan terdahulu dalam membangun kesamaan perjuangan dalam membangun NKRI secara damai dan mereformasi perbedaan sudut pandang pemikiran dan persepsi-persepsi konstruksi yang elegan sangat menentukan pengulangan penghapusan gerakan separatisme.

Kelapangdadaan pemimpin intelektual dalam pengasingan di luar negeri dan perjuangan mengangkat senjata di pedalaman, itu sangat menentukan masa depan berbangsa dan bernegara.

Ya, selama syarat-syarat pengakuan secara de jure dan de facto itu tidak terpenuhi.

Peneliti Indef dan Pengajar Universitas Mercu Buana

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

Suyudi Pede Gusur Puluhan Pati-Pamen Loyalis Listyo

Selasa, 06 Oktober 2026 | 05:09

Ibunda Meninggal Dunia, Ferdy Sambo Tak Hadiri Pemakaman

Senin, 28 September 2026 | 15:41

UPDATE

Subsidi Biaya Haji 2027 jadi Kabar Baik bagi Calon Jemaah

Jumat, 09 Oktober 2026 | 04:30

Hanya PDIP Berani secara Vulgar Menyerang Gibran

Jumat, 09 Oktober 2026 | 04:07

Sangat Aneh Parpol di DPR Tidak Tegas soal Putusan MK terkait Gibran

Jumat, 09 Oktober 2026 | 03:41

Kumpulkan 800 Pati TNI-Polri: Kekuatan Harus Berujung Rasa Aman Rakyat

Jumat, 09 Oktober 2026 | 03:30

Suyudi Bakal Bawa Korps Bhayangkara Makin Profesional

Jumat, 09 Oktober 2026 | 03:10

Komisi I DPR Usul Dua Rekomendasi soal Status Kavling TNI AL Pangkalan Jati

Jumat, 09 Oktober 2026 | 02:46

Soal Putusan MK, Jokowi-Gibran sedang Menuai Hasil

Jumat, 09 Oktober 2026 | 02:01

PPTQ Al-Ghozali Majalengka Pastikan Isu Perundungan Hoaks

Jumat, 09 Oktober 2026 | 01:26

AHDAA Raih Penghargaan Indonesia Halal Awards 2026

Jumat, 09 Oktober 2026 | 01:09

Industri Percetakan Butuh Kolaborasi Lintas Kementerian

Jumat, 09 Oktober 2026 | 00:36

Selengkapnya