Berita

Buka puasa bersama Ilham bintang bersama jemaah Masjid Mujahidin, Jakarta/Ist

Publika

Rezeki Anak Soleh di Masjid Al Mujahidin

SELASA, 11 APRIL 2023 | 08:26 WIB | OLEH: ILHAM BINTANG

BUKA bersama (bukber) kali ini tidak ada yang mengundang. Tidak pula karena inisiatif sendiri. Kebetulan saja. Dalam perjalanan ke dokter gigi di Ciputra Medical Center, Kuningan, adzan Maghrib berkumandang, Senin (10/4). Kendaraan kami lagi stuck atau tidak bergerak di Jalan KH Mas Mansyur, Karet, Jakarta Pusat. Arus lalu lintas sangat padat.
 
Hari Senin, jam pulang kerja, kemacetan di kawasan tersebut memang sudah semacam "tradisi". Arif sopir membawa kami berangkat dari rumah teng pukul 5 sore. Ada janji dengan drg Fifi pukul 18.30.

Istri sudah memperhitungkan adzan Maghrib akan berkumandang di tengah perjalanan. Dia tahu saya pernah berangkat hadiri acara bukber di daerah Kuningan, habis Isya baru tiba. Padahal, berangkat dari rumah pukul 16.30 WIB.
 

 
Maka, dia bekali takjil untuk berbuka puasa. Teh manis panas satu termos kecil: satu kotak kecil kurma Tunisia; lontong dan bakwan kesukaan lengkap dengan sambal kacangnya; dan dua potong bolu marmer kiriman presenter Rahma Sarita semalam. Bekal itu lebih dari cukup.

Istri berpesan, begitu adzan langsung menepi saja untuk batalkan puasa. Masalahnya, petang itu lalu lintas amat padat. Di sisi kanan jalan membentang tembok beton ujung fly over. Celah untuk berhenti pun tidak ada.

Arif tidak melihat ada masjid di dekat situ. Secara sepintas saya melihat atap masjid. Saya buka jendela memastikan penglihatan. Inilah rezeki anak soleh. Benar, pas di sisi kiri, saya melihat jelas masjid kecil itu. Stop, Rif. Saya minta Arif meminggirkan mobil. Pelan-pelan. 
 
Masjid itu bernama Al Mujahidin. Terjepit di antara hutan beton gedung-gedung jangkung kawasan Segitiga Emas Ibukota. Punya halaman parkir tapi hanya untuk 5-6 mobil, dan sudah penuh terisi.
 
Di jalan masuk halamannya ada taksi baru masuk menutup akses. Waduh. Tapi sebentar. Lihatlah, dalam hitungan detik, seperti mendapat aba-aba entah dari mana supirnya terus maju. Atau merasakan kesulitan kami, sehingga ia beringsut maju ke depan, menyisakan tempat parkir untuk kami. Alhamdulillah.

Saya minta Arif turunkan bekal. Di samping kiri masjid ada ruang, di sana telah diisi belasan jemaah sedang menikmati hidangan ala kadarnya, entah siapa yang menjamu. Bekal bawaan Arif digabungkan di situ.

Kami bukber dengan beberapa jemaah yang belakangan saya ketahui kebanyakan supir taksi yang senasib dengan kami. Ada juga yang sudah menjadikan halaman masjid itu pangkalan untuk berhenti setiap kali melewati jalan itu saat dekat adzan Maghrib berkumandang.

Saya menikmati suasana bukber yang luar biasa. Amat menyenangkan membahagiakan. Seakan baru saja keluar dari kesulitan. Entah siapa yang menuntun, dan menggerakkan supir taksi di depan kami tadi mendorong mobilnya lebih ke depan sehingga kami kebagian lahan parkir. "Fabiayyi ala irobbikuma tukadziban" --nikmat apalagi yang kamu mau dustakan?

Selesai menikmati takjil, kami melanjutkan Salat Magrib berjemaah. Masjid itu seluas 200 m2. Penerangannya redup. Seperti telah lama ditinggal jemaahnya yang mungkin karena rumahnya tergusur proyek pelebaran jalan. Hanya satu shaf terisi. Setelah itu perjalanan kami lanjutkan menghadap drg Fifi, tepat waktu.
 
Hari itu 19 Ramadhan. Esok (maksudnya: hari ini) memasuki hari ke 20 yang mengawali 10 hari terakhir bulan puasa yang di dalamnya dijanjikan Lailatul Qadar. Ustaz Arwani Marhum dalam kajian Subuh Minggu (9/4) di Masjid At Tabayyun mencoba mendeskripsikan tentang Lailatul Qadar. Momen buka puasa tadi rasanya saya seperti mendapat Lailatul Qadar seperti dalam deskripsi Ustaz Arwani, hafidz yang pernah memenangkan lomba tilawah di Mekkah.
 
Sederhana saja saya menerjemahkan Lailatul Qadar. Yaitu suasana hati yang nyaman bahagia setiap kali dapat menyelesaikan satu masalah. Namun, saya menyadari itu berkat keterlibatan Allah SWT secara langsung mengurai masalah. Seperti saat bukber di Masjid Al Mujahidin tadi. Saya menganggap itu semacam mendapat Lailatul Qadar.

Subyektif memang. Tapi bukankah Lailatul Qadar memang bukanlah suatu keadaan yang bisa dirasakan secara kolektif, seperti menghadapi hujan. Rasa itu akan berbeda-beda dialami tiap individu. Bayangkan Lailatul Qadar yang asli yang diperoleh dari usaha sungguh-sungguh dengan beriktikaf di masjid 10 malam ramadhan terakhir.

Lailatul Qadar adalah satu malam penting yang terjadi pada bulan ramadhan, yang dalam Al-Qur'an digambarkan sebagai malam yang lebih baik dari seribu bulan. Deskripsi tentang keistimewaan malam ini dapat dijumpai pada Surah Al-Qadar, surat ke-97 dalam Al Quran.
 
Terdapat pendapat yang mengatakan bahwa terjadinya malam Lailatul Qadar itu pada 10 malam terakhir bulan ramadhan, hal ini berdasarkan hadits dari Aisyah yang mengatakan: "Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam beriktikaf di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan dan dia bersabda, yang artinya: "Carilah malam Lailatul Qadar di (malam ganjil) pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan"," (HR: Bukhari 4/225 dan Muslim 1169).
 
Sudah menjadi pengetahuan umum, Lailatul Qadar kemungkinan akan "diwujudkan" oleh Allah pada malam ganjil, tetapi mengingat umat islam memulai awal puasa pada hari atau tanggal yang berbeda, maka umat islam yang menghendaki untuk mendapatkan keutamaan Lailatul Qadar dapat "mencarinya" setiap malam di masjid-masjid.

Penulis adalah Wartawan Senior

Populer

10 Jalan Febrie Adriansyah Menuju Bebas

Minggu, 19 Juli 2026 | 05:24

Selembar Ijazah Keliling Republik

Rabu, 22 Juli 2026 | 12:00

Hotman Paris Harus Minta Maaf

Minggu, 19 Juli 2026 | 17:02

Hotman Paris Tegaskan Tuduhan Keterlibatan Febrie dalam Kasus Asabri Salah Total

Sabtu, 18 Juli 2026 | 02:58

Ahli Waris Laporkan Dugaan Aset Tak Wajar Mantan Pejabat Negara ke KPK

Rabu, 22 Juli 2026 | 16:58

Penetapan Tersangka Tetap Sah Meski Belum Diperiksa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 12:35

KPK Sita Aset Rp22 Miliar Milik Anwar Sadad, Mulai Rumah hingga SPBE

Rabu, 22 Juli 2026 | 20:42

UPDATE

OIKN Siapkan Rangkaian Prosesi Penghormatan dan Pemakaman Troy Pantouw

Minggu, 26 Juli 2026 | 14:25

Tugu Koperasi Tasikmalaya Direvitalisasi Jadi Cagar Budaya Nasional

Minggu, 26 Juli 2026 | 14:18

BMKG Minta Masyarakat Waspadai Gelombang Tinggi di Beberapa Perairan Indonesia

Minggu, 26 Juli 2026 | 14:11

Lesley Simpson Racik Drama Psikologis Bunga di Tepi Jurang

Minggu, 26 Juli 2026 | 14:05

Indonesia Harus Terdepan Gerakkan Dunia Internasional Selamatkan Gaza

Minggu, 26 Juli 2026 | 14:00

SMRC Catat Kepuasan Publik terhadap Prabowo Turun 30 Persen

Minggu, 26 Juli 2026 | 13:58

Mantri BRI Jangkau Masyarakat Pegunungan Toraja Utara Hadirkan Layanan Perbankan

Minggu, 26 Juli 2026 | 13:28

Sudaryono Jangan Sesatkan Publik soal Mitos Telur Penyebab Bisul

Minggu, 26 Juli 2026 | 13:19

KPK Usut Dugaan Suap ke Pejabat Pemkot Bengkulu

Minggu, 26 Juli 2026 | 13:12

Kemenkes Perluas Skrining HIV, Putus Rantai Penularan di Masyarakat

Minggu, 26 Juli 2026 | 12:42

Selengkapnya