Berita

Anwar Hudijono/Ist

Publika

Politik Teplek Koalisi Besar

OLEH: ANWAR HUDIJONO*
KAMIS, 06 APRIL 2023 | 12:17 WIB

SUMPAH, saya sebenarnya ingin puasa menulis politik. Tapi kali ini terpaksa mokel (batal), melihat fenomena KB atau Koalisi Besar, mungkin juga Koalisi Bingung. Saya benar-benar tidak kuat ngempet lagi, seperti sedang kebelet, kok pas pintu toilet terbuka.

Bermula dari kumpulnya lima partai, Golkar, Gerindra, PKB, PPP dan PAN. Mereka sepakat akan membuat KB. Sederet alasan diracik rancak. Yang penting publik yakin. Bisa ngiming-ngiming partai lain untuk gabung.

Taktik ini jitu. Buktinya, PSI langsung kepincut mau gabung. Memang terkesan rai gedek (tidak punya malu), tidak ditawari tapi langsung nyelonong. Seperti kere nemu malem, langsung mau ikut makan.


Dalam khazanah masyarakat kita, koalisi itu mirip-miriplah dengan selamatan. Berkumpul baik-baik untuk bagi-bagi tumpeng. Semua peserta diperlakukan secara adil. Kalau satu duduk di karpet yang lain tidak boleh didudukkan di terpal. Apalagi terpal yang barusan dipakai menjemur gabah, karena bisa gatal-gatal.

Semua mengikuti aturan main. Kapan diujubkan (dibacakan doa), kapan tumpeng diporak (dibagi). Pembagian diatur sebegitu rupa, yang penting semua peserta senang dan kenyang. Tidak ada yang nggrundel.

Nah, hal ini tidak bisa jadi analog KB. Tanpa mengurangi rasa hormat kepada para partai itu, KB itu bisa dianalogikan dengan perkumpulan main teplek. Mereka berkumpul. Kelihatannya fine-fine saja. Senyum-senyum dulu. Duduk dengan tenang. Tapi semua menyimpan niat untuk menang. Untuk mendapat sebanyak-banyaknya dengan tombokan sekecil-kecilnya.

Mau diramesi seperti apapun, tujuan akhir koalisi untuk Pilpres itu mesti menentukan figur calon presiden dan calon wakil presiden. Sementara di KB  ada  tiga partai yang sudah punya Capres sendiri. Golkar punya Airlangga Hartarto. Gerindra Prabowo. PKB Muhaimin Iskandar. Mereka ketua umum partai masing-masing.

PAN dan PPP tidak mencalonkan ketua umumnya. Keduanya mengingsapi eh .. menginsyafi  kalau keberadaannya itu seperti ketimun bungkuk. Dijual sendiri tidak laku, tapi setidaknya ya bisa untuk bonus pembeli terong. Kalau untuk bonus beli celana, pasti ditolak. Masalahnya, apa kaitan ketimun dengan celana.

Dalam KB ini, PAN dan PPP seperti orang nggandol kereta api. Yang penting katut. Tidak apa-apa meski harus duduk di antara dua gerbong kereta. Syukur-syukur nanti kondekturnya kasihan lantas dipersilakan klesetan di dalam gerbang. Syukur-syukur ada yang kasihan lagi kemudian memberi minum atau pisang godok. Hal itu bukan mustahil. Mereka sangat hebat dalam dramaturgi �"kasihan”.

Untuk menang

Dalam dunia permainan teplek, dari luar kelihatan guyub rukun. Ketawa-ketiwi. Tapi arus besar di dalam pikiran adalah bagaimana mengoptimalkan kekuatan, termasuk tipu muslihat untuk menang. Bagaimana memiting tapi lawan (kawan) merasa dirangkul. Bagaimana lawan (kawan) mati tapi ketawa.
 
Di sini pujian bisa berarti racun memabukkan. Di sini selimut bisa berubah jadi tirai penikaman. Di sini jarak antara kawanan dan musuhan menjadi nisbi.

Saya menduga, hal itulah yang mendasari Wakil Ketua Umum PKB, Jazilul Fawaid pagi-pagi sudah warning bahwa membangun KB itu tidak mudah ketika sudah menyangkut Capres dan Cawapres. Fawaid punya panggraita atau feeling (mungkin juga berpengalaman).

Demikian pula PDIP dengan malangkerik berteriak lantang. Mau bergabung kalau Capresnya dari PDIP. Walhasil bisa ditebak, PDIP pasti tidak akan mau bergabung jika hanya untuk mengusung calon di luar partainya. Meskipun Capres itu di-endorse Jokowi.

Lha kok nyimut
kalau PDIP cuma mau dijadikan alat Capres partai lain. Tanpa koalisi pun PDIP sudah bisa nyapres sendiri.

Dalam perkumpulan teplek, banyak orang itu secara kosmik mesti ada yang kalah, ada yang menang dan ada pula yang impas. Tidak ada kok harus menang semua. Kalau mau menang semua, untuk nomboki apa duit gambar Bagong?

Perkumpulan teplek itu biasanya berakhir kalau waktunya habis, atau ada obrakan polisi. Bisa juga bubar sendiri di tengah mainan karena pesertanya saling jotos-jotosan.

Bisa juga KB ini bubar di tengah mainan. Bisa juga berubah jadi perkumpulan selamatan jika tiba-tiba ada (investor) yang memberi tumpeng dengan upo rampe (lauk-pauk) maknyus. Mereka akan tinggalkan teplek dengan ganti ngeroyok tumpeng sebanyak-banyaknya bahkan mberkat seabrek-abreknya.

Astaghfirullah, rabbi a’lam.

*Wartawan senior tinggal di Sidoarjo


Populer

Kematian Penjaga Rumah Febrie Harus Diusut Tuntas

Senin, 27 Juli 2026 | 19:53

Jubir IKN Troy Pantouw Sempat Telepon Keluarga Sehari Sebelum Ditemukan Meninggal

Minggu, 26 Juli 2026 | 20:58

Oknum Brimob Jadi Tersangka, KPK Pastikan Sanksi Pidana hingga Etik Menanti

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:44

15 Jeriken Bensin yang Menenggelamkan Jabatan Ayah

Senin, 27 Juli 2026 | 01:03

Putusan Eksepsi Dokter Tifa Berujung Antiklimaks

Minggu, 02 Agustus 2026 | 05:20

Dana Nasabah Rp2,58 Miliar Raib, BCA Digugat ke PN Jakpus

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:02

Kiprah Yadyn, Jaksa yang Antar Febrie Adriansyah ke KPK

Sabtu, 25 Juli 2026 | 21:55

UPDATE

IKA BEM Nusantara Ajak Elemen Bangsa Dukung Program Ketahanan Pangan

Senin, 03 Agustus 2026 | 01:56

Bergerak Bersama Menuju Sila Kelima Pancasila

Senin, 03 Agustus 2026 | 01:30

TNI Tembus Medan Terjal Salurkan 2 Ton Logistik di Kabupaten Puncak

Senin, 03 Agustus 2026 | 01:09

Buka Turnamen Tenis Beregu

Senin, 03 Agustus 2026 | 00:42

531 Atlet Taekwondo Terbaik Asia Siap Bertarung Demi Kehormatan Negara

Senin, 03 Agustus 2026 | 00:24

Prabowo Harus Rombak Kabinet Buntut Tingkat Kepuasan Publik Melorot

Senin, 03 Agustus 2026 | 00:04

Zanzabella Singgung "Si Ono" dan Rekaman CCTV: Pertengkaran Pasti Ada Sebabnya

Minggu, 02 Agustus 2026 | 23:35

Pelaporan ESG Tahun 2026 Indonesia

Minggu, 02 Agustus 2026 | 23:05

Ustaz Novel: LGBT Bahaya Laten dengan Daya Rusak Luar Biasa

Minggu, 02 Agustus 2026 | 22:39

Tragedi KM Mutiara Sentosa 2: Keluarga Cemas Banyak Penumpang Tak Masuk Manifes

Minggu, 02 Agustus 2026 | 21:53

Selengkapnya