Berita

Ditengahi Tiongkok, Arab Saudi dan Iran sepakat menjalin hubungan diplomatik kembali/Ist

Dahlan Iskan

Beijing Syiah-Sunni

MINGGU, 12 MARET 2023 | 05:19 WIB | OLEH: DAHLAN ISKAN

JUMAT keramat dirayakan di Beijing Jumat lalu. Hari itu Tiongkok berhasil merukunkan kembali Arab Saudi dan Iran.

Dua negara Islam itu pun sepakat menjalin hubungan diplomatik kembali. Pun siap membuka kedutaan masing-masing. Konkret sekali waktunya: paling lama dua bulan ke depan.

Maka berita besar dari Beijing, minggu ini, tidak hanya soal lahirnya Mao Zedong baru di sana. Juga soal berakhirnya ketegangan antara Arab Saudi yang sunni dan Iran yang syiah.


Empat hari lamanya wakil Saudi dan Iran berunding di Beijing. Itu sebagai klimaks dari kunjungan Xi Jinping, Si Mao Zedong baru ke Arab Saudi beberapa bulan lalu. Disusul kunjungan Presiden Iran Ebrahim Raisi ke Beijing belum lama ini.

Maka Tiongkok telah mulai menggeser Amerika Serikat pun di bidang diplomatik. Tiongkok memang sudah lama menjadi tempat curhat Iran. Yakni setelah negara itu dikucilkan Amerika dan Barat. Minyak Iran diam-diam mengalir ke Tiongkok, ketika sulit mendapat pasar internasional.

Negara seperti Indonesia pun takut membeli minyak Iran. Padahal murah sekali. Saya pernah ke Iran menjajaki kemungkinan itu. Pada akhirnya tidak bisa jadi kenyataan.

Indonesia tidak mau ambil risiko.

Tiongkok bukan tidak punya risiko di Iran. Anda sudah tahu: Putri Mahkota Huawei sampai disekap di Kanada dua tahun: Meng Wenzhou. Menderita sekali pun ketika disekap di rumah mewah.

Risiko lain sudah terjadi: Huawei gagal lekas-lekas menjadi nomor satu di dunia.

Tapi Tiongkok memang kuat. Termasuk nyalinya. Mendapat sanksi Amerika begitu bertubi-tubi tetap bisa tegak melebihi subuh. Misalkan itu menimpa Indonesia siapa bisa berani menanggung akibatnya.

Kesepakatan rukun kembali dua negara Timteng itu sekaligus menandakan Arab Saudi tidak lagi sepenuhnya menjadi satelit Amerika.

Di Beijing mereka sampai memutuskan nama duta besar masing-masing. Nama duta besar sudah harus siap begitu Lebaran selesai.

Setelah itu Xi Jinping akan berkunjung ke Iran. Saat ke Beijing, Ebrahim memang mengundang Presiden Xi. Dan undangan itu langsung diterima dan disanggupi.

Bisa jadi Iran akan menjadi negara pertama yang dikunjungi Xi Jinping setelah berhasil mendapatkan periode ketiga jabatannya. Tiongkok bukan negara yang punya keterikatan sopan santun diplomatik. Ia tidak harus mengutamakan berkunjung ke negara mana dulu sebelum ke Iran.

Beda dengan pemimpin baru Jepang. Ia belum berani ke negara lain sebelum ke Amerika. Pun Korea Selatan. Dan banyak negara lain.

Afrika kini juga hampir total beralih pandang ke Tiongkok. Bahkan dengan narasi emosional: Barat datang ke Afrika untuk menindas dan memiskinkannya, Tiongkok datang ke Afrika untuk membangunnya.

Tentu juga akan lebih banyak lagi proyek Tiongkok di Iran. Lewat berbagai cara. Agar bisa berkelit dari sanksi Amerika. Atau mungkin justru kian terang-terangan menyiasati sanksi itu.

Langkah kuda Tiongkok ini sangat bertepatan dengan langkah pion  Amerika. Minggu ini Amerika menerima kedatangan Presiden Taiwan Tsai Ing-wen. Ini akan memicu ketegangan baru antara Tiongkok dan Amerika. Padahal ketegangan lama belum sempat reda.

Alasannya memang masih klasik. Ing-wen hanya transit di Amerika. Yakni dalam perjalanan yang pesawatnya harus isi BBM di sana. Itu pun tidak di ibu kota Washington DC. Kalau dulu mampir California kali ini mungkin di Tennessee. Yang akan menemui Ing-wen pun bukan pejabat tinggi eksekutif, tapi ketua DPR baru Amerika. Seolah ketua dari Republik ini tidak mau kalah dengan saat ketua masih dijabat Demokrat: Nancy Pelosi. Yang bikin heboh dengan cara mendarat tengah gelap malam di Taiwan tahun lalu.

"Ternyata dialog dan diplomasi bisa menyelesaikan ketegangan antara Iran dan Saudi. Kita harus percaya pada kekuatan dialog dan diplomasi. Bukan dengan ancaman dan perang," tulis media di Beijing.

Pendapat serupa juga diucapkan Wang Yi, pejabat tinggi Tiongkok yang mengomandani kerukunan kembali Iran-Saudi.

Kata-kata itu seperti sengaja dipilih untuk menyindir Amerika yang tidak mau mendialogkan ketegangan. "Dialog yang baik", tulis media itu, "adalah dialog yang dalam posisi sejajar". Bukan yang satu menempatkan diri lebih tinggi. Itu bukan dialog. Itu menekan.

Iran-Saudi memang saling memutus hubungan akibat ketegangan 7 tahun lalu. Hari itu, di awal tahun 2016, Saudi mengeksekusi ulama besar aliran syiah: Nimr Baqir Al Nimr.

Kelas keulamaan Nimr sudah di level ayatullah. Ia juga jadi pujaan anak muda wilayah timur Saudi Arabia. Pengaruhnya sampai Bahrain, Qatar dan Abu Dhabi.

Ulama itu kelahiran Al Awamiyah, bagian timur Arab Saudi. Usianya 64 tahun. Pendidikannya di Iran dan Yaman. Ia memang gemar mengkritik Saudi Arabia. Dan penguasanya. "Harus ada Pemilu di sini," ujarnya di berbagai pidatonya.

Ayatullah Nimr juga dituduh di belakang maraknya demonstrasi anti pemerintah di wilayah timur Saudi. Gerakan Nimr ini marak bersamaan dengan munculnya gerakan serupa di berbagai negara Arab. Yakni di tahun 2010-2012.

Pada saat itu Nimr tertembak kakinya. Ia pun ditangkap.

Dua sepupunya juga tewas. Salah satu sepupu lainnya ditangkap. Masih 17 tahun. Anak ini juga dijatuhi hukuman mati, belakangan dibebaskan.

Istri Nimr sakit keras. Dibawa ke New York. Meninggal di sana saat Nimr masih di tahanan.

Tuduhan untuk Nimr bertambah: memperjuangkan kemerdekaan wilayah timur Saudi. Ia dianggap separatis. Lalu ditambah lagi tuduhan lain: mengundang intervensi asing.

Nimr sendiri di tahun 2014 dijatuhi hukuman mati. Ia dieksekusi di tahun 2016 bersama 47 orang lainnya. Iran marah besar. Hubungan diplomatik diputus. Kedubes Arab Saudi di Tehran didemo. Dirusak.

Kepopuleran Nimr saat itu sudah seperti Nasrullah, pemimpin Hisbullah, di Lebanon. Kata-katanya adalah fatwa yang diikuti umatnya.

Setelah ketegangan 2016 itu banyak terjadi perubahan. Arab kian terbuka. Iran ganti presiden. Tiongkok bersitegang dengan Amerika. Xi Jinping jadi Mao baru.

Dan si Pipi tembem sudah kembali ke Makkah.

Populer

Jumlah Personel TNI Tidak Masuk Akal

Sabtu, 30 Mei 2026 | 03:36

Penutupan Alfamart dan Indomaret Jangan Salahkan KDKMP

Kamis, 28 Mei 2026 | 06:00

Raksasa Telekomunikasi Ini Bakal Dibubarkan Danantara

Senin, 25 Mei 2026 | 08:33

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Golkar: Jokowi Ikut Tren MBG karena Dekat dengan Dunia Warganet

Senin, 01 Juni 2026 | 13:12

Jawapos TV Tumbang, Televisi dan Radio Daerah Berguguran

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:24

UPDATE

Nicko Widjaja: Investasi ke TaniHub Bukan Kehendak Pribadi

Kamis, 04 Juni 2026 | 22:07

Bos BEI Minta Investor Tidak Panik saat IHSG Anjlok

Kamis, 04 Juni 2026 | 21:57

Di Tengah Gejolak Global, Investor AS Tetap Lirik Peluang di Bali

Kamis, 04 Juni 2026 | 21:56

Pimpinan Baru BGN Fokus Optimalkan MBG ke Daerah 3T

Kamis, 04 Juni 2026 | 21:36

Istana Beri Sinyal Said Iqbal Bakal Masuk Kabinet

Kamis, 04 Juni 2026 | 21:29

Kejagung: Dapur MBG Afiliasi Dadan Cs Tetap Jalan

Kamis, 04 Juni 2026 | 21:22

Legislator PDIP Dorong Kejelasan Skala Prioritas Kurikulum Nasional

Kamis, 04 Juni 2026 | 21:19

Sinergi Polda Sumsel, PTPN IV Optimalkan Sistem Pengamanan Aset Perkebunan

Kamis, 04 Juni 2026 | 21:19

Kepala dan Dua Wakil BGN Baru Dilantik Senin Besok

Kamis, 04 Juni 2026 | 21:17

Sesuai Survei, Kinerja Pertamina Berhasil Jaga Stabilitas Ekonomi Nasional

Kamis, 04 Juni 2026 | 21:13

Selengkapnya